Kep gawat darurat : Cedera Kepala berat


BAB II
KONSEP TEORI

A.    Konsep Teori

1.       Pengertian
a.       Cedara kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi  otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin, 2008).
b.      Cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial (Smeltzer,2000).
c.       Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tulang tengkorak dan otak, paling sering terjadi dan merupakan proporsi epidemiologi sebagian hasil kecelakaan jalan raya ( Brunner dan Suddart, 2002).
d.      Cedera kepala adalah trauma yang mengenal otak desebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan tingkat kesadaran dan perubahan kemampuan kognitif, fungsi fisik, fungsi tingkah laku, dan emosional (Widagdo W, 2008).

2.       Anatomi Fisiologi

Gambar a.


a.       Meningen
Membran jaringan ikat yang terdiri dari:
1)      Durameter (Pachymeninx).
a)      Lapisan paling luar, merupakan lapisan fibrosa, liat dan kuat.
b)      Membagi ruang antara kranium dan otak menjadi:
1)      Ruang Epidural : antara tulang dan durameter.
2)      Ruang Subdural : antara durameter dan otak.
c)      Terdiri dari 2 lapisan:
1)      Lapisan luar : dikenal sebagai periosteum interna dan berhubungan dengan periosteum eksterna melalui foramen magnum.
2)      Lapisan dalam : berjalan terus ke distal sebagai durameter spinal.
3)      Dengan adanya struktur ini tidak terjadi komunikasi antara ruang epidural kepala dengan ruang epidural spinal.
d)      Mempunyai 4 bangunan lipatan durameter, yaitu:
1)      Falx Cerebri.
2)      Tentorium Cerebri.
3)      Difragma Sella.
4)      Falx Serebeli.

b.      Arakhnoid
1)   Membran jaringan ikat, tipis, tansparan, avaskuler terpisah dari durameter diatasnya hanya oleh sedikit cairan yang fungsinya sebagai pembasah.
2)   Di permukaan basal otak dan sekitar batang otak, piameter dan arakhnoid terpisah agak jauh sehingga terbentuk ruang sisterna subarakhnoid.


3)   Dibagian ventral baatang otak
a)   Sisterna kiasmatik : terletak di daerah kiasma optika.
b)   Sisterna interpendukularis : terletak pada fossa interpedunkularis mesensefalon.
c)   Sisterna pontin : terletak di persimpangan pontomedularis
d)  Dibagian dorsal batang otak :
1)      Sisterna magna (sisterna cerebellomedullaris).
2)      Sisterna ambiens (sisterna superior).
c.       Piameter
1)      Lapisan meningen paling dalam, terdiri dari 2 lapis;
2)      Fungsi : sebagai pelindung masuknya bahan toksis atau mikroorganisme.
3)      Melekat pada parenkim otak / spinal, sehingga mengikuti bentuk sulkus-sulkus.
4)      Mengandung pembuluh darah kecil yang memebri makan pada struktur otak dibawahnya.
5)      Bersama dengan lapisan arakhnoid disebut Leptomeningen.

d.  Pembagian otak ada 3 yaitu:
1) Serebrum (otak besar)
           Terdiri dari 2 hemisfer dan 4 lobus
a)   Hemisfer kanan.
b)   Hemisfer kiri.
c)   lobus frontal.
lobus terbesar, pada tosa anterior fungsi : mengontrol perilaku individu,kepribadian, membuat keputusan dan menahan diri.
d)  lobus temporal (samping)
fungsi menginterpretasikan sensori mengecap, bau dan pendengaran.
e)   lobusparietal
fungsi menginterpretasikan sensori.
f)    Lobus oksipital (posterior)
fungsi menginterpretasikan penglihatan.

2)       Serebelum (otak kecil)          
Terletak di bagian posterior dan terpisah dari hemister serebral Serebelum mempunyai fungsi merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas terhadap koordinasi dan gerakan halus.
3)      Batang Otak
Terdiri dari bagian-bagian otak tengah, pons dan medula oblongata:
a)      otak tengah
Menghubungkan pons dan serebelum dengan hemister serebrum.
b)      pons
Terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medulla.
c)      medula oblongata
fungsi meneruskan serabut-serabut motorik dari otak medula spinalis ke otak.
( Brunner and Sudarth, 2002).
3. Etiologi
a. Trauma tumpul
1)    Kecepatan tinggi : tabrakan motor dan mobil.
2)    Kecepatan rendah : terjatuh atau dipukul.
b. Trauma tembus
Luka tembus peluru dari cedera tembus lainnya (Mansjoer, 2000:3).
c. Jatuh dari ketinggian.
d. Cedera akibat kekerasan.
e. Cedera otak primer.
Adanya kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Dapat          terjadi memar otak dan laserasi.
f. cedera otak sekunder
kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia metabolisme, fisiologi yang       timbul setelah trauma.
g. Cidera kepala dapat disebabkan oleh dua hal antara lain :

1).      Benda tajam
Trauma benda tajam dapat menyebabkan cidera setempat.

2).      Benda tumpul
Dapat menyebabkan cidera seluruh kerusakan terjadi ketika energi/kekuatanditeruskan kepada otak.

(Cholik dan Saiful, 2007:25 )

4.  Manifestasi

a.       Hilangnya kesadaran lebih dari 24 jam.
b.      Kebingungan.
c.       Pucat.
d.      Mual dan muntah.
e.       Pusing kepala.
f.       Terdapat hematoma.
g.      Kecemasan.
h.      Sukar untuk dibangunkan.
i.        Bila fraktur basis cranii, mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

5. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi. pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.
Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output.
Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu berfungsi.

Trauma Kepala                                   
                                    Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                                                       
                                                            Perdarahan
                                               
Penambahan volume intrakranial                    Penurunan volume darah
pada cavum cranial                                        
                                                                        Bila tidak di hentikan terjadi
Proses desak ruang pada area otak                 penurunan volume intravaskuler
Kompresi pada vena sehingga                        Penurunan arus balik
Terjadi Stagnasi Aliran darah                         darah vena ke jantung
                                                                                                                                                                                                                                    Peningkatan TIK                                             Penurunan isi sekuncup                                                                                                                                                                                                                      
Perubahan Perfusi Jarinagan Serebral / otak
Syok Hipovolemik
Menurunnya aliran darah ke otak                   Penurunan curah jantung (TD menurun)                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Penurunan perfusi jaringan                                                                                                                                                                                                                                                     Herniasi otak / otak terdesak (displace) kebawah mel. Tentorium    

Menekan pusat vasomotor ; a. Cerebral posterior, N III, Corticospinalpathway, & serabut RAS
           
Ketidakmampuan disertai Penurunan kesadaran n                                                                             beraktivitas
Mekanisme untuk mempertahankan : Kesadaran, pengaturan suhu TD, HR, RR, pergerakan                                                          terganggu                                                                                                                                                        Penurunan kesadaran              Gangguan                    Pusat nafas                                                                  Thermoregulasi            terganggu                               
            Refllek batuk menurun           Hiperpirexia   
                                   
Intoleransi aktifitas
Bersihan Jalan Nafas Tidak  Efektif
                                                                                                                                    Penumpukan sekret                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
Resiko Gangguan Integritas kulit
                                                                                                           
Pola Nafas Tidak Efektif
 


                                                                        (Sumber : Tuti Pahria )


6.  Pemeriksaan Penunjang

a. CT Scan kepala
( Tanpa atau dengan kontras) mengidentifikasi adanya SOL, Hemoragik, mentukan ukuran ventrikuler, pergeseran jaringan otak. Pemeriksaan berulang mungkin diperlukan pada iskemik atau infak, mungkin tidak terdeteksi dalam 24- 72 jam pasca trauma.

b. Rontgen
            Untuk melihat apakah adanya fraktur pada bagian tubuh.

c.  Kimia atau elektrolit darah
Mengetahui ketidak seimbangan yang berperan meningkatkan TIK atau perubahan mental.

7. .Klasifikasi
1.      Klasifikasi
a.       Tingkat keparahan (berdasarkan GCS)
1.)    Ringan ( Mild Brain Injury) GCS 13-15
a)      Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia < 30 menit.
b)      Tidak ada fraktur tengkorak.
c)       tidak ada contusio cerebri, tapi terdapat epidural hematoma.
2.)    Sedang  ( Moderate Brain Injury ) GCS 9-12
a)      Dapat terjadi kehilangan kesadaran dan atau amnesia > 30 menit tapi < 24 jam.
b)      Dapat mengalami fraktur tengkorak. Dapat juga menimbulkan hematoma di beberapa daerah kepala.
3.)    Berat ( Severe Brain Injury ) GCS 3-8
a)      Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia > 24 jam.
b)      Meliputi contusio cerebral,
c)      laserasi atau hematoma intra cranial.
d)     Terdapat fraktur basis crania.
e)      Perdarahan di daerah hidung, mulut dan telinga.

b.      Mekanisme Cedera
1)      Cedera percepatan ( Aselerasi )
a)      Terjadi jika kepala yang diam terbentur benda yang sedang bergerak.
b)      Seperti akibat pukulan/lemparan benda tumpul.

2)      Cedera perlambatan ( Deselarisasi )
Terjadi jika kepala membentur objek yang secara relative bergerak, seperti badan mobil/tanah ( Hudak & Gallo,1996).
c.       Klasifikasi klinis cedera kepala
1)      Tingkat I :
Bila dijumpai adanya riwayat kehilangan kesadaran atau pingsan yang sesaat setelah mengalami trauma dan kemudian sadar kembali, tidak ada deficit neurologis.

2)      Tingkat II :
Kesadaran menurun namun masih dapat mengikuti perintah-perintah yang sederhana dan dijumpai deficit neurologis.
3)      Tingkat III :
a)      Kesadaran sangat menurun dan tidak dapaty mengikuti perintah-perintah (walaupun sederhana) sama sekali.
b)      Penderita masih bisa bersuara, namun kacau, gaduh, gelisah.
c)      Respon motorik bervariasi dari keadaan yang masih mampu melokalisir nyeri s.d tidak ada respon sama sekali.
d)     Postur tubuh dapat menunjukkan dekortikasi-deserebrasi.

4)      Tingkat IV :
Tidak ada fungsi neurologis sama sekali.

d.      Jenis / Tipe Trauma
1)      Trauma Kepala terbuka
a)      Dapat menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi durameter.
b)      Fraktur tulang tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang disebabkan oleh trauma dengan atau tanpa kerusakan otak.
c)      Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak masuk ke dalam jaringan otak dan melukai atau merusak otak , missal akibat benda tajam/tembakan.
2)      Jenisnya :
a.       Fraktur Linear ; terjadi di daerah temporal , sering menyebabkan perdarahan epidural.
b.      Fraktur basiss Cranial ( fraktur dasar tengkorak)
c.       Disebabkan trauma dari atau kepala bagian atas yang membentur jalan atau benda tajam. Tidak atau dapat dideteksi dengan rontgent foto, karena terjadi sangat dasar.
d.      Tanda-tanda klinik fraktur basis crania :
e.       Battle sign (warna biru/ ekhimosis di belakang telinga diatas os mastoid).


f.       Hemotimpanum (perdarahan gendang tekinga).
g.      Perlorbital echymosis (mata berwarna hitam tanpa trauma langsung pada mata).
h.      Rhinorrhoe ( Liquor cerebrospinal keluar dari hidung).
i.        Ottorhoe ( Liquor oerebrospinal kaluar dari telinga ).

3)      Trauma Kepala Tertutup
Dapat menimbulkan :
a.       Commotio cerebri
Adalah gangguan ringan karena kerusakan jaringan otak berupa perdarahan jaringan interstisial otak tanpa dikontinuitas jaringan otak.
Manifestasi klinis : hilangnya kesadaran < 10 menit tanpa disertai amnesia retrograde.
b.      Contutio cerebri
Merupakan  cedera kepala berat, dimana otak mengalami memar dan kemungkinan adanya hemoragi. Contusio Cerebri, terbagi dalam 5 tingkat :
1.      Grade I
Bila klien tidak mengalami kehilangan memori tentang kejadian sebelum dan susudah trauma.
2.      Grade II
Bila klien mengalami kehilangan memori tentang kejadian sebelum trauma tapi tidak mengalami kehilangan memori setelah kejadian trauma.
3.      Grade III
Bila klien mengalami kehilangan memori tentang kejadian sebelum dan sesudah trauma.
4.      Grade IV
Sama dengan grade III dan kesulitan berkomunikasi.
5.      Grade V
Sama dengan grade IV disertai kesadaran menurun s.d koma.
8. Penatalaksanaan
1) Pada semua pasien dengan cedera kepala dan / atau leher, lakukan foto tulang belakang servikal (proyeksi antero – posteriol, lateral, dan adontoid), kolar servikal baru dilepas setelah dipastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal.
2) Pada semua pasien dengan cedera kepala sedang dan berat, lakukan prosedur berikut :
a) Pasang jalur intravena dengan larutan salin normal (NaCl 0,9%) atau larutan Ringer Laktat : cairan isotonis lebih efektif mengganti volume intravaskuler daripada cairan hipotonis, dan cairan ini tidak menanbah edema serebri.
b) Lakukan pemeriksaan : hematokrit, periksa darah perifer lengkap, trombosit, kimia darah, glukosa, ureum, dan kreatinin, masa protrombin atau masa tromboplastin parsial, skrining toksikologi dan kadar alcohol bila perlu.
c) Lakukan CT Scan dengan jendela tulang : foto rontgen kepala tidak diperlukan jika CT Scan dilakukan, karena CT scan ini lebih sensitif untuk mendeteksi fraktur. Pasien dengan cedera ringan , sedang atau berat, harus dievaluasi adanya :
a.       Hematoma Epidural.
b.      Darah dalam subarachnoid dan intraventrikal.
c.       Kontusio dan perdarahan jaringan.
d.      Obliterasi sisterna perimesensefalik.
e.       Fraktur kranium, cairan dalam sinus dan pneumosefalus.
3) Pada pasien yang koma (skor GCS < 8) atau pasien dengan tanda-tanda herniasi, lakukan tindakan berikut ini :
a) Elevasi kepala 300.
b) Hiperventilasi.
c) Berikan manitol 20% 1 gram / kg intravena dalam 20-30 menit. Dosis ulangan dapat diberikan 4-6 jam kamudian yaitu sebesar ¼ dosis semula setiap 6 jam sampai maksimal 48 jam pertama.
d) Pasang kateter foley.
e) Konsul bedah saraf bila terdapat indikasi operasi (hematom epidural besar, hematom subdural, cedera kepala terbuka, dan fraktur impresi > 1 diploe).

4) Penatalaksanaan khusus
a)  Cedera kepala ringan : Pasien dengan cedera kepala ringan ini umumnya dapat dipulangkan ke rumah tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT scan bila memenuhi kriteria berikut :
1)      Hasil pemeriksaan neurologist (terutama status mini mental dan gaya berjalan) dalam batas normal.
2)      Foto servikal jelas normal.
3)      Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama, dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika timbul gejala perburukan.
4)      Sedangkan criteria perawatan di rumah sakit adalah :
a.       Adanya darah intrakrnial atau fraktur atau fraktur yang tampak pada CT Scan.
b.      Konfusi, agitasi, atau kesadaran menurun
c.       Adanya tanda atau gejala neurologist fokal.
d.      Intoksikasi obat atau alcohol.
e.       Adanya penyakit medis komorbid yang nyata.
f.       Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.
b)   Cedera kepala sedang : pasien yang menderita konkusi otak (komosio otak), dengan skala koma Glasgow 15 (sadar penuh, orientasi baik dan mengikuti perintah) dan CT Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri kepala, mual, muntah, pusing, atau amnesia. Resiko timbulnya lesi intracranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.
c) Cedera kepala berat : penatalaksanaan cedera kepala berat seyogyanya dilakukan di unit rawat intensif. Hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan cedera kepala berat adalah :
                                                                     1)      Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi.
                                                                     2)      Monitor tekanan darah : karena autoregulasi sering terganggu pada cedera kepala akut, maka tekanan arteri rata-rata harus dipertahankan untuk menghindari hipotensi (<70 mmHg) dan hipertensi (>130 mmHg). Hipertensi dapat menyebabkan iskemia otak sedangkan hipertensi dapat mengeksaserbasi serebri.
                                                                     3)      Pemasangan alat monitor tekanan intracranial pada pasien dengan skor GCS <8, bila memungkinkan.
                                                                     4)      Penatalaksanaan cairan : hanya larutan isotonis (salin normal atau ringer laktat) yang diberikan kekpada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan dalam salin 0,45% atau dekstrose 5% harus diberikan sesegera mungkin.
                                                                     5)      Nutrisi : cedera kepala berat menimbulkan respon hipermetabolik dan katabolic, dengan keperluan 50-100% lebih tinggi dari normal. Pemberian makanan enteral melalui pipa nasogatrik harus diberikan sesegera mungkin.
                                                                     6)      Temperatur badan : demam dapat mengakserbasi cedera otak.
                                                                     7)      Anti kejang : fenitoin 15-20 mg/kgBB bolus intravena, kemudia 300 mg/hari intravena.

8).Steroid : tidak terbukti mengubah hasil pengobatan pasien dengan cedera kepala dan dapat meningkatkan resiko infeksi, hiperglikemi dan komplikasi lain.
9).Antibiotik : penggunaan antibiotic rutin untuk profilaksis pada pasien dengan cedera kepala terbuka masih controversial. Golongan penisilin dapat mengurangi resiko meningitis.
10) Antasida – AH2
Untuk mencegah perdarahan GIT : simetidin, ranitidin, famotidin. Furosemid adakalanya diberikan bersama dengan obat anti edema lain. Dosis : 1 mg/kg BB IV, dapat diulang tiap 6 – 12 jam.

9.  Komplikasi

a. Cedera otak sekunder akibat hipoksia dan hipotensi.
b. Edema Cerebral : Terutama besarnya massa jaringan di otak di dalam rongga tulang           tengkorak yang merupakan ruang tertutup.
c.Peningkatan tekanan intrakranial : terdapat perdarahan di selaput otak.

d. infeksi.
e. hidrosefalus.
f. Hemoragi.

B.     Konsep Asuhan Keperawatan

1.      Pengkajian
a.       Identitas Klien
Nama pasien, umur : kebanyakan terjadi pada usia muda, jenis kelamin : kebanyakan laki-laki, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, alamat, suku bangsa.

b.      Riwayat Kesehatan
1)      Keluhan Utama
Pada umumnya klien mengalami penurunan kesadaran ( GCS < 15), bila kesadarannya baik biasanya mengeluh sakit atau nyeri kepala, pusing, mual, muntah.

2)      Riwayat Kesehatan Sekarang
a)      Kaji penyebab trauma  : biasanya karena kecelakaan lalu lintas atau sebab lain tanyakan kapan, dimana, apa penyebab serta bagaimana proses terjadi trauma
b)      Apakah saat trauma pingsan, berapa lama, disertai muntah, perdarahan atau tidak
c)      Riwayat amnesia setelah cedera kepala menunjukkan derajat kerusakan otak
c.       Primary Survey
1)      Airway
Apakah ada sumbatan jalan nafas seperti darah, secret, lidah dan benda asing lainnya suara nafas normal/tidak,apakah ada kesulitan bernafas.

2)      Breating
Pola nafas teratur,observasi keadaan umum dengan metode:
Look:lihat pergerakan dada pasien teratur,cepat,dalam atau tidak.
Listen:dengarkan aliran udara yang keluar dari hidung pasien.
Feel:rasakan aliran udara yang keluar dari hidung pasien.
3)      Circulation
Akral  hangat /dingin cianosis atau tidak,nadi teraba,apakah ada
d. Secondary survey
            1) Disability
Apakah terjadi penurunan kesadaran , nilai GCS, pupil isokor, nilai kekuatan otot, kemampuan ROM.
2)      Eksposure
Ada atau tidaknya trauma kepala, ada atau tidak nya luka lecet di tangan atau dikaki..
3)        Farenheit
Ada atau tidaknya trauma diderah kepala, ada atau tidaknya peningkatan suhu yang mendadak,demam.
e. Riwayat Kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami cidera kepala atau penyakit persyarafan maupun system lain yang dapat memperburuk keadaan klien.
         Riwayat trauma yang lalu, hipertensi,jantung, dan sebagainya.
f. Riwayat Kesehatan keluarga
Apakah ada salah satu anggota keluarga yang mengalami penyakit hipertensi,jantung, dan sebagainya.
g.         Riwayat psikososial
Bagaimana mekanisme koping klien terhadap penyakit dan perubahan perannya, pola persepsi dan konsep diri seperti rasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah dan tidak kooperatif, kondisi ekonomi klien seperti dampak biaya perawatan dan pengobatan yang besar.

h. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik
Dilakukan secara head to toe yaitu:
a.       Keadaan umum, tergantung berat ringannya cedera, keadaan umum b iasanya lemah

b.      Kesadaran
Pada cidera ringan ,biasanya tidak sadar kurang dari 10 menit ,kemudian sadar.
Compos mentis:
Pada cidera sedang bisa tidak sadar lebih dari 10 meni t,perubahan kesadaran  sampai koma.
Pada cidera berat ,tidak sadar lebih dari 24 jam,perubahan kesadarn sampai koma.

c.       Tanda-tanda vital
Tekanan darah,hipertensi bila ada peningkatan tekanan intra cranial.dan bisa normal pada keadaan yang lebih ringan,nadi bisa terjadi bradikardi ,takikardi.

d.      Kepala
1).  Kulit kepala
pada trauma tumpul,terdapat hematom,bengkak dan nyeri tekan,pada luka terbuka terdapat robekan dan perdarahan.
2).  Wajah/muka
pada cidera kepala sedang ,cidera kepala berat yang terjadi contusion cerebri,terjadi mati rasa pada wajah.
3). Mata
Terjadi penurunan fungsi pengelihatan,reflek cahaya menurun,keterbatasan lapang pandang.dapat terjadi perubahan ukuran pupil,bola mata tidak dapat mengikuti perintah.
4). Telinga
Penurunan fungsi pendengaran pada trauma yang mengenai  lobus temporal yang menginprestasikan  pendengaran ,drainnase cairan serebro spinal pada fraktur dasar tengkorak,kemungkinan adanya perdarahan dari lubang telinga.
5). Hidung
Pada cidera kepala yang mengenai lobus oksipital yang merupakan tempat interpretasi penciuman dapat terjadi penurunan fungsi penciuman .bisa juga terdapat drainase cairan serebro spinal pada fraktur dasar tengkorak yang mengenai sinus paranasal.
6). Mulut
Gangguan menelan pada cidera kepala yang menekan reflek ,serta gangguan pengecapan pada cidera kepala sedang dan berat.

e.       Leher
Dapat terjadi gangguan pergerakan  ,pada cidera kepala sedang dan berat yang menekan pusat motorik, kemungkinan didapatkan kaku kuduk.

f.       Dada
1). Inspeksi : biasanya bentuk simetris,terjadi perubahan irama,frekuensi dan kedalaman pernafasan terdapat retraksi dinding dada.
2). Palpasi : biasanya terdapat nyeri tekan apabila terjadi trauma.
3). Perkusi :bunyi resonan pada seluruh lapang paru,terkecuali daerah jantung dan hepar bunyi redup
4). Auskultasi: biasanya bunyi nafas normal(vesikuler),bisa ronchi apabila terdapat gangguan ,bunyi S1 dan S2 bisa teratur bisa tidak ,perubahan frekuensi dan irama .
       g.   Abdomen
1). Inspeksi : bentuk simetris,tidak terdapat bekas operasi.
2). Auskultasi : bissing usus bisanya normal,bisa meningkat dan menurun.
3). Palpasi :  biasanya terdapat nyeri tekan .ditemukan adanya jejas dan luka tumpul.
4). Perkusi : bunyi timpani

g.      Ekstremitas
Pada cidera kepala sedang dan berat yang menimbulkan kerusakan pada jaringan otak .

Glasgow Coma Scale  (GCS) yang dimaksud adalah :
a.  Membuka mata (Eye Open) Nilai
Membuka mata spontan                                 4
Membuka mata terhadap perintah                   3
Membuka mata terhadap nyeri                        2
Tidak membuka mata                                       1
b. Respon Verbal (Verbal Response)
Orientasi baik dan mampu berkomunikasi   5
Bingung (mampu membentuk kalimat,
 Tetapi arti keseluruhan kacau)                        4        
Dapat mengucapkan kata-kata,
namun tidak berupa kalimat                             3
Tidak mengucapkan kata, hanya
suara mengerang (groaning)                             2
Tidak ada suara                                                1
c. Respon motorik (Motoric Response)
Menurut perintah                                                         6
Mengetahui lokasi nyeri                                   5
Menolak rangsangan nyeri pada anggota
gerak                                                               4
Menjauhi rangsangan nyeri (flexion)          3
Ekstensi spontan                                             2
Tidak ada gerakan                                           1

















2.      ANALISA DATA
NO.
Data Senjang
Interpretasi Data
Masalah
1.




































2.






























3.





















4.





















5











Ds : -

Do :-a. suara nafas stridor
        b. terdapat sumbatan    berupa darah dan sekret
       c.   pasien tampak sesak
       d. Terdapat otot bantu pernafasan




























Ds :-
Do :
a.       Klien tampak sesak
b.      Sekret banyak
c.       Irama tidak teratur
d.      Frekuensi cepat ( > 24 x/menit)
























Ds : -

Do :
a.       Klien tampak gelisah
b.      Penurunan kesadaran
c.       GCS < 8
d.      TTV tidak normal
e.       Pupil anisokor














Ds : -

Do :a.CRT > 2 detik
       b.Akral dingin  
      c. terdapat perdarahan
      d. TD menurun
      e. Bibir sianosis  















Ds : -

Do : a.Klien tampak lemah
        b.klien mengalami penurunan kesadaran
        c.aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat




















Trauma Kepala
 

                                   
Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                   
                Perdarahan
 

Penambahan volume intrakranial pada cavum cranial

Proses desak ruang pada area otak

Herniasi otak/otak terdesak(displace)kebawah melalui Tentorium

Menekan pusat vasomotor; cerebral posterior, N.III, corticospinalpathway dan serabut RAS

Mekanisme untuk mempertahankan: Kesadaran, Pengaturan suhu, TD, HR, RR, Pergerakan terganggu

Penurunan kesadaran
 


Reflek batuk menurun
 


Penumpukan sekret
 


Bersihan jalan nafas tidak efektif





Trauma Kepala
 

                                   
Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                   
                Perdarahan
 

Penambahan volume intrakranial pada cavum cranial

Proses desak ruang pada area otak

Herniasi otak/otak terdesak(displace)kebawah melalui Tentorium

Menekan pusat vasomotor; cerebral posterior, N.III, corticospinalpathway dan serabut RAS

Mekanisme untuk mempertahankan: Kesadaran, Pengaturan suhu, TD, HR, RR, Pergerakan terganggu

Pusat nafas terganggu

Pola nafas tidak efektif


Trauma kepala

Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                   
                Perdarahan
 

Penambahan volume intrakranial pada cavum cranial

Proses desak ruang pada area otak

Kompresi pada vena sehingga terjadi aliran darah ke otak

Peningkatan TIK

Menurunnya aliran darah ke otak

Perubahan Perfusi jaringan serebral

Trauma kepala

Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                   
                Perdarahan
 

Penurunan volume darah

Penurunan arus balik darah vena ke jantung

Penurunan isi sekuncup

Penurunan curah jantung (TD  menurun)

Penurunan curah jantung menurun

Syok Hipovolemik


Trauma kepala

                                   
Kerusakan Pada tulang tengkorak dan struktur otak
                                   
                Perdarahan
 

Penambahan volume intrakranial pada cavum cranial

Proses desak ruang pada area otak

Herniasi otak/otak terdesak(displace)kebawah melalui Tentorium

Menekan pusat vasomotor; cerebral posterior, N.III, corticospinalpathway dan serabut RAS

Mekanisme untuk mempertahankan: Kesadaran, Pengaturan suhu, TD, HR, RR, Pergerakan terganggu

Ketidakmampuan beraktivitas disertai penurunan kesadaran

Intoleransi Aktivitas
Bersihan jalan nafas tidak efektif



































Pola nafas tidak efektif




























Perubahan perfusi jaringan serebral





















Syok Hipovolemik




















Intoleransi Aktivitas





3.      Diagnosa keperawatan
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret dan darah
b.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan pusat pernafasan
c.       Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral akibat trauma kepala.
d.      Syok hipovolemik berhubungan dengan penurunan volume darah
e.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kesadaran
4.      Intervensi keperawatan
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret dan darah
Tujuan : Jalan nafas kembali efektif
Kriteria hasil :
        a. suara nafas vesikuler
        b. tidak terdapat sumbatan berupa darah dan sekret
       c. sesak berkurang atau hilang
       d. tidak Terdapat otot bantu pernafasan
Intervensi :
a.       Pantau frekuensi irama dan kedalaman pernafasan, catat ketidakteraturan pernafasan
Rasional : perubahan dapat menandakan adanya komplikasi menandakan lokasi dan luas bagian otak yang terkena
b.      Auskultasi bunyi nafas. Catat adanya bunyi nafas misalnya mengi, krekels , ronki. Anjurkan klien untuk melakukan nafas dalam
Rasional : obstruksi jalana nafas dapat atau tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas krekels, mengi, ronki.
c.       Lakukan penghisapan lendir dengan hati-hati
Rasional : dapat membersihkan jalan nafas sehingga pernafasan normal.
d.      Tingkatkan masukan cairan 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung.
Anjurkan masukan cairan sebagai pengganti makanan.
Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, mempermudah pengeluaran.
e.       Kolaborasi pemberian oksigen
Rasional : dapat meningkatkan oksigenasi otak

2.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan pusat pernafasan
Tujuan : Pola nafas kembali efektif
Kriteria hasil :
a.       Klien tidak tampak sesak
b.      Sekret tidak ada
c.       Irama teratur
d.      Frekuensi normal ( 16- 24 x/menit)

Intervensi :
a.       Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernafasn. Catat ketidakteraturan pernafasan
Rasional : Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal (mengikuti cedera otak) atau menandakan lokasi/ lkuasnya keterlibatan otak.
b.      Monitor tanda-tanda vital
Rasional : dapat mendeteksi secara dini tanda peningkatan intracranial
c.       Aukultasi suara napas, perhatikan daerah hipovebtilasi dan adanya suara-suara tambahan yang tidak normal seperti krekels, ronki dan mengi)
Rasional : untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti, atau obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi serebral.

d.      Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan
Rasional : untuk mencegah kelebihan cairan yang dapat menambah serebral
e.       Lakukan penghisapan dengan hati-hati
Rasional : dilakukan untuk membuka jalan nafas klien
f.       Kolaborasi Pemberian oksigen
Rasional : memaksimalkan daerah arteri dan membantu pencegahan hipoksia.
3.      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan edema serebral akibat trauma kepala
Tujuan : perfusi jaringan serebral kembali normal
Kriteria hasil :
a.        tingkat kesadaran normal, GCS 15.
b.      TTV normal
c.       Reflek pupil baik
d.      Klien tidak gelisah lagi
Intervensi :
a.       Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/ penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK
Rasional : Menentukan pilihan intervensi
b.      Pantau atau catat status neurologis secara teratur berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan serebral.
Rasional : mengukur kesesuaian fungsi neurologis berdasarkan stimulus.
c.       Monitor keadaan pupil dan reaksi terhadap cahaya dan kaji fungsi penglihatan.
Rasional ; membantu mendeteksi lokasi kerusakan otak serta syaraf cranial
d.      Pantau TD, catat adanya hipertensi sistolik secara terus menrus dan tekanan nadi yang semakin berat : observasi terhadap hipertensi pada pasien yang mengalami trauma multipel
Rasional :Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK.
e.       Catat kemampuan reflek tertentu
Rasional : penurunan reflek menelan menandakan tingkat kerusakan pada batang otak.
f.       Pertahankan kepala atau leher pada posisi netral
Rasional : Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatan TIK
g.      Lakukan pemeriksaan saraf kranial dan pemeriksaan selaput otak
Rasional : untuk mengetahui apakah terdapt kelainan pada saraf kranial dan selaput otak.
h.      Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi
Rasional : menentukan kecukupan pernafasan dan mengidentifikasikan kebutuhan akan terapi
i.        Kolaborasi pembarian obat sesuai indikasi
Rasional : untuk terapi

4.      Syok hipovolemik berhubungan dengan penurunan volume darah
Tujuan : tidak terjadi syok hipovolemik
            Kriteria :
             a.CRT > 2 detik
             b.Akral dingin  
             c. terdapat perdarahan
             d. TD menurun
 e. Bibir sianosis  

intervensi :
a.       Observasi tanda-tanda vital
Rasional : mengetahui keadaan umum klien
b.      Observasi tanda-tanda dan terjadi perdarahan
Rasional : mengetahui adanya dan benyaknya perdarahan
c.       Monitor hasil laboratorium elektrolit, hemoglobin, hematokrit
Rasional : indikasi terjadinya defisit volume cairan
d.      Hentikan perdarahan yang terjadi
Rasional : mencegah terjadinya syok hipovolemik akibat perdarahan
e.       Kolaborasi pemberian cairan infus penggantian cairan yang hilang
Rasional : mengganti cairan yang keluar
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kesadaran
Tujuan : klien dapat melakukun aktivitas secara mandiri
Kriteria :
            a.Klien tampak lemah
            b.klien mengalami penurunan kesadaran
            c.aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat
            intervensi :
a.       Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Catat pningkatan kelelahan/kelemahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas.
Rasional : menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
b.      Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang, dorong penggunaan manajemen stress dan pengalih yang tepat.
Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat
c.       Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional : tirah baring dipertahankan untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan.
d.      Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan, berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
Rasional : meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
4. Implementasi keperawata
Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang ada dan harus dilakukan tepat waktu sesuai dengan perencanaan yang telah di tentukan.
5.      Evaluasi keperawatan
Penilaian apakah tuuan yang ingin dicapai sudah tercapai, tercapai sebagian atau tidak tercapai. Yang terdiri dari evaluasi sumatif S sebagai subjektif, O sebagai objektif, A sebagai analisa, dan P sebagai intervensi yang dilakukan serta evaluasi formatif yang dilakukan setiap kali melakukan tindakan keperawatan





"FILE LENGKAP HUB ke EMAIL aprinosiiswahyudi@gmail.com 
  







Komentar