Askep Alzaimer

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1              Konsep Dasar
2.1.1        Pengertian
      Demensia adalah suatu istilah yang digunakan para dokter untuk menggambarkan suatu kemunduran yang progresif dalam kekuatan mental, yang diiringi oleh perubahan kepribadian dan perilaku menurut Martyn dan Gale ( 2002). Menurut Kusumoputro dan Sidiarto (2004) demensia adalah suatu kondisi yang tidak wajar, disebabkan oleh suatu kelainan atau penyakit di otak. Sedangkan menurut Keliat (2011) demensia adalah suatu keadaan seseorang cenderung mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran.
2.1.2         





Gambar 2.1 Anatomi otak
Muttaqien (2008) dalam bukunya Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan mengatakan bahwa otak mungkin merupakan organ yang paling mengagumkan dar seluruh organ,. Kita mengetahui bahwa seluruh angan-angan, keinginan dan nafsu, perencanaan, dan memori merupakan hasil akhir dari aktivitas otak.
Otak berisi 10 miliar neuron yang menjadi kompleks secara kesatuan fungsional. Otak lebih kompleks daripada batang otak. Berat otak manusia kira-kra merupakan 2% dari berat badan orang dewasa.  Otak mernerima 15% dari curah jantung, memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh, dan sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya.
Menurut Muttaqien (2008) bagian-bagian otak adalah sebagai berikut:
1.       Serebrum
            Serebrum merupakan bagian otak yang paling besar dan paling menonjol. Di sini terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik, juga menagtur proses penalaran, memori, dan intelegensi. Hemisfer serebri kanan mengatur bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer serebri kiri mengatur bagian tubuh sebelah kanan. Konsep fungsional ini disebut pengendalian kontralateral.


2.       Korteks serebri
Kortek serebri atau mantel abu-abu (gray metter) dari serebrum mempunyai banyak lipatan yang di sebut giri (tunggal girus). Susunan seperti ini memunkinkan permukaan otak menjadi luas (diperkirakan seluas 2200 cm2) yang  terkandung dalam  rongga tengkorak yang sempit. Kortek serebri adalah bagian otak yang paling maju dan bertanggung jawab untuk mengindra lingkungan. korteks serebri menentukan prilaku yang bertujuan dan beralasan.
      korteks serebri dibagi menjadi 4 lobus, yaitu lobus frontal, lobus parietalis, lobus oksipitalis dan lobus parietalis.
a.    Lobus frontal
                 Lobus frontal mencakup bagian dari korteks serebrum bagian depan yaitu dari sulkus sentralis (suatu fisura atau alur) dan di dasar lateralis bagian ini memiliki area motorik dan pramotorik. Area broca terletak di lobus frontalis dan mengontrol aktivitas bicara.Area asosiasi di lobus frontalis menerima informasi dari seluruh bagian otak dan menggabungkan informasi-informasi tersebut menjadi pikiran rencana dan prilaku. Lobus frontalis bertanggung jawab untuk prilaku bertujuan,menentukan keputusan moral, dan pemikiran yang kompleks. Lobus frontalis memodifikasi dorongan-dorongan emosional yang di hasilkan oleh system limbik dan refleks vegetativ dari batang otak.

b.    Lobus parietalis
                 Merupakan lobus sensori yang berfungsi menginterprestasikan sensaai rangsangan yang datang atau , mengatur individu mampu mengetahui posisi letak dan bagian tubuh.untuk sensasi raba dan pendengaran. Lobus parietalis menyampaikan informasi ke banyak daerah lain di otak, termasuk area asosiasi motorik dan visual di sebelahnya
c.   Lobus oksipitalis
                 Lobus ini terletak di sebelah posterior dari lobus parietalis dan di atas fisura parieto-oksipitalis,yang memisahkan dari serebrum, lobus ini pusat asosiasi visual utama. Lobus ini menerima informasi dari retina mata. Menginterprestasikan penglihatan membedakan warna dan sekaligus kordinasi gerakan dan keseimbangan.
d.  Lobus temporalis
                 Memiliki fungsi menginterprestasikan sensasi kecap, bau dan pendengaran, interprestasi bahasa dan penyimpanan memori.
3.         Serebelum
Ada dua fungsi utama serebelum,yaitu :
a.    Mengatur otot- otot postural tubuh
b.    Melakukan program akan gerakan-gerakan pada keadaan sadar maupun bawah sadar.
Serebelum mengkordinasi penyesuaian secara tepat dan otomatis dengan menjaga keseimbangan tubuh. Serebelum merupakan pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus otot dan kekuatan kontraksi untuk memepertahankan keseimbangan dan sikap tubuh (Price, 1995 dalam Muttaqien. 2008:11)  
4.         Batang otak
       Bagian-bagian batang otak dari atas sampai bawah yaitu pons dan medulla oblongata. Diseluruh batang otak terdapat jaras-jaras yang berjalan naik turun. Batang otak merupakan pusat relai dan refleks dari SSP.
a.    Pons
Merupakan serabut yang menghubungkan kedua hemisfer serebelum serta menghubungkan mesensefalon di sebelah atas dengan medulla oblongata dibawah. Pon merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortiikoserebralis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernapasan. Nukleus saraf kranial V ( trigeminus), VI ( abdusen ), dan VII ( fasialis ) terdapat disini.
b.    Medulla oblongata
Medulla oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung vasokonstriktor, pernafasan, bersin,batuk, menelan, pengeluaran air liur,  dan muntah. Semua jaras asendens dan desendens medulla spinalis terlihat di sini. Pada permukaan anterior terdapat pembesaran yang disebut Piramid yang terutama mengandung serabut motorik volunter. Di bagian posterior medulla oblongata terdapat pula dua pembesaran yang di sebut fesikuli dari jaras asendens kolumna dorsalis, yaitu fesikuli grasilis dan fesikulus kuntaneus, jaras-jaras ini mengantarkan tekanan, proprioseptif otot-otot sadar, sensasi getar dan diskriminasi dua titik.
5.         Mesensefalon
Mesensefalon ( otak tengah ) merupakan bagian pendek dari baang otak yang letaknya di atas pons. Bagian ini mencakup bagian posterior, yaitu tektum yang terdiri dari kolikuli superior dan kolikuli inferior serta bagian anterior, yaitu pedunkulus serebri. Kolikuli superior berperan dalam refleks penglihatan dan koordinasi gerakan penglihatan, kolikuli inferior berperan dalam refleks pendengaran, misalnya menggerakan kepala ke arah datangnya suara.
Pedunkuli serebri ( basis pedunkuli ) terdiri atas berkas serabut-serbut motorik yang berjalan turun dari serebrum. Substansia nigra dan nukleus ruber terletak dalam mesensefalon dan merupakan bagian dari jaraas ekstrapiramidal atau jaras impuls motorik involunter. Substansia nigra mempunyai banyak hubungan antara lain dengan korteks serebri, ganglia basali, nukleus ruber dan formasio retikularis.
Diduga bahwa substansia nigra mempunyai peranan inhibisi kompleks terhadap area yang dihubunginya, lesi pada substansia nigra dapat mengakibatkan kekakuan otot, tremor, halus pada waktu istirahat, langkah yang lamban serta diseret, dan wajah seperti topeng. Nukleus ruber ( red nukleus ) mempunyai hubungan dengan serebelum, korteks serebri, substansia nigra, ganglia basalis, formasio retikularis, dan nukleus subtalamik. Bagian ini berperan dalam  refleks postural serta refleks untuk menegakkan badan pada orientasi kepala seseorang terhadap ruang.
6.        Diensefalon
Diensefalon adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan struktur-struktur di sekitar ventrikel ketiga dan membentuk inti bagian dalam serebrum. Diensefalon biasanya dibagi menjadi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus, dan hipotalamus. Diensefalon memproses rangsang sensorik dan membantu mencetuskan atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap rangsang-rangsang tersebut.
a.       Talamus
     Bukti-bukti menunjukkan bahwa talamus bertinda sebagai pusat sensasi primitif yang tidak kritis, yaitu indivisu dapat samar-samar merasakan nyeri, tekanan, raba, raba, getar, dan suhu yang ekstrem.

b.      Subtalamus
     Subtalamus merupakan ekstrapiramidal diensefalon yang penting. Subtalamus mempuyai hubungan dengan nukleus ruber, substansia nigra, dan globus palidus dari ganglia basalis. Lesi pada subtalamus dapat menimbulkan diskinesia dramatis yang disebut hemibalismus.
c.       Epitalamus
     Epitalamus merupakan pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap diensefalon. Struktur utama area ini adalah nukleus habenular dan komisura, komisura posterior, striae medularis, dan epifisis. Epitalamus berhubungan dengan sistem limbik dan berperan pada beberapa dorongan emosi dasar dan integrasi informasi olfaktorius. Epifisis mensekresi melatonin dan membantu irama sirkadian tubuh serta menghambat gonadotropin.
d.      Hipotalamus
     Hipotalamus terletak dibawah talamus. Hiptalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi.
Menurut Syaifuddin (2009) secara spesifik fungsi hipotalamus adalah sebagai berikut.
1)      Mengontrol suhu tubuh.
2)      Mengontrol rasa haus dan pengeluaran urin.
3)      Mengontrol asupan makanan.
4)      Mengontrol sekresi hormon-hormon hipofisis anterior.
5)      Menghasilkan hormon-hormon dari hipofisis posterior.
6)      Befungsi sebgai pusat koordinasi sistem saraf otonom utama yang kemudian mempengaruhi semua otot polos, otot jantung, dan kelenjar eksokrin.
7)      Berperan dalam pola perilaku dan emosi.
2.1.3        Etiologi
Etilogi demensia menurut Videbeck (2008) antara lain :
1.       Penyakit Alzheimer
     Merupakan gangguan otak progresif yang memiliki awitan bertahap tetapi menyebabkan fungsi semakin menurun, yang mencakup kehiolangan fungsi bicara, kehilangan fungsi motorik, dan perubahan perilaku dan kepribadian yang berat, seperti paranoia, waham, halusinasi, tidak memperhatikan higiene, dan agresif. Penyakit tersebut ditandai dengan atrofi neuron serebral, deposite senile plaque, dan pembesaran ventrikel otak, meningkat sejalan dengan usia, dan durasi rata-rata penyakit dari awitan smapai gejala adalah 8 – 10 tahun. Demensia jenis alzheimer, terutama dengan awitan lambat ( setelah 65 tahun ), dapat memiliki komponen genetik.
2.       Demensia vaskular
Suatu jaringan yang telah mati karena kurangnya oksigen disebut infark, penyakit yang menyebar dari pembuluh darah yang kecil-kecil dapat memunculkan banyak infark di seluruh otak. Dampak kumulatifnya dapat mengganggu fungsi otak sehingga bentuk demensia ini disebut demensia multi-infark. Penyakit pembuluh darah saat ini biasa terjadi pada orang-orang yang mengalami tekanan darah tinggi untuk jangka waktu yang panjang, yang diperburuk dengan kebiasaan merokok. Pembuluh darah cenderung menyempit ketika kita beranjak tua.
3.      Demensia campuran
Kadang-kadang ketika otak seseorang yang telah mati karena demensia diuji akan terlihat ciri-ciri penyakit alzheimer dan infark yang banyak. Dengan demikian dapat disimpulkan apakah orang mengalami penyakit demensia vaskuler atau penyakit alzheimer, sehingga orang seperti itu disebut mengalami demensia campuran.
4.      Penyebab lain demensia
a.    Penggunaan bermacam-macam obat sekaligus
Reaksi negatif terhdap pengobatan dapat menganggu keseimbangan kandungan garam dan kimiawi dalam darah dan otak. Jika demensia disebabkan oleh sesuatu seperti ini biasanya dapat ditangani dengan baik.
b.    Penyakit keturunan pada sistem saraf
c.         Cedera pada kepala yang sering terjadi
            Cedera kepala yang sering di alami, seperti yang terjadi pada petinju profesional, kadang-kadang menyebabkan demensia pada kehidupan selanjutnya.















2.1.4        Patofisiologi
Tingkah laku aneh dan kacau, dan cenderung memengembara. Mempunyai dorongan kekerasan
1.    Perubahan proses pikir
2.    Kerusakan interaksi sosial
3.    Kerusakan komunikasi verbal
Kehilangan kemampuan menyelesaikan masala : Perubahan mengawasi keadaan yang kompleks dan berpikir abstrak : emosi labil, pelupa, apatis


2. Resiko tinggi trauma
1.     Defisit perawatan diri (makan, minum,berpakaian,dan,  higiene)
Perubahan kemampuan merawat diri sendiri
7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Demensia
Asetilkolin pada otak
Faktor predisposisi : virus lambat, proses autoimun, keracunan aluminium dan genetik
Penurunan metabolisme dan aliran darah di korteks parietalis superior
Kerusakan neurofibrilar yang difus
Hilangnya serat saraf kolinergik di korteks serebrum
Degenerasi neuron kolinergik
Terjadi pada senilis
Penurunan sel neuron kolinergik yang berproyeksi ke hipokampus dan amigdaia
Kelainan neurotransmitter
 



















Skema 2.1 Patofiologi demensia alzheimer
Sumber. Muttaqien, 2008
2.1.5        Manifestasi klinis
Manifestasi klinis demensia menurut Videbeck (2008) yaitu :
a.       Kehilangan memori
1)      Tahap awal, kehilangan memori yang baru seperti lupa sedang memasak makanan di kompor
2)      Tahap selanjutnya, kehilangan memori masa lalu seperti melupakan nama anak-anak, dan pekerjaan.
b.      Penurunan fungsi bahasa
Melupakan nama benda-benda umum seperti kursi atau meja, paliala (mengulangi suara), dan mengulang kata-kata yang di dengar (ekolalia).
c.       Kehilangan kemampuan untuk berpikir abstrak dan merencanakan, memulai, mengulurkan, memantau, atau menghentikan perilaku yang kompleks (kehilangan fungsi eksekutif), klien kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri.





              Perbandingan delirium dan demensia menurut Videbeck (2008).
Tabel 2.1 Perbandingan delirium dan demensia
              Indikator
Delirium
Demensia
Awitan
Cepat
Bertahap dan tidak jelas
Durasi
Singkat ( beberapa jam sampai beberapa hari )
Deteriorasi progresif
Tingkat kesadaran
Terganggu, berfluktuasi
Tidak terpengaruh
Memori
Kerusakan memori jangka pendek
Kerusakan memori jangka pendek, kemudian jangka panjang, akhirnya rusak
Bicara
Kemungkinan kacau ngelantur, logorea, tidak relevan
Normal pada tahap awal, afasia progresif pada tahap selanjutnya
Proses pikir
Disorganisasi sementara
Gangguan berpikir akirnya kehilangan kemampuan berpikir
Persepsi
Halusianasi penglihatan atau taktil, waham
Sering tidak ada, tetapi dapat mengalami paranoia, halusinasi, ilusi
Mood
Ansietas, ketakutan apabila mengalami halusinasi ; menangis, mudah tersinggung
Depersi dan ansietas pada tahap awal, mood yang labil, berjalan mondar mandir dan gelisah, ledakan kemarahan pada tahap selanjutnya

2.1.6        Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
1.      Pemeriksaan skrinning, neuropsikologis atau kognitif MMSE, skrinning 7 menit. Jika mempunyai skor dibawah 24, pasien patut dicurigai mengalami demensia (Videbeck, 2008).
2.      CT scan dan MRI
CT scan ( Computerized Axial Tomography ) atau  MRI ( Magnetic resonance imaging ) biasanya menunjukkan lesi vaskuler multipel pada korteks serebri dan struktur subkortikal akibat peurunan suplai darah ke otak  (Videbeck, 2008).
3.      Positron emission tomography ( PET )
PET adalah metode visualisasi metabolisme tubuh menggunakan radioisotop pemancar positron. Karena itu, citra yang diperoleh merupakan citra yang menggambarkan fungsi organ tubuh. PET berfungsi untuk mengetahui kejadian di tingkat sel yang tidak diperoleh dengan alat pencitraan konvensional lainnya (Nugroho, 2008).
4.      Single photo emission computed tomography ( SPECT )
Pemeriksaan DSM IV ( diagnostic and statistical manual of mental disorder ) (Nugroho, 2008).
5.      Pemeriksaan darah
Kadang-kadang kemunduran fungsi mental dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme tubuh atau ketidakseimbangan hormonal yang beredar dalam darah  ( Martyn dan gale, 2002 ).
6.      Radiologi
Infeksi di dada atau gangguan pada jantung atau paru-paru turut menyebabkan kemunduran fungsi mental ( Martyn dan gale, 2002 ).
2.1.7        Penatalaksanaan
      Penatalaksanaan demensia menurut Keliat (2011) adalah  :
Tabel 2.2 Pengelolaan pasien demensia berdasarkan stadium kemunduran
Demensia
Kemunduran fungsi kognitif
Kemunduran kemampuan
Kemunduran perilaku
Pengelolaan
Stadium ringan (MMSE 21 – 30)
a.    Mengingat
b.   Menemukan kata-kata
c.    Menyelesaikan masalah
d.   Pertimbangan berhitung
a.     Kerja
b.    Memasak
c.     Membaca
d.    Menulis
e.     Hobi
a.    Apatis
b.   Menarik diri
c.    Depresi
d.   Cepat tersinggung
a.    Pengawasan terbatas
b.   Supervisi minimal
c.    Perawatan dirumah
Stadium sedang (MMSE 10 – 20)
a.    Memori jangka pendek
b.   Bahasa
c.    Daya tilik diri
d.   Orientasi
a.    Lupa tempat barang
b.   Nyasar
c.    Sulit berdandan
a.   Waham
b.   Depresi
c.   Pergi tanpa tujuan
d.   Insomnia
e.   Agitasi
a.    Pengawasan ketat
b.   Perlu pengawasan khusus
c.    Supervisi ketat
d.   Perawatan rumah
Stadium berat (MMSE < 10)
a.    Atensi
b.   Kesulitan ADL
c.    Bahasa (mutisme)
d.   Perttimbangan berhitung
a.     ADL mendasar
b.    Berpakaian
c.     Merapikan diri
d.    Mandi
e.     Makan
f.     Eliminasi
g.     Berjalan
h.    Gerakan
a.      Agitasi
b.      Verbal
c.      Fisik
d.      Insomnia
a.    Pengawasan ketat
b.   Rujukan ke fasilitas kesehatan lansia

Penatalaksanaan demensia menurut  Videbeck (2008)  adalah :
Tabel 2.3 Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati demensia
Nama
Rentang dosis dan cara pemberian
Pertimbangan khusus
Takrin (cognex)
40 – 60 mg per oral setiap hari dibagi dalam 4 dosis
·         Pantau enzim hati untuk mengetahui adanya efek hepatoksik
·         Dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal, gejala seperti flu
Donepezil (aricept)
5 – 10 mg per oral setiap hari
·         Pantau adanya mual, diare, insomnia
·         Lakukan pemeriksaan feses secara periodik untuk mengetahui adanya perdarahan



2.1.8        Komplikasi
      Komplikasi yang dapat dialami oleh penderita demensia menurut Martyn dan Gale  (2002) adalah sebagai berikut :
1.       Kemunduran ingatan
2.       Disorientasi
3.       Perubahan kepribadian dan perilaku
4.       Kehilangan kemampuan praktis sehari-hari
5.       Kesulitan dalam berkomunikasi

2.2                            Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1                  Pengkajian
     Menurut Muttaqien (2008), anamnesis pada penyakit alzheimer meliputi identitas klien,  riwayat penyakit sekarang,  riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga.
2.2.1.1          Identitas klien
     Identitas klien yang harus dianamnesis meliputi nama, umur ( lebih sering pada kelompok usia lanjut, 50% populasi berusia lebih dari 85 tahun), jenis kelamin, pendidikan, alamt, pekerjaan, agama, suku bangsam tanggal dan jam MRS, nomor register, dan diagnosis medis.

2.2.1.2     Status kesehatan saat ini
     Pada anamnesis klien mengeluhkan sering lupa dan hilangnya ingatan yang baru. Pada beberapa kasus, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien sering bertingkah laku aneh dan kacau serta sering keluar rumah sendiri tanpa mengatakan pada anggota keluarga yang lain sehingga sangat meresahkan anak-anaknya yang menjaga klien. Pada tahap lanjut dari penyakit, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien menjadi tidak dapat mengatur buang air, tidak dapat mengurus keperluan dasar, atau mengenali anggota keluarga.
2.2.1.3       Riwayat kesehatan dahulu
                    Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantunng, penggunaan obat-obat antiansietas a9 benzodiazepin), penggunaan obat-obat kolinergik dalam jangka waktu yang lama dan mengalami sindroma down yang pada suatu saat kemudian menderita penyakit alzheimer pada saat berusia 40-an.
2.2.1.4          Riwayat kesehatan keluarga
                      Pada penyakit alzheimer ditemukan hubungan sebab genetik yang jelas. Diperkirakan 10%-30% dari alzheimer menunjukkan tipe yang diwariskan, dan dinyatakan sebagai penyakit alzheimer familia (FAD). Pengkajian adanya generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan diabetes melitus diperlukan untuk melihat adanya komplikasi penyakit lain yang dapat mempercepat progresinya penyakit.
2.2.1.5          Tinjauan sistem
Tinjauan sistem pada klien alzhelimer menurut Muttaqien (2008) meliputi :
1.      Keadaan umum
     Klien dnegan penyakit alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran dengan degenerasii neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi brdikardia, hipotensi, dan penurunan frekuensi pernapasan.
2.      B1 (breathing)
     Gangguan fungsi pernapasan: berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas, aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran napas.
a.        Inspeksi      :    Didapatkan klien batuk atau penurunan kemamuan untuk batuk efektif, peningkatan sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot bantu napas.
b.        Palpasi        :    Taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
c.        Perkusi       :    Adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
d.       Auskultasi  :    Bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi stridor, ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun pada klien dengan inaktivitas.
3.      B2 (Blood)
Hipotensi postural : berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem persarafan otonom.
4.      B3 (Brain)
    Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
a.       Pengkajian tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada perubahan status kognitif klien.
b.      Pengkajian fungsi serebral
Status mental   : Biasanya status mental klien mengalami perubahan yang berhubungan dengan penurunan stautus kognitis, penurunan persepsi, dan penurunan memori, baik jangka pendek maupun memori jangka panjang.
c.       Pengkajian saraf kranial
Pengkajian saraf ini meliputi pengkajian saraf kranial I-XII
1)        Saraf
Biasanya pada klien penyakit alzheimer tidak ada kelainan fungsi penciuman.
2)        Saraf II
Tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan, yaitu sesuai dengan keadaan usia lanjut biasanya klien dengan penyakit alzheimer mengalami penurunan ketajaman penglihatan.
3)        Saraf III, IV, dan VI
Pada beberapa kasu penyakit alzheimer biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada saraf ini.
4)        Saraf V
Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.
5)        Saraf VII
Persepsi pengecapan dalam batas normal.
6)        Saraf VIII
Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan proses senilis serta penurunan aliran darah regional.
7)        Saraf IX dan X
Didapatkan kesulitan dalam menenlan makanan yang berhubungan dengan perubahan status kognnitif.

8)        Saraf XI
Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
9)        Saraf XII
 Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada faskulasi. Indra pengecapan normal.
d.      Pengkajian sistem motorik
     Inspeksi umum,  pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan dan penurunan pada fungsi motorik secara umum.
1)      Tonus otot didapatkan meningkat.
2)      Keseimbangan dan koordinasi. Didapatkan mengalami gangguan karena adanya perubahan status kognitif dan ketidakkkooperatiifan dengan pemeriksaan,
e.       Pengkajian refleks
     Pada tahap lanjut, penyakit alzheimer sering mengalami kehilangan refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri dengan kepala cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong. Kesulittan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan ( salah satunya ke depan atau ke belakang) dapat menyebabkan klien sering terjatuh.


f.       Pengkajian sistem sensorik
     Sesuai dengan berlanjutnya usia, klien dengan penyakit alzheimer mengalami penurunan terhadap sesuai sensorik secara progresif. Penurunan sensori yang ada merupakan hasil dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.
5.      B4 (Bladder)
     Pada tahap lanjut, beberapa klien sering mengalami inkontinensia urine, biasanya berhubungan dengan penurunan status kognitif dari klien alzheimer. Penurunan refleks kandung kemih yang bersifat progresif dan klien mungkin mengalami inkontinensia urin, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermitten dengan teknik steril.
6.      B5 (Bowel)
     Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Penurunan aktivitas umum klien sering mengalami konstipasi.
7.      B6 (Bone)
     Pada tahap lanjut, biasanya didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan umum dan penurunan status kognitif menyebabkan maslah poola dan pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan keseimbangan dan koorrdinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik jika melakukan aktivitas.
2.2.1.6          Pengkajian psikososial dan spiritual
1.      Psikososial
     Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien berfungsi untuk menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri didapatkan klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit alzheimer adalah penurunan kognitif dan penurunan memori (ingatan) (Muttaqien, 2008).
2.      Identifikasi masalah emosional
Pertanyaan tahap I
1)      Apakah klien mengalami sukar tidur?
2)      Apakah klien sering merasa gelisah?
3)      Apakah klien sering murung atau menangis sendiri?
4)      Apakah klien sering was-was atau khawatir?
Lanjutkan ke pertanyaan tahap 2 jika lebih dari 1 atau sama dengan 1 jawaban “ya”.
Pertanyaan tahap II
5)      Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam 1 bulan?
6)      Ada masalah atau banyak pikiran?
7)      Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter?
8)      Cenderung mengurung diri?
Lanjutkan bila lebih dari 1 atau sama dengan 1 jawaban “ya”.
Masalah emosional postif (+).
3.      Spiritual
Agama yang dianut, apakah teratur melaksanakan ibadah wajib dan sunah, apakah ikut dalam kegiatan keagamaan atau tidak.
2.2.1.7          Pengkajian fungsional klien
1.      Menggunakan KATZ Indeks
     Pengkajian status fungsional didasarkan pada kemandirian klien dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari. Kemandirian berarti tanpa  pengawasan,  pengarahan, atau bantuan orang lain. Pengkajian ini didasarkan pada kondisi aktual klien dan bukan pada kemampuan, artinya jika klien menolak untuk melakukan suatu fungsi, dianggap tidak melakukan fungsi meskipun sebenarnya ia mampu.
a.       Mandiri dalam  makan, kontinensia ( BAK, BAB ), menggunkan pakaian, pergi ke toliet, berpindah dan mandi.
b.      Mandiri semuanya kecuali satu saja dari fungsi di atas.
c.       Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain.
d.      Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi yang lain
e.       Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toliet dan satu fungsi yang lain.
f.       Madiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
2.      Modifikasi dari Barthel Indeks
     Pada tahap lanjut, biasanya pada penderita demensia alzheimer didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan umum dan penurunan status kognitif menyebabkan maslah poola dan pemenuhan aktivitas sehari-hari (Muttaqien, 2008).
Tabel 2.3 Modifikasi Barthel indeks
No
Kriteria
Dengan bantuan
Mandiri
Keterangan
1.
Makan
5
10
Frekuensi :
Jumlah     :
Jenis        :
2.
Minum
5
10
Frekuensi :
Jumlah     :
Jenis        :
3.
Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, dan sebaliknya
5 – 10
15
Frekuensi :
4.
Personal toilet ( cuci muka, menyisir rambut, gosok gigi )
0
5
Frekuensi :
5.
Keluar masuk toilet ( mencuci pakaian, menyeka tubuh, menyiram )
5
10
Frekuensi :
6.
Mandi
5
15
Frekuensi :
7.
Jalan di permukaan datar
0
5

8.
Naik turun tangga
5
5

9.
Mengenakan pakaian
5
10

10.
Kontrol bowel ( BAB )
5
10
Frekuensi :
11.
Kontrol bladder ( BAK )
5
10
Frekuensi :
Warna      :
12.
Olahraga / latihan
5
10
Frekuensi :
Jenis         :
13.
Rekreasi / pemanfaatan waktu luang
5
10
Frekuensi :
Jenis         :

2.2.1.8          Pengkajian status mental gerontik
1.      Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Status Mental Quostioner ( SPSMQ )
Menjelaskan tentang tingkat kerusakan intelektual dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut.
Tabel 2.5 Short Portable Status Mental Quostioner ( SPSMQ )
No
Benar
Salah
Pertanyaan
1


Tanggal berapa hari ini ?
2


Hari apa sekarang ini ?
3


Apa nama tempat ini ?
4


Dimana alamat anda ?
5


Berapa umur anda ?
6


Kapan anda lahir ? ( minimal tahun lahir )
7


Siapa presiden Indonesia sekarang ?
8


Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?
9


Siapa nama ibu anda ?
10


Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari angka baru, semua menurun.

Interpretasi hasil :
a)      Salah 0 – 3              =   Fungsi intelektual utuh
b)      Salah 4 – 5              =   Kerusakan intelektual ringan
c)      Salah 6 – 8              =   kerusakan intelektual sedang
d)     Salah 9 – 10            =   kerusakan intelektual berat
2.         Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE ( Mini Mental Status Exam ) menurut Keliat (2011)
Tabel 2.6 Mini Mental Status Exam ( MMSE )
Mini Mental Status Examination
Nama pasien :                           Nama pewawancara :
Usia pasien   :                           Tanggal wawancara  :
Pendidikan   :                            Waktu wawancara    :
Skor max
Skor pasien
Pertanyaan
ket
5

Sekarang (hari), (tanggal), (bulan), (tahun) siang / malam ?
Orientasi
3

Sekarang kita berada di manas? (lorong), (dusun), (kelurahan0, (kabupaten), (propinsi)
Orientasi
5

Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda ; almari, sepatu, buku, satu detik setiap benda. Lansia mengulang ke 3 nama benda tersebut. Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar
Registrasi
3

Hitunglah mundur dari 10.000 ke bawah dengan pengurangan Rp. 1000 dan Rp. 10.000 ke bawah ( beri nilai 1 untuk jawaban yang benar ), berhenti setelah lima hitungan ( 9.000, 8.000, 7.000, 6.000, 5.000 )
Atensi dan kalkulasi
3

Tanyakan kembali nama 3 benda yang telah disebutkan di atas. Berilah nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar
Mengingat
9

·        Apakah nama benda ini ? perlihatkan pensil dan pukul tangan (nilai 2 Jika jawaban benar)
·        Ulangi kalimat berikut : “ Saya ingin sehat “. ( nilai 1 )
·        Laksanakan 3 buah perintah ini : “ peganglah selembar kertas pada tangan kanan, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan letakkanlah di lantai ! (nilai 3)
·        Bacalah dan laksanakan perintah berikut : “ Pejamkan mata anda !” (nilai 1)
·        Tulislah sebuah kalimat “ Allahu akbar dalam sebuah bahasaarab “ (nilai 1)
·        Tirulah gambar ini : pohon (nilai 1)
Bahasa
HASIL :
Nilai 21 – 30  :  Demensia ringan
Nilai 11 – 20  :  Demensia sedang
Nilai < 10       :  Demensia berat ( stadium lanjut )



2.2.1.9       Pengkajian afektif
     Pengkajian afektif digunakan untuk membedakan apakah klien mengalami depresi atau demensia. Pada lansia, depresi sering dihubungkan dengan kacau mental dan disorientasi, sehingga seorang lansia depresi sering disalah artikan dengan demensia ( Mubarak, 2006 ).
Tabel 2.7  Inventaris Depresi Beck
Inventaris depresi beck
Skor
Uraian
A.       Kesedihan
3
Saya sangat sedih atau tidak bahagia dimana saya tak dapat menghadapinya
2
Saya galau atau sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat keluar darinya
1
Saya merasa sedih dan galau
0
Saya tidak merasa sedih
B.       Pesimisme
3
Saya merasa bahwa masa depan saya adalah sia-sia dan sesuatu tidak dapat membaik
2
Saya merasa tidak mempunyai apa-apa untuk memandang ke depan
1
Saya berkecil hati mengenai masa depan
0
Saya tidak begitu pesimis atau berkecil hati tentang masa depan
C.       Rasa kegagalan
3
Saya merasa benar-benar gagal sebagai seorang (orang tua, suami, istri)
2
Seperti melihat ke belakang hidup saya, semua yang dapat saya lihat hanya kegagalan
1
Saya berasa buruk atau tak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik
0
Saya tidak merasa gagal
D.       Ketidakpuasan
3
Saya tidak puas dengan segalanya
2
Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun
1
Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan
0
Saya merasa tidak puas
E.        Rasa bersalah
3
Saya merasa seolah-olah saya buruk atau tak berharga
2
Saya merasa sangat bersalah
1
Saya merasa buruk atau tak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik
0
Saya tidak benar-benar bersalah
F.        Tidak menyukai diri sendiri
3
Saya benci diri saya sendiri
2
Saya muak dengan diri saya sendiri
1
Saya tidak suka dengan diri saya sendiri
0
Saya tidak merasa kecewa dengan diri saya sendiri
G.       Membahayakan diri sendiri
3
Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai kesempatan
2
Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri
1
Saya merasa lebih baik mati
0
Saya tidak mempunyai pikiran mengenai membahayakan diri saya sendiri
H.       Menarik diri dari sosial
3
Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan tidak peduli pada mereka semua
2
Saya telah kehilangan semua minat pada orang lain dan mempunyai sedikit perasaan pada mereka
1
Saya kurang berminat pada orang lain daripada sebelumnya
0
Saya tidak kehilangan minat pada orang lain
I.          Keragu-raguan
3
Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali
2
Saya mempunyai banyak kesulitan dalam mengambil keputusan
1
Saya berusaha membuat keputusan
0
Saya membuat keputusan yang baik
J.          Perubahan gambaran diri
3
Saya merasa saya jelek atau tampak menjijikkan
2
Saya merasa bahwa ada perubahan-perubahan yang permanen dalam saya ini membuat saya tak menarik
1
Saya khawatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik
0
Saya tidak merasa bahwa saya tampak buruk dari sebelumnya
K.       Kesulitan kerja
3
Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali
2
Saya tidka mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk melakukan aktivitas
1
Ini memerlukan upaya tambahan untuk untuk memulai melakukan sesuatu
0
Saya dapat bekeja kira-kira sebaik sebelumnya
L.        Keletihan
3
Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu
2
Saya lelah untuk melakukan sesuatu
1
Saya lelah lebih dari yang saya bisa
0
Saya tidak lebih lelah dari biasanya
M.      Anoreksia
3
Saya tidak lagi mempunyai nafsu makan sama sekali
2
Nafsu makan saya sangat memburuk sekarang
1
Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya
0
Nafsu makan saya tidak buruk dari yang biasanya
Penilaian :
0 – 4         = Depresi tidak ada atau minimal                                           
5 – 7         = Depresi ringan
8 – 15       = Depresi sedang
>16          = Depresi berat
2.2.1.10   Pengkajian keseimbangan
     Pada klien dengan demensia alzheimer dapat ditemukan adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik jika melakukan aktivitas (Muttaqiien, 2008)
     Menurut Tinenti dan Ginter (1998) ada beberapa pengkajian keseimbangan untuk klien lansia, yaitu :
1.      Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan
Instruksi     : Dudukkan kleian pada kursi beralas keras dan tanpa penahan tangan.
a.       Keseimbangan saat duduk
-          Bersandar atau bertumpu pada kursi
= 0
-          Mantap, aman
= 1
b.      Bangkit berdiri
-          Tidak stabil bila tanpa bantuan
= 0
-          Mampu berdiri mengunakan kedua tangan untuk sokongan                                                                                   =                                                                                   1 sokongan
= 1
-          Mampu berdiri tanpa dibantu sokongan lengan sendiri
= 2
c.       Upaya untuk bangkit berdiri
-          Tidak mampu tanpa bantuan
= 0
-          Mampu melakukan tetapi membutuhkan upaya lebih satu kali                                                                                   =                                                                                   1 sokongan
= 1
-          Mampu bangkit berdiri dengan satu kali upaya
= 2
d.      Keseimbangan setelah tiba-tiba berdiri (5 detik pertama)
-          Tidak tetap (bergoyang, menggerakkan kaki)
= 0
-          Tetap stabil namun menggunakan tongkat atau meraih objek untuk dijadikan sokongan                                                                                   =                                                                                   1 sokongan
= 1
-          Tetap stabil tanpa menggunakan tongkat atau penyokong lainnya
= 2
e.       Keseimbangan saat berdiri
-          Tidak stabil
= 0
-          Tetap stabil namun dengan kedudukan kaki yang lebar atau menggunakan alat bantu
= 1
-          Kedudukan kaki yang sempit dan tidak memerlukan alat penyokong
= 2
f.       Pertahankan akan keseimbangan diri (kaki pasien berposisi serapat mungkin dan dorong lembut area sternum sebanyak 3 kali).
-          Mulai terjatuh
= 0
-          Bergoyang dan menggapai-gapai namun akhirnya mendapat keseimbangan
= 1
-          Tetap stabil
= 2
g.      Mata tertutup (dengan posisi sama dengan nomor 6)
-          Tidak stabil
= 0
-          Stabil
= 1
h.      Upaya untuk duduk
-          Tidak aman (salah perkiraan mengenai jaunya jarak, atau terjatuh ke atas kursi)
= 0
-          Mempergunakan tangan
= 1
-          Gerakkan yang halus serta aman
= 2
2.      Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan
Instruksi     : pasien berdiri bersama dengan pemeriksaan kemudian berjalan dalam lorong atau menyebrangi ruangan, pertama dengan irama yang perlahan kemudian pada saat balik dengan irama yang cepat. Dapat digunakan tongkat bila pasien biasanya menggunakannya.
a.       Permulaan gaya berjalan
-          Terdapat keraguan atau beberapa gaya untuk memulainya
= 0
-          Tidak ada keraguan
= 1
b.      Panjangnya langkah dan tinggi tubuh pasien
Ayunan kaki kanan
-          Tidak dapat melewati kaki kiri saat melangkah
= 0
-          Ayunan langkah melewati kaki kiri
= 1
-          Tidak mampu menjejakkan kaki seluruhnya
= 0
-          Dapat menjejakkan kaki seluruhnya
= 1
Ayunan kaki kiri
-          Tidak dapat melewati kaki kanan saat melangkah
= 0
-          Ayunan langkah melewati kaki kanan
= 1
-          Tidak mampu menjejakkan kaki selurunya
= 0
-          Dapat menjejakkan kaki seluruhnya
= 1
c.       Simetrisitas langkah
-          Langkah kaki kiri dan kanan tidak seimbang
= 0
-          Langkah kaki kiri dan kanan sebanding
= 1
d.      Keberlanjutan langkah
-          Berhenti atau tidak dapat melanjutkan langkah berikutnya
= 0
-          Langkah-langkah yang diayunkan tampak berkesinambungan
= 1
e.       Jalur berjalan
-          Ada penyimpangan
= 0
-          Penyimpangan langkah ringan atau menengah atau klien menggunakan tongkat penyokong
= 1
-          Berjalan lurus tanpa adanya alat bantu
= 2
f.       Bagian torso tubuh
-          Adanya gerakan mengayun atau klien menggunakan alat penyokong
= 0
-          Tidak terjadi gerakan mengayun namun terjadi refleksi lutut atau pertentangan tangan saat berjalan
= 1
-          Tidak terjadi gerakan mengayun, penggunaan  lengan atau alat sokong
= 2
g.      Pertahankan keseimbangan saat berjalan
-          Tumit-tumit terpisah
= 0
-          Tumit-tumit hampir bersentuhan saat berjalan
= 1
Interprestasi hasil :
0-8        = Resiko jatuh tinggi
9-18      = Resiko jattuh sedang
19-20     = Resiko jatuh rendah
2.2.2    Diagnosa keperawatan
            Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan bagi klien yang mengalami demensia menurut Brunner dan Suddarth, 2001 yaitu :
1.      Perubahan  proses pikir (kognisi, persepsi, konfusi, dan disorientasi yang berubah) b.d degenerasi neuronal dan demensia progresif
2.      Resiko tinggi terhadap cedera b.d perilaku impulsif, kerusakan perkembangan, kurang penglihatan, dan disfungsi perilaku
3.      Ansietas b.d kehilangan kognitif dan penurunan dalam konsep diri
4.      Kerusakan komunikasi verbal b.d kehilangan kognitif
5.      Defisit perawatan diri b.d konfusi, kehilangan kognitif, dan perilaku disfungsi
6.      Perubahan dalam  nutrisi b.d kelam pikir dan ketidakseimbangan  masukan / aktivitas
7.      Kerusakan interaksi sosial b.d kerusakan kognitif dan perilaku disfungsi
2.2.3    Perencanaan
            Intervensi keperawatan yang dapat diterapkan pada klien dengan demensia menurut Brunner dan Suddarth (2001) yaitu ;
1.         Perubahan  proses pikir (kognisi, persepsi, konfusi, dan disorientasi yang berubah) b.d degenerasi neuronal dan demensia progresif
Tujuan          : Meningkatkan orientasi realita     
Kriteria hasil :
a.         Mempertahankan fungsi ingatan yang optimal
b.        Memperlihatkan penurunan dalam perilaku yang bingung
c.         Menunjukkan respon yang sesuai untuk stimulasi taktil, visual, auditori
d.        Mengungkapkan rasa keamanan dan perlindungan
e.         Menunjukkan orientasi optimal terhadap waktu, tempat, orang
 Intervensi
a.         Kurangi konfusi lingkungan :
1)        Dekati pasien dengan cara yang menyenangkan dan kalem
Rasional : Stimulasi yang sederhana dan terbatas akan memfasilitasi interpretasi dan mengurangi distorsi input

2)        Cobalah agar mudah ditebak dalam sikap dan percakapan anda
Rasional     :  Perilaku yang dapat ditebak kurang mengancam dibanding perilaku yang dapat ditebak
3)      Pertahankan jadwal sehari-hari yang teratur
Rasional      :  Stimulasi yang sederhana dan terbatas akan memfasilitasi interpretasi dan mengurangi distorsi input
4)      Alat bantu mengingat sesuai yang diperlukan ( daftar, catatan, label pada barang-barang, gambar, diagram )
Rasional      :  Alat bantu ingatan akan membantu pasien mengingat
b.      Tingkatkan isyarat lingkungan:
1)      Perkenalkan diri anda ketika berinteaksi dengan pasien
Rasional    :Dengan meningkatnya kehilangan ingatan, akan ada baiknya memperkenalkan diri anda pada awal setiap interaksi dengan pasien
2)      Panggil pasien dengan menyebutkan namanya
Rasional      :  Meningkatkan hubungan saling percaya
3)      Berikan isyarat lingkungan untuk orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang ( gambar, foto, jam, kalender ) dengan penanda silang untuk hari yang telah dilewati, lorong dan pintu yang menggunakan kode warna
Rasional    : Isyarat lingkungan akan meningkatkan orientasi terhadap waktu, tempat, dan individu akan mengisi kesenjangan ingatan dan berfungsi sebagai pengingat
4)      Berikan penunjuk waktu
Rasional    : Penunjuk waktu jam akan meningkatkan orientasi terhadap waktu dan berfungsi sebagai pengingat
5)      Interpretasikan stimulasi lingkungan sebagai bagian percakapan
Rasional    : Meningkatkan respon yang sesuai untuk stimuli taktil, visual dan auditori
2.            Resiko tinggi terhadap cedera b.d perilaku impulsif, kerusakan perkembangan, kurang penglihatan, dan disfungsi perilaku
Tujuan           :  mempertahankan keselamatan fisik
Kriteria hasil  : 
a.       Mematuhi proseedur-prosedur keselamatan
b.      Dapat bergerak dengan bebas dan mandiri di sekitar rumah
c.       Mengungkapkan rasa keamanan dan terlindung
Intervensi      :
a.       Kendalikan lingkungan
1)        Singkirkan bahaya yang tampak jelas
Rasional   : Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi risiko cidera dan membebaskan keluarga dari kekhawatiran yang konstan.
2)        Awasi semua aktivitas di luar ruangan
Rasional :  Lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi risiko cidera dan membebaskan keluarga dari kekhawatiran yang konstan.
b.      Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum
1)      Berikan kebebasan dalam lingkungan yang aman
Rasional : Hal ini akan memberikan pasien rasa otonomi
2)      Hindari penggunaan restrein
Rasional :  Restrein dapat meningkatkan agitasi
3)      Ketika pasien melamun, alihkan perhatiannya ketimbang mengagetkannya
Rasional :  Mengagetkan pasien akan meningkatkan ansietas. Pengalihan perhatian difasilitasi oleh kehilangan ingatan segera
4)      Simpan tag identifikasi pada pasien
Rasional : Nama dan nomor telepon akan memfasilitasi kembalinya dengan aman pasien
3.            Kerusakan komunikasi verbal b.d kehilangan kognitif
Tujuan           : Mencapai pertukaran ide – ide yang optimal antara pasien dan orang lain
Kriteria hasil  :
a.       Menunjukkan peningkatan kemampuan untuk memahami pesan
b.      Menunjukkan peningkatan kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal
c.       Menggunakan metode komunikasi alternatif ( tulisan, non verbal)
Intervensi :
a.       Menerapkan strategi untuk meningkatkan interpretasi pasien tentang pesan.
1)        Jaga agar pesan verbal singkat dan sederhana.
Rasional   :    Pesan yang sederhana dan singkat adalah yang paling mudah diinterpretasikan.
2)        Hindari situasi yang membutuhkan pembuatan keputusan.
Rasional   :    Situasi yang membutuhkan pembuatan keputusan akan membuat pasien semakin sulit untuk melakukan komunikasi verbal.
3)        Gunakan pesan nonverbal bersamaan dengan kata-kata.
Rasional   :    Mempermudah komunikasi yang akan dilakukan dengan klien.
4)        Konsistensilah dalam percakapan.
Rasional   :    Topik percakapan yang berubah – ubah akan mempersulit komunikasi pada klien
5)        Hindari kebisingan dan pengalihan perhatian yang berlebihan.
Rasional   :    Meningkatkan fokus klien terhadap pembicaraan.
6)        Hindari isu – isu yang rumit.
Rasional   :    Mempermudah dalam melakukan komunikasi.
7)        Tuliskan instruksi dari daftar yang sederhana.
Rasional   :    Mengubah metoda komunikasi sering memberikan hasil.

8)        Amati ekspresi pasien terhadapa tanda yang dapat ia mengerti.
Rasional   :    Pendengar yang baik harus responsif terhadap umpan balik.
9)        Berbicaralah pada pasien bahkan bila ia hanya memberikan sedikit respons sekalipun.
Rasional   :    Respons pasien dapat tidak mencerminkan seberapa besar pengertiannya terhadap percakapan.
a.       Kembangkan strategi untuk meningkatykan kemampuan pasien untuk mengekspresikan pesan.
1)        Pasok kata – kata yang dilupakan pasien bila memungkinkan, perkirakan pesan yang disampaikan dan konfirmasi dengan pasien serat abaikan kesalahan.
Rasional   :    Medengar aktif, menunjukkan sikap membantu dapat meminimalkan frustasi ketika membutuhkan bantuan berkomunikasi.
2)        Sediakan waktu yang adekuat untuk percakapan dan berikan dorongan untuk menggunakan kalimat yang pendek, sederhana seta ajukan pertanyaan tertutup “ ya / tidak “.
Rasional   :    Sikap yang tidak terburu – buru akan meningkatkan komunikasi.
3)        Berikan metoda alternatif untuk berkomunikasi ( menunjuk, menjabarkan, gambar – gambar )
Rasional   :    Metode tertentu dapat lebih berhasil daripada metode lainnya.
4)        Kenali frustasi yang dialami klien.
Rasional   :    Menghargai frustasi pasien menunjukkan penerimaan
4.            Defisit perawatan diri b.d konfusi, kehilangan kognitif, dan perilaku disfungsi
Tujuan           :  mempertahankan kemandirian maksimum dalam aktivitas kehidupan sehari – hari
Kriteria hasil  :
a.       Melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari pada tingkat yang diperkirakan
b.      Menunjukkan kemampuan untuk menggunakan alat adaptif
c.       Menggunakan tindakan keselamatan untuk mencegah cidera
d.      Mengungkapkan kesadaran tentang martabat dan otonomi
e.       Mengalami episode inkontinen lebih sedikit.
Intervensi     :
a.       Kembangkan strategi untuk memfasilitasi kinerja aktivitas sehari-hari.
1)        Berikan alat adaptif.
Rasional   :    Alat adaptif akan mengurangi kelam pikir dan dapat meningkatkan kemampuan untuk perawatan bagi dirinya dan menjamin keselamtannya.

2)        Pertahankan jadwal harian yang teratur pada waktu yang tepat dengan klien.
Rasional   :    Jadwal teratur akan mengurangi kelam pikir dan dapat meningkatkan kemampuan untuk perawatan bagi dirinya dan menjamin keselamtannya.
3)        Jaga agar lingkungan tetap menyenangkan dan sederhana.
Rasional   :    Lingkungan yang menyenangkan akan meningkatkan kemampuan untuk perawatan bagi dirinya dan menjamin keselamatannya.
4)        Jaga agar instruksi tetap sederhana dan bagi tugas – tugas menjadi bagian – bagian yang kecil.
Rasional   :    Tugas – tugas yang sederhana akan mengurangi kelam pikir dan dapat meningkatkan kemampuan untuk perawatan bagi dirinya dan menjamin keselamtannya.
5)        Pantau fungsi dari sistem tubuh.
Rasional   :    Pengawasan akan meningkatkan fungsi optimal dan mendeteksi masalah secara dini.
b.      Berikan perlindungan keselamatan spesifik ketika mandi.
1)        Pantau suhu air bak kamar mandi.
Rasional   :    Memastikan agar suhu air tidak terlalu panas karena pasien  tidak bisa diandalakan dalam menyesuaikan suhu air bak kamr mandi.
2)        Dorong penggunaan alat keselamatan  (misal, pegangan tangan, perlak karet).
Rasional   :    Keadaan kamar mandi yang licin dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
c.       Jaga otonomi dan martabat pasien ketika memberikan perawatan yang diperlukan.
Rasional   :    Mendorong otonomi akan meningkatkan rasa kesejahteraan dan martabat yang akan mengurangi defisit perawatan diri yang dialami klien.
d.      Berikan tindakan spesifik untuk mendorong kontinen.
1)        Berikan kemudahan akses ke kamar mandi. Jika diperlukan berikan tanda berwarna pada pintu kamar mandi.
Rasional   :    Stimulasi visual dapat menguatkan pengenalan dan mempermudah klien dalam melakukan perawatan diri secara optimal.


2)        Gunakan pakaian yang mudah untuk dilepaskan.
Rasional   :    Pakaian yang mudah dilepaskan akan membantu klien untuk membersihkan diri terutama pada saat akan mandi dan saat akan buang air.
3)        Pelihara jadwal toileting ( setiap 2 jam, setelah makan ).
Rasional   :    Hal ini membantu untuk mempertahankan eliminasi normal.
4)        Dorong masukan cairan, serat, dan eliminasi usus yang teratur
Rasional   :    Hal ini membantu untuk mempertahankan eliminasi normal.
5)        Rekomendasikan pembatasan cairan pada malam hari.
Rasional   :    Kelebihan cairan pada malam hari dapat mengganggu aktivitas tidur rutin
5.            Perubahan dalam nutrisi b.d kelam pikir dan ketidakseimbangan masukan/aktivitas
Tujuan           :  Pemeliharaan tingkat nutrisi yang optimal
Kriteria hasil  : 
a.       Makan diet seimbang dan minum cairan yang diperlukan
b.      Menunjukkan kenikmatan dan kemandirian maksimum saat makan
c.       Gigi dan gusi disikat secara teratur
Intervensi :
a.       Pantau masukan makanan dan amati kebiasaan makanan.
1)        Perhatikan penurunan dan peningkatan berat badan.
       Rasional   :    Penurunan  berat badan pada klien mengindikasikan  terjadinya asupan nutrisi yang tidak adekuat.
2)        Dorong masukan cairan yang adekuat.
Rasional   :    Masukan cairan yang adekuat akan memenuhi kebutuhan mineral yang diperlukan tubuh.
3)        Berikan jadwal waktu makan yang teratur.
Rasional   :    Pengingatan untuk makan akan menolong pasien makan dengan adekuat dan teratur.
b.      Pertahankan lingkungan yang menyenangkan untuk makan.
Rasional          :    Jika waktu makan menyenangkan, dengan makanan kesukaan dan makanan yang dikenal maka pasien akan makan dengan banyak kenikmatan.
c.    Tingkatkan perawatan mulut yang teratur.
Rasional  :  Gigi yang sehat dan gigi palsu yang terpasang dengan ps penting untuk mempertahankan kesehatan nutrisi.
6.            Kerusakan interaksi sosial b.d kerusakan kognitif dan perilaku disfungsi
Tujuan           :  Peningkatan sosialisasi dan kepuasan kebutuhan intim
Kriteria hasil  : 
a.       Ikut serta dalam acara sosial dengan teman-teman dan keluarga
b.      Meningkatkan perilaku menyentuh
c.       Mengungkapkan atau menunjukkan kepuasaan hati ketika bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain
d.      Terlibat dalam aktivitas seksual atau perilaku intim dengan pasangan
e.       Memenuhi kebutuhan seksual secara privat dengan cara yang dapat diterima
Intervensi      :
a.       Dorong aktivitas sosial dengan keluarga dan teman-teman.
1)      Gunakan sentuhan untuk mempertahankan kontak dengan pasien
Rasional : Stimulasi taktil adalah stimulasi yang termudah
2)      Sentuh, peluk dan tunjukkan afeksi
Rasional : Pasien terus membutuhkan cinta dan afeksi
3)      Berbagi perasaan dengan jujur danterbuka bersama pasien
Rasional : Pasien terus membutuhkan cinta dan afeksi
4)      Beraksi secara objektif terhadap respons negatif
Rasional : Interaksi positif akan dipertahankan dengan baik bila keluarga mengabaikan hal-hal yang negatif yang dilakukan pasien
5)      Terima pasien meski berinteraksi negatif
Rasional : Interaksi positif akan dipertahankan dengan baik bila keluarga mengabaikan hal-hal yang negatif yang dilakukan pasien
6)      Batasi jumlah pengunjung hanya ± 1-2 orang setiap kali
Rasional : Lebih sedikit pengunjung akan dipertahankan mempertahankan stimulasi sederhana dan refleks katastropik
7)      Berikan teman hewan peliharaan jika memungkinkan dan sesuai
Rasional : Hewan peliharaan memberikan penerimaan dicintai, kesempatan untuk menyentuh dan merupakan katalis untuk bersosialisasi
b.      Beri kesempatan untuk memnuhi kebutuhan intimasi dan ekspresi seksual.
Rasional  :  Intimasi dan ekspresi seksual akan memberikan rasa kepuasan hati dan kepuasan pada pasien.
2.2.4    Implementasi
 Maryam dkk (2011) menyebutkan bahwa perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana perawatan yang telah dibuat dan perawat memberikan  pelayanan kesehatan untuk memelihara kemampuan fungsional lansia dan mencegah komplikasi serta meningkatkan kemampuan. Tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan dari setiap diagnosis keperawatan yang telah dibuat dengan berdasarkan pada konsep asuhan keperawatan gerontik.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada lansia antara lain :
1.    Menumbuhkan dan membina hubungan saling percaya dengan cara memanggil nama klien.
2.    Meningkatkan rangsangan pancaindra melalui buku-buku yang dicetak besar dan berikan warna yang dapat dilihat.
3.    Mempertahankan dan melatih daya orientasi realita: kalender. Jam, foto-foto serta banyaknya jumlah kunjungan.
4.    Memberikan perawatan genitourinaria dengan mencegah inkontinensia dengan menjelaskan dan memotivasi klien untuk BAK tiap 2 jam serta observasi jumlah urin pada saat akan tidur.
5.    Memberikan peraawatan psikososial: jelaskan dan motivasi untuk sosialisasi, bantu dalam memilih dan mengikuti aktivitas, fasilitasi pembicaraan, sentuhan pada tangan untuk memelihara rasa percaya, berikan penghargaan serta bersikap empati.
6.    Memelihara keselamatan: usahakan agar pagar tempat tidur (pengaman) tetap dipasang, osisi tempat tidur yang rendah, kamar dan lantai tidak berantakan dan licin, cukup penerangan, bantu untuk berdiri, serta berikan penyangga pada waktu berdiri bila diperlukan.
2.2.5    Evaluasi
      Evaluasi pada klien dengan demensia menurut Videbeck, 2008 yakni perawat harus mengkaji perubahan yang terjadi pada klien dan memperbaiki hasil dan intervensi jika diperlukan. Ketika klien dirawat dirumah, perawat memberikan penyuluhan berkelanjutan kepada anggota keluarga dan pemberi perawatan sambil mendukung mereka saat kondisi klien memburuk.



2.3              Konsep masalah yang diangkat
2.3.1    Pengertian
      Perubahan proses pikir adalah suatu keadaan individu mengalami gangguan kognitif dan aktivitas menurut Videbeck (2008),  sedangkan menurut Wilkinson,  (2006)  perubahan proses pikir adalah suatu kondisi gangguan aktivitas dan kerja kognitif (misalnya, pikiran sadar, orientasi realita, pemecahan masalah dan penilaian) yang terjadi pada individu.













2.3.2    Patofisiologi
Faktor predisposisi : virus lambat, proses autoimun, keracunan aluminium dan genetik
Penurunan metabolisme dan aliran darah di korteks parietalis superior
Kerusakan neurofibrilar yang difus
Hilangnya serat saraf kolinergik di korteks serebrum
Degenerasi neuron kolinergik
Terjadi pada senilis
Penurunan sel neuron kolinergik yang berproyeksi ke hipokampus dan amigdaia
Asetilkolin pada otak
Kelainan neurotransmitter
Demensia
Demensia
Tingkah laku aneh dan kacau, dan cenderung memengembara. Mempunyai dorongan kekerasan
1.    Perubahan proses pikir
2.    Kerusakan interaksi sosial
3.    Kerusakan komunikasi verbal
Kehilangan kemampuan menyelesaikan masala : Perubahan mengawasi keadaan yang kompleks dan berpikir abstrak : emosi labil, pelupa, apatis


4.  Resiko tinggi trauma
5.     Defisit perawatan diri (makan,minum,berpakaian,dan higiene)
Perubahan kemampuan merawat diri sendiri
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
          .


















Skema 2.2  Patofisiologi demensia alzheimer
Sumber : Muttaqien (2008)
2.3.3    Penatalaksanaan perubahan proses pikir
           Intervensi keperawatan yang dapat diambil untuk mengatasi masalah perubahan proses pikir menurut Brunner dan Suddart  (2001) adalah :
Diagnosa keperawatan :   Perubahan proses pikir ( kognisi, persepsi, konfusi, dan disorientasi yang berubah) b.d degenerasi neuronal dan demensia progresif
Tujuan           : Mempertahankan keselamatan fisik
Kriteria hasil :
1.      Mempertahankan fungsi ingatan yang optimal
2.      Memperlihatkan penurunan dalam perilaku yang bingung
3.      Menunjukkan respon yang sesuai untuk stimulasi taktil, visual, auditori
4.      Mengungkapkan rasa keamanan dan perlindungan
5.      Menunjukkan orientasi optimal terhadap waktu, tempat, orang
Intervensi :
a.       Kurangi konfusi lingkungan :
1)      Dekati pasien dengan cara yang menyenangkan dan kalem
Rasional   : Stimulasi yang sederhana dan terbatas akan memfasilitasi interpretasi dan mengurangi distorsi input
2)      Cobalah agar mudah ditebak dalam sikap dan percakapan anda
Rasional     :  Perilaku yang dapat ditebak kurang mengancam dibanding perilaku yang dapat ditebak
3)      Pertahankan jadwal sehari-hari yang teratur
Rasional      :  Stimulasi yang sederhana dan terbatas akan memfasilitasi interpretasi dan mengurangi distorsi input
4)      Alat bantu mengingat sesuai yang diperlukan ( daftar, catatan, label pada barang-barang, gambar, diagram )
Rasional      :  Alat bantu ingatan akan membantu pasien mengingat
c.       Tingkatkan isyarat lingkungan:
1)      Perkenalkan diri anda ketika berinteaksi dengan pasien
Rasional    :Dengan meningkatnya kehilangan ingatan, akan ada baiknya memperkenalkan diri anda pada awal setiap interaksi dengan pasien
2)      Panggil pasien dengan menyebutkan namanya
Rasional      :  Meningkatkan hubungan saling percaya
3)      Berikan isyarat lingkungan untuk orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang ( gambar, foto, jam, kalender ) dengan penanda silang untuk hari yang telah dilewati, lorong dan pintu yang menggunakan kode warna
Rasional    : Isyarat lingkungan akan meningkatkan orientasi terhadap waktu, tempat, dan individu akan mengisi kesenjangan ingatan dan berfungsi sebagai pengingat
4)      Berikan penunjuk waktu
Rasional    : Penunjuk waktu jam akan meningkatkan orientasi terhadap waktu dan berfungsi sebagai pengingat
5)      Interpretasikan stimulasi lingkungan sebagai bagian percakapan
Rasional    : Meningkatkan respon yang sesuai untuk stimuli taktil, visual dan auditori


Komentar

Postingan Populer