Pengaruh LAtihan fisik dengan pengontrolan prilaku kekerasan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Teknik Latihan Fisik
1.  Pengertian
Latihan Fisik adalah Hakekatnya  gerak  (movement)  yang  diamati  sebagai  suatu  perilaku  sistem  tubuh   lebih  merupakan  ciri  kehidupan  yang  meliputi  unsur  dasar  fisik  dan  psikis,  dan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup manusia sangat berhubungan dengan   aktivitas (Shadiqin, 2010).
Aktifitas fisik atau latihan fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan enargi (Siregar, 2007).
Aktifitas fisik atau latihan fisik adalah kerja fisik yang sistem lokomotor tubuh yang ditunjukan dalam aktifitas hidup sehari-hari, jika suatu aktifitas fisik memiliki tujuan tertentu dan dilakukan dengan aturan-aturan tertentu secara sistematis seperti adanya aturan waktu, target denyut nadi, jumlah pengulangan gerakan gerakan dan lain-lain disebut latihan (Harahap, 2008).




2.  Prinsip-prinsip Latihan
Dalam jurnal berjudul system energy dan latihan fisik tahun yang dikemukakan oleh shadiqin (2010) :
Secara mendasar terdapat empat tahapan aktivitas bagi setiap individu yang  akan  melakukan  latihan  fisik,  yaitu  latihan  peregangan  (stretching),  latihan pemanasan  (warm-up), pelaksanaan latihan (latihan inti) dan latihan yang ditujukan  untuk pendinginan atau pemulihan.  menjelaskan prinsip dasar dalam latihan sebagai berikut.
a.  Prinsip beban lebih (Overload principles)
Dosis latihan yang diberikan harus melebihi dosis awal pada setiap program siklus mikro.  Dengan  kata  lain,  setiap  hari  latihan  terdapat  seri  latihan  dengan  beban  melebihi  kapasitas  ambang  (threshold  capacity),  setelah  itu  beban  diturunkan  untuk  menghadapi  beban  yang  lebih  tinggi  pada  hari  berikutnya.  Hari  terakhir  pada  siklus  mikro,  beban  latihan  diturunkan  lebih  rendah  dibanding  hari  sebelumnya.  Jika  siklus  mikro  ditetapkan  6  hari,  maka  hari  ke  5  terdapat  pemuncakan  dan  hari  ke  6  merupakan  penurunan  beban  lebih  rendah  dibanding  seluruh  seri  latihan  pada  hari  ke  5.  Makna  penting  yang  harus  disimak,  bahwa pada  setiap  siklus  mirko  terdapat  seri  latihan  dengan  beban  meningkat  dan  melebihi  threshold capasity yang dicapai oleh setiap individu.


b.  Prinsip individual (The principles of individuality)
Aktivitas  fisik  yang  akan  diterapkan  harus  mempertimbangkan  kondisi  dan  kemampuan  tubuh,  baik  di  tingkat  organ  maupun  tingkat  seluler  serta  tidak mengabaikan faktor kesenangan. Hakekatnya kemampuan individu itu tidak sama.  Dengan  demikian  penerapan  prinsip  ini  akan  menghasilkan  adaptasi  individual  yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik setiap orang (misal: jenis serabut otot yang dimiliki).
c.  Prinsip kekhususan (The principles of specificity)
Dosis  latihan  fisik  harus  diberikan  sesuai  dengan  tujuan  pengkondisian  tubuh  sesuai  dengan  karakteristik  cabang  olahraga.  Misalnya,  pengkondisian  untuk  cabang  olahraga  renang,  berbeda  dengan  cabang  olahraga  loncat  indah.  Bahkan  pada  olahraga  renang  terdapat  jenis  latihan  khusus  untuk  para  perenang  yang  disiapkan pada jarak pendek dan perenang yang hanya dipersipkan untuk renang  jarak jauh. Spesifisitas tersebut dapat meliputi  tujuan awal pengkondisian, faktor genetik, jenis latihan, dan kondisi emosi individu yang akan dilatih.
d.  Prinsip latihan beraturan (The principles of arrangement of exercises)
Penerapan  dosis  latihan  fisik  harus  disesuaikan  dengan  tujuan  dalam  rencana  program  yang  telah  dibuat  (the  annual  plan).  Tujuan   tersebut  terdiri  dari;  Pertama,  preparations  yang  meliputi  general  preparation  dan  specific  preparation; Kedua, kompetisi yang meliputi persiapan kompetisi, dan kompetisi  puncak  (main  competition);  Ketiga,  transisi,  yang  berarti  upaya  pemeliharaan  kondisi yang telah dicapai sebelumnya.
e.   Prinsip pulih asal (The principles of recovery)
Setelah  penerapan  dosis  latihan  fisik,  individu   yang  mencapai  tingkat  tidak  melebihi kapasitas ambang kemampuannya  (threshold capacity),  maka pulih asal  digunakan  untuk  mengembalikan  seluruh  fungsi  sistem  tubuh.  Menurut  Rushall, fungsi ini meliputi fungsi fisiologis dan psikologis. Oleh karena kelelahan  juga melibatkan kedua fungsi tersebut, maka pemberian waktu istirahat  (recovery) ditujukan untuk mengembalikan fungsi yang lebih dominan.
Kelelahan fisik dapat  diamati  secara  psikis  melalui  perilaku  individu  saat  latihan.  Indikator  perilaku  tersebut, tercermin pada keadaan emosi  (mood)  maupun sikap  (attitude)  meliputi timbulnya  keraguan  untuk  melakukan  aktivitas  pemanasan,  tetap  duduk  dan  jarang  tersenyum  pada  saat  sesudah  maupun  ketika  akan  diberikan  stresor  berikutnya. Oleh karena itu perlu diberikan fase istirahat agar dosis latihan fisik  yang diprogram dapat berlanjut sampai selesai tanpa keluhan yang berarti.




3.  Psikoterapi teknik latihan fisik dengan pukul bantal
Pada saat seseorang sedang melakukan latihan fisik atau berolahraga tubuh secara otomatis dapat meningkatkan kadar serotonin di dalam otak.  Serotonin atau 5-hydroxytryptamine adalah hormon yang berfungsi mengirimkan sinyal antar sel saraf. Perubahan kadar serotonin di otak dapat mengubah mood seseorang. Perlahan-lahan tubuh akan tenang dan keinginan untuk marah pun berkurang. (Guyton yang dikutip  liza, 2010).
Menurut Nasir dkk, (2011) Serotonin merupakan suatu neotransmiter yang hanya ditemukan diotak. Sebagian besar berfungsi sebagai inhibisi dan berperan penting dalam menimbulkan gangguan ansietas dan mood, serta skizofrenia. Serotonin juga terlibat dalam pengontrolan dalam asupan makanan, tidur dan terjaga, pengaturan suhu tubuh, pengontrolan nyeri, perilaku seksual, serta pengaturan nyeri. Selain serotonin, norepinefrin juga merupakan neurotransmitter yang dominan pada system saraf, terutama terdapat dibatang otak dan berperan dalam perubahan perhatian, belajar, memori, tidur dan terjaga serta pengaturan mood.
Sistem  norepinefrn  dan  sistem  serotonin   normalnya   menimbulkan  dorongan  bagi sistem   limbik   untuk   meningkatkan   perasaan   seseorang   terhadap   rasa   nyaman,  menciptakan   rasa   bahagia,   rasa   puas,   nafsu   makan   yang   baik,   dorongan   seksual   yang sesuai,   dan   keseimbangan   psikomotor,   tapi   bila   terlalu   banyak   akan menyebabkan serangan mania. Yang mendukung konsep ini adalah kenyataan bahwa pusat-pusat reward dan   punishment   di   otak   pada   hipotalamus   dan   daerah   sekitarnya   menerima   sejumlah besar ujung-ujung saraf dari sistemnorepinefrindan serotonin (Liza, 2010).
B.  Skizofrenia
1.  Pengertian
Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan prilaku psikotik, pemikiran kongkret dan kasulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2007).
Skizoprenia adalah penyakit neurobiologis yang memengaruhi persepsi klien, cara berfikir, bahasa, emosi, dan prilaku sosialnya (Yosep 2011).
Skizoprenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni ( keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama waham dan halusinasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Direja,2011).
2.  Jenis Skizoprenia
Skizofrenia terbagi beberapa jenis yaitu (Ade Herman, 2011):
a. Skizoprenia simplek : dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
b. Skizoprenia hebefrenik : gejala utama gangguan proses pikir kemauan dan depersonalisasi.
c. Skizoprenia paranoid dengan gejala utama kecurigaan yanng ekstrim disertai waham kejar atau kebesaran.
d. lir skizoprenia adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan perubahan kesadaran mungkin berkabut.
e. Skizoprenia psiko-afektif yaitu adanya gejala utama skizoprenia yang menonjol dengan disertai gajala depresi atau mania.
f. Skizoprenia residual adalah skizoprenia dengan gejala primernya dan muncul setelah beberapa kali serangan skizoprenia.
3.  Faktor penyebab Skizoprenia
 Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (Etiologi) yang pasti mengapa seseorang menderita skizoprenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizoprenia menurut penelitian muktahir antara lain (Yosep, 2011) :
a.             Faktor genetik
Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang menunjukan bahwa kembar identik berisiko mengalami gangguan ini sebesar 50%, sedangkan kembar fraternal berisiko hanya 15%. Hal ini mengindikasikan bahwa skizofrenia sedikit diturunkan.



b.             Virus
Para peneliti memfokuskan infeksi pada ibu hamil sebagai kemungkinan penyebab awal skizofrenia. Epidemik flu kemudian diikuti dengan peningkatan kejadian skizofrenia.
c.             Auto imun
Dimana sistem kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terserang  virus dan penyakit dan mengakibat fungsi otak menurun juga.
d.            Malnutrisi
Dimana asupan nutrisi tidak terpenuhi sehingga otak mengalami penurunan oksigen dan penurunan volume otak sehingga otak mengalami atrofi otak dan pembesaran ventrikel di otak. Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena  kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin, dan kelainan hormonal.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizoprenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena  kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksi, dan kelainan hormonal.



4. Patopsikologi Skizoprenia
Gejala mulai timbul biasanya pada usia remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain (Yosep, 2011).
A.  Fase prodomal.
       1. Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
       2. Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikir dan persepsi.
B.         Fase Aktif.
       1. Berlangsung kurang lebih satu bulan  
       2.  Gangguan dapat berupa gejala psikotik, halusinasi, delusi,  disorganisasi proses pikir, gangguan bicara, gangguan prilaku, disertai gangguan neuro kimiawi
C.   Fase Residual.
Klien minimal mengalami 2 gejala, gangguan afektif dan gangguan peran, serangan biasanya berulang.

5. Gejala skizoprenia
     Adapun Gejala skizoprenia menurut Yosep, (2011) terbagi atas :
A.       Gejala Positif
                   Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterprestasikan dan merespon pesan atau rangsangan yang datang. Klien skizoprenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Gejala yang biasa yang timbul, yaitu klien merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.
                   Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterprestasikan sesuatu yang kadang berlawanan dangan kenyataan. Misalnya, pada penderita skizoprenia, lampu trafik di jalan raya yang berwarana merah-kuning-hijau, dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizoprenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamat-amati, diintai, atau hendak diserang.
                   Semua itu membuat penderita skizoprenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebagainya.
B.          Gejala Negatif.
     Klien skizoprenia kehilangan motivasi dan apatis berat kehilangan enegi dan minat dalam hidup yang membuat klien menjadi orang yang malas. Kerena klien skizoprenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi klien skizoprenia menjadi datar. Klien skizoprenia tidak memiliki ekspresi baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup klien skizoprenia. Mereka tidak memrasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, disamping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien skizoprenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian. Dalam beberapa kasus, skizoprenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun, tetapi serangan banyak terjadi pada usia 40 ke atas. Skizoprenia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi. Diperkirakan penderita skizoprenia sebanyak 1% dari jumlah manusia yang ada di bumi.




C.  Perilaku Kekerasan
  1.  Pengertian
Kemarahan adalah suatu perasaan atu emosi yang timbul sebagai reaksi terhadap kecemasan yang meningkat dan dirasakkan sebagai ancaman (Riyadi dkk, 2009). Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai secara fisik maupun psikologis, berdasakan definisi tersebut maka prilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Damayanti dkk, 2012).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, sering juga disebut gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep, 2011).
Perilaku kekerasan adalah Suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol (Kusumawati, 2012).





2.  Rentan Respon Marah
            Perilaku kekerasan merupakan setatus rentang emosi dan ungkapkan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Kemarahan tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu, rentan respon kemarahan kemarahan individu dimulai dari respon normal ( asertif ) sampai pada respon tidak normal (maladatif), dapat dilihat dibawah ini :

Adatif                                                                                                 Maladatif

Asertif             Frustasi                        Pasif                  Agresif             Amuk/PK
 


               
Sumber            : Yosep (2011)
Gambar 1        : Rentan Respon Marah
                    



            Keterangan  (Direja,2011):
a. Asertif ( Peryataan )
Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenagan
b. frustasi
Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternatif


c. Pasif
suatu keadaan dimana Individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya
d. Agresif
Perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk menuntut tetapi masih terkontrol
e. Kekerasan
perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol

Dalam setiap orang terdapat kapasitas untuk berperilaku asertif, fasif dan agresif atau prilaku kekerasan,  dalam mengekpresikan marah dengan perilaku konstruktif, menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang  lain, akan memebrikan perasaan lega, menurunkan ketegangan sehingga perasaan arah dapat teratasi apabila perasaan marah diekpresikan dengan  perilaku kekerasan biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat.
Perilaku yang tidak asertif seperti menekan perasaan marah dilakukan individu seperti berpura-pura tidak marah atau melarikan diri dari perasaan marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap. Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama suatu saat akan menimbulkan perasaan destruktif yang ditujukan kepada diri sendiri.


Tabel 1. Perbandingan Perilaku Asertif, Pasif dan Agresif

Asertif
Pasif
Agresif
Isi
Posistif, menewarkan diri
Negatif, merendahkan diri
Menyombongkan diri, merandahkan orang lain
Tekanan Suara
Sedang
Cepat, Lambat, Mengeluh
Keras, Ngotot
Posisi Badan
Tegap dan santai
Menundukan kepala
Kaku condong kedepan
Jarak
Mempertahankan jarak yang nyaman
Menjaga jarak dengan sikap acuh/ mengabaikan
Siap dengan jarak akan menyerang orang lain
Penampilan
Sikap tenang
Loyo, tidak dapat tenang
Mengancam, posisi menyerang
Kontak mata
Mempertahankan kontak mata sesuai dengan hubungan yang berlangsung
Sedikit/ tidak sama sekali
Mata melotot dan dipertahankan
                                   
Sumber : Dermawan dkk, (2013)

3. Etiologi
A. Faktor Predisposisi
                 Faktor predisposisi klien dengan perilaku kekerasan adalah : Yosep (2011) adalah
1) Teori Biologis
a). Neurologik Faktor
Beragam komponen dari system syaraf seperti sinap, neurotransmitter, dendrit, akson terminalis mempunyai peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang akan mempengaruhi sikap agresif. System limbic sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya prilaku bermusuhan dan respon agresif.  
b). Genetik faktor
Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi prilaku agresif, didalam gen manusia terdapat dormant (potensi) agresif yang sedang tidur akan bangun jika terstimulasi oleh factor ekternal. Menurut penelitian genetik tipe karyotype XYY, pada umumnya dimiliki oleh penghuni perilaku tindak criminal serta orang-orang yang tersangkut hokum akibat prilaku agresif.


c). Cycardian Rhytm (Irama sirkardian tubuh).
Memegang peranan pada individu. Menurut penelitian pada jam-jam tertentu manusia mengalami peningkatan cortisol terutama pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang berakhirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan jam 13. Pada jam tertentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap agresif.
d). Biovhemistry factor (faktor  biokimia tubuh )
Seperti neurotransmitter diotak ( epineprin, norepineprin, dopamine, asetilkolin, dan serotonin) sangat berperan dalam penyampaian informasi melalui system persyarafan dalam tubuh, adanya stimulus dari luar tubuh yang dianggap mengancam atau membahanyakan akan dihantakan melalui impuls neurotransmitter ke otak dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon androgen dan norepinephrin serta penurunan serotonin dan GABA pada cairan cerebrospinal veterbra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku asertif.
e). Brain area disorder, gangguan pada system limbic dan lobus temporal, sindrom otak organik, tumor otak, penyakit ensepalitis, epilepsy ditemukan sangat berpengaruh terhadap prilaku agresif dan tindak kekerasan.


2). Teori Psikotik
 1). Teori Psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang seseorang. Teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana anak tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai kompensasi adanya ketidak percayaan pada lingkungannya.
 2). Imitation, modeling, and information processing theory
Menurut teory ini perilaku kekerasan bias berkembang dalam lingkunga yang menolelir kekerasan, adanya contoh, model dan perilaku yang ditiru dari media tau lingkungan sekitar yang memungkinkan individu meniru perilaku tersebut.
3). Learning theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan terdekatnya, ia mengamati bagaimana respon ayah saat menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respon ibu saat marah. Ia juga belajar bahwa dengan agresivitas lingkungan sekitar menjadi perduli, bertanya, menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya eksis dan patut untuk diperhitungkan.
b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan :
1). Ekpresi diri, ingin menunjukan eksistensi diri atau symbol solidarita sseperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
2). Ekpresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosia ekonomi
3). Kesulitan dalam mengkonsumsikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cendrung melakukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik
4). Ketidakpastian seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya menempatkan dirinya sebagai seorang dewasa, adanya penolakan keluarga terhadap klien.
5). Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalah gunaan obat dan alkohol dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rada frustasi
6). Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekarjaan, perubahan tahap perkembangan atau perubahan tahap perkembangan keluarga, dan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
7). Adanya kekerasan fisik baik sebagai pelaku, korban maupun saksi, klien pernah mengalami kekerasan verbal baik sebagai pelaku, korban maupun saksi, bahkan pernah atau tidaknya mengalami tindakan kriminal.
4. Pohon Masalah
Resiko Tinggi Mencidrai diri orang lain
Prilaku Kekerasan
Gangguan Harga diri kronis
Berduka disfungsional
Isolasi sosial
Halusinasi
Inefektif Proses terapi
Koping keluarga tidak efektif
Sumber : Yosep (2011)
Gambar 2 : Pohon Masalah
 









                                                        
5.  Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditetapkan sesuai dengan data yang didapat, walaupun saat ini tidak melakukan perilaku kekerasan tetapi pernah melakukan atau mempunyai riwayat perilaku kekerasan dan belum  mempunyai kemampuan mencegah/mengotrol perilaku kekerasan
Masalah keperawatan yang mungkin munculuntuk masalah perilaku kekerasan menurut Yosep (2011) yaitu

a.          Perilaku Kekerasan
b.         Resiko mencidrai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
c.          Perubahan persepsi sendori : halusinasi
d.         Harga diri rendah kronis
e.          Isolasi sosial
f.          Berduka disfungsional
g.         Inefektif proses terapi
h.         Koping keluarga inefektif

6.  Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan oleh perawat sebagai berikut menurut Yosep (2011) yaitu
a.         Fisik
Adapun tanda dan gejala yang ditemukan pada fisik pasien yang mengalami perilaku kekerasan : menunjukan ketegangan wajah dan anggota gerak seperti Muka kemerah, Mata melotot, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah dan tegang, postur tubuh kaku, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, dan berjalan mondar-mandir.
b.        Verbal
Tanda dan gejala yang ditemuakan pada verbal pasien perilaku kekerasan adalah berbicara atau mengucapkan kata-kata kasar, klien menghina orang lain, klien berkata atau memerintah dengan sangat keras, klien berkata kasar dengan orang lain untuk melampiaskan kemarahannya, suara tinggi membentak atau berteriak, mengancam secara fisik atau verbal, mengeluarkan kata-kata kotor, suara keras, ketus.
c.         Perilaku
Melempar atau memukul orang lain atau benda disekitarnya, menyerang orang lain, melukai diri sendiri dan orang lain, merusak lingkungan, amuk/ agresif, klien tidak mampu duduk tenang, berinterkasi dengan jarak yang sangat dekat < 60 cm, jika kesal klien merusak barang.
d.        Emosi
Emosi yang ditemukan pada pasien perilaku kekerasan adalah tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tak bedaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut, kliean tidak bercerita dengan orang lain jika ada masalah.
e.         Intelektual
 Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan sarkasme


f.         Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengeritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.
g.        Sosial
Klien berfikir orang lain memusuinya, klien berfikir orang lain menyebalkan, Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindirian, klien mengucapkan kata-kata kasar, klienmenghina orang lain, klien berkata atau memerintahkan dengan sangat keras, kliean mengancam secara verbal pada orang lain, klien mengancam cerbal marusak barang (lingkungan).
h.        Perhatian
       Bolos, mencuri, melarikan diri, dan penyimpangan seksual.

7.  Sumber koping
Menurut stuart dan laraia seperti yang dikutip oleh Damayanti dkk (2012), sumber koping dapat berupa aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan, teknik defensif, dukungan sosial, dan motivasi. Hubungan antara individu, keluaraga, kelompok dan masyarakat sangat berperan penting pada saat ini. Sumber koping lainnya termaksud kesehatan dan energi dukungan spiritual, keyakinan positif, keterampilan, menyelesaikan masalah dan sosial, sumber daya sosial dan material dan kesejahteraan fisik.
Keyakinan spiritualdan melihat diri positif dapat berfungsi sebagai dasar harapan dan dapat mempertahankan usaha seseorang mengatasi hal yang paling buruk, keterampilan pemecahan masalah termaksud kemampuan untuk mencari informasi, mengidentifikasi masalah, menimbang alternatif, dan melaksanakan rencana tindakan. Keterampilan sosial memfasilitasi penyelesaian masalah yang melibatkan orang lain, meningkatkan kemungkinan mendapatkan kerja sama dan dukungan dari orang lain dan memeberikan kontrol sosial individu yang lebih besar.
Sumber koping sangat meningkatkan pilihan seseorang mengatasi dihampir semua situasi stres, pengetahuan dan kecerdasan yang lain dalam menghadapi sumberdaya yang memungkinkan orang utuk melihat cara yang berbeda dalam menghadapi stres, akhirnya sumber koping juga termaksud dalam kekuatan ego, untuk mengidentifikasi jaringan sosial, stabilitas budaya, orientasi pencegahan kesehatan dan konstitusional.  
8.  Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan pada klien marah untuk melindungi diri menurut damayanti dkk, (2012) adalah
a.       Sublimasi, yaitu menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyaluran secara normal.
b.      Proyeksi, yaitu meyakahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.
c.       Represi, yaitu mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk kealam sadar.
d.      Reaksi formasi, mencegah keinginan yang berbahaya bila diekpresikan dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan.

9.  Penetalaksanaan Pasien dengan Prilaku kekerasan
a. Farmakologis  menurut Yosep, (2011).
1.    Chlorpromazine (CPZ)
Indikasinya untuk sindroma psikosis yaitu berat dalam kemampuan memiliki realitas dan kesadaran diri terganggu. Hendaknya berat dalam fungsi mental, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali. Tidak mampu bekerja dalam kegiatan rutin. 
a.             Mekanisme Kerja
Memblokade doparnine pada reseptur pasca sinap diotak khususnya sistem ekstra piramidal.
b.             Efek samping
Sedasi dan gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik mulut kering, kesulitan. dalam miksi dan diksi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan darah okuler meninggi dan gangguan irama jantung
c.       Kontraindikasi
Penyakit hati, eplepsi, kelainan jantung, ketergantungan obat, penyakit sistem saraf dan gangguan kesadaran.

2.    Halloperidol (HDL)
a.    Indikasi
Berdaya tarik dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari ‑ hari.
b.    Mekanisme kerja
Obat antipsikosis dalam kemampuan memblokade dopamine pada reseptor pasca sinoptik neuro di otak khususnya sistem limbik dalam sistem eksternal piramidal.
c.    Efek samping
Terjadi gangguan otonomik (hipertensi, antikolinergik parasimpatik, mulut kering , kesulitan dalam miksi dan diksi, hidung tersumbat, mata rabun, tekanan intra okuler meninggi dan gangguan irama jantung.





3.    Trihexyphemidil (TBP)
a.    Indikasi
Segala jenis penyakit Parkinson termasuk pada pasca ensepalitis dan idiopatik, sindrom parkinson akibat obat misalnya reserppine dan renotmnzine.
b.    Mekanisme kerja
Sinergis dengan kendine obat depresan dan anti kolinergik lainnya.
c.    Efek samping
Mulut kering, penglihatan kabur, mual muntah, bingung, konstipasi, agitasi, tachicardi, dilatasi ginjal dan retensi urin
d.   Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap tryhexsiperidyl, glukoma, sudut sempit, psikkosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostat dan obstruksi saluran pencemaan

  b. Terapi Okupasi
1). Pengertian
Suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah ditentukan.
2). Tujuan terapi okupasi
Adapun tujuan dari terapi okupasi adalah sebagai berikut :
a). Meningkatkan kemampuan dan mempermudah mempelajari keahlian yang dibutuhkan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan.
b).  Meningkatkan produktifitas, memperbaiki abnormalitas dan memelihara kesehatan.
3).  Jenis aktivitas
Adapun janis aktivitas dari terapi okupasi adalah sebagai berikut :
a). Latihan gerak badan
b). Olahraga
c). Permainan
d). Kerajinan tangan
e). Kebersihan dan Kerapian
f). Pekerjaan sehari-hari
g). Kesenian
4). Karakteristik aktivitas
Adapun karakteristik aktifitas dari terapi okupasi adalah sebagai berikut :
a). Kagiatan harus bertujuan terapi
b). Mampunyai arti bagi klien
c). Kelian mengerti tujuan mengerjakannya
d). Melibatan klien secara aktif
e). Dapat mecegah beratnya kecacatan
f). Mendorong klien untuk lebih giat berlatih
g). Dapat meyalurkan bakat dan minat
h). Dapat dimodifikasi untuk penyesuaian kemampuan.

c. Terapi keluarga
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaa klien, umumnya keluarga meminta bantua tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi untuk merawatnya. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus kepada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan klien tetapi bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi kesehatan keluarga tersebut (Yosep, 2011).
1). Tahapan dalam terapi keluarga
Peran dan fungsi perawat tergantung pada pendekatan terapi seperti dinyatakan pada beberapa model terapi. Aspek umum dan proses terapi meliputi :
a). Permulaan hubungan
b). Pengkajian dan perencanaan
c). Implementasi dan tahap kerja
d). Evaluasi dan terminasi
perawatan yang disiapkan sebagai anggota tim yang melaksanakan intervensi keluarga atau melaksanakan psikoedukasi bekerja dibawah pengawasan dan petunjuk dari perawat spesialis klinik psikiatrik atau spesialis kesehatan mental lainnya
2). Peran perawat dalam terapi keluarga
a). Mendidik kembali dan mengoriantasi kembali seluruh anggota keluarga
b). Memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk mecapai tujuan dan usaha untk berubah
c). Mengkoordinasi dan mengintegrasi sumber pelayanan kesehatan
d). Memeberi pelayanan prevensi primer, sekunder, dan tersier melalui penyuluhan perawatan dirumah, pendidikan dan sebagainya.
d. Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan selaku pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau arahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang terlatih (Yosep, 2011).
1). Pelaksanaan terapis kelompok
Peran serta anggota kelompok terutama diwujudkan dalam bentuk
a.       Perkenalan : masing-masing  anggota kelompok memperkenalkan diri

b.      pembentukkan agenda
c.       konfidensitas : terapis memberikan informasi bahwa mesing-masing anggota secara bebas mengajukan masalahnya.
d.      Menggali ide-ide dan peran yang muncul dalam kelompok
e.       Tahap transisi : dalam hal ini dibutuhkan keterampilan therapis dalam kepekaan waktu, melihat perilaku anggota dan mengenal suasana emosi didalam kelompok.
2). Peran perawat dalam terapi kelompok
a.       Bertindak sebagai moderator atau pengawas diskusi kelompok
b.      mengevaluasi diskusi kelompok untuk menembah pengalaman theraphy kelompok
c.       mengadakan pendekatan pada kelompok secara asertif
d.      memotivasi penderita agar aktif dalam kegiatan yang dilakukan
e.       menciptakan suasana therapeutik
f.       Memberikan kesempatan pada penderita untuk bekerja sama antara penderita dengan penderita dengan perawat
g.      memberikan bimbingan dan pengarahan pada penderita yang pasif dan hiperaktif.
e  Tindakan keperawatan
1). Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami perilaku kekerasan  dengan cara: (Budi dkk, 2007).
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina hubungan saling percaya
1)           Memberikan salam terapeutik
2)           Mengidentifikasi penyabab marah
3)           Mengidentifikasi tanda dan gejala marah
4)           Perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat dan cara mengendalikan kemarahan dengan cara latihan fisik pertana (latihan nafas dalam)
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) : Mengendalikan kemarahanan dengan latihan fisik kedua
1)   Evaluasi laihan nfas dalam
2)   Latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik kedua pukul kasus dan bantal
3)   Menyusun kegiatan dalam jadwal hari kedua
c.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III) : Mengendalikan prilaku kekerasan secara sosial atau verbal
1)        Evaluasi Latihan fisik kedua memukul bantal atau kasur
2)        Latihan mengungkapkan kemarahan secara verbal
a)         Menolak dengan baik
b)        Meminta dengan baik
c)         Mengungkapkan perasaan dengan baik
3)        Susun jadwal kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan verbal
d.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK IV) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 4 dengan spiritual
1)        Evaluasi kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan cara verbal
2)        Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual  ( Latihan beribadah dan berdo’a  )
3)        Membuat jadwal latihan beribadah atau berdo’a
e. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 5) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 5 minum obat
1)        Mendiskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya,
2)        Mengobservasi tanda. dan gejala. terkait efek samping
3)        Mendiskusikan dengan dokter tentang efek samping obat
4)        Bantu klien menggnakan obat dengan prinsip 5 benar
2.  Melaksanakan tujuan khusus pada keluarga
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang mengalami prilaku kekerasan  dilakukan dengan cara: (Direja, 2011).
a.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Memberikan pendidikan kesehatan pada keluraga tentang cara merawat pasien prilaku kekerasan dirumah
2) Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari prilaku kekerasan
3) Diskusikan kondisi klien yang perlu disegera dilaporkan kepada perawat
b.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) keluarga :
1) Melatih keluarga cara melatih kemarahan
2) Anjurkan keluarga untuk memotifasi anggota keluarga pasien untuk melakukan tindakan yang sudah diajarkan oleh perawat
3) Diskusikan kepada keluarga tindakan yang harus dilakukan jika pasien menunjukan gejala perilaku kekerasan
c.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III)
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Membuat rencana pulang bersama keluarga
3) Rencana tindak lanjt keluarga follow up dan rujukan
10.  Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo, 2010). Dalam penelitian ini yang diamati dan diukur adalah Pengaruh teknik latihan fisik pukul bantal terhadap pasien yang mengalami perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia adapun konsep dalam peneltian ini dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini
           
Terapi kelompok
Terapi okupasi
Terapi Keluarga
Psikofarmaka

Pengontrolan Perilaku Kekerasan

Gambar 3
Keterangan :
                        : Diteliti
                        : Tidak Diteliti
Teknik latihan fisik pukul bantal
puku















 

Komentar

Postingan Populer