Keperawatan Jiwa Halusinasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, kesehatan jiwa merupakan upaya  yang   ditujukan   untuk  menjamin setiap  orang    dapat   menikmati   kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006, Kesehatan merupakan suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, kelemahan tapi benar – benar merupakan kondisi yang positif dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang memungkinkan untuk hidup produktif.
Gangguan jiwa yaitu merupakan manifestasi dari bentuk  penyimpangan prilaku akibat adanya kegagalan dan distori emosi sehingga ditemukan ketidak wajaran dalam bertingkah laku. Hal ini terjadi karena adanya penurunan fungsi tingkah laku yang menyimpang atau menurunya fungsi kejiwaan. (Nasir, 2011). Salah satu bentuk gangguan jiwa yaitu skizoprenia yang merupakan suatu bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas ( Direja, 2011)
Skizoprenia dapat menimbulkan beberapa gangguan seperti gangguan persepsi dan proses pikir, dari gangguan yang ditimbulkan oleh pasien yang menderita skizoprenia salah satunya gangguaan persepsi sensori halusinasi pendengaran (Maramis, 2009). Halusinasi pendengaran merupakan suatu prilaku seseorang yang menunjukan tingkah laku seperti mendengar suara atau kebisingan yang kurang jelas ataupun yang jelas, dimana terkadang suara-suara tersebut seperti mengajak berbicara klien dan kadang memerintahkan untuk melakukan sesuatu, adapun prilaku-prilaku yang ditampakkan seperti mengarahkan telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit, dan adanya gerakan tangan(Azizah, 2011).
Menurut World Health Organization (WHO) , melaporkan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa didunia pada tahun 2007 paling tidak 1 dari 4 orang dari 450 juta orang terganggu jiwanya disetiap negara diperkirakan sebanyak 51 juta penduduk dunia menderita gangguan jiwa dengan skizoprenia atau sekitar (0,076% ) dari 6,7 milyar penduduk  diseluruh dunia (Videbeck,2008). Di Indonesia diketahui jumlah gangguan jiwa di Indonesia sebanyak 17.616.000 jiwa dari  130.000.000 jiwa  (13,55 %) ( Yosep, 2011).
Berdasarkan  statistik Medical Record Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bengkulu, pasien yang menderita Skizoprenia yang menjalani rawat inap pada tahun 2009 sebesar 434 dari 635 (68,4%) pasien gangguan jiwa, tahun 2010 sebesar 437 dari 835 (52,3%) pasien gangguan jiwa dan pada tahun 2011 menjadi 345 dari 1837 (18,7%) pasien gangguan jiwa.
Survey awal yang penulis lakukan pada mei 2012 didapatkan data pasien rawat inap di ruangan murai A sebagai berikut, pada bulan februari 2012 diketahui 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 67 pasien rawat inap di ruangan diketahui  bahwa semua pasien menderita dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi pendengaran. bulan maret 2012  dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 47 pasien rawat inap di ruangan diketahui  bahwa 4 dari 5 (80%) pasien menderita halusinasi pendengaran, bulan april 2012 dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 62 pasien rawat inap di ruangan diketahui  bahwa semua pasien menderita dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi, pada bulan mei 2012 dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 53 pasien rawat inap di ruangan diketahui  3 dari 5 pasein (60%) klien menderita dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi, dalam penerapan di ruangan perawat  memberikan intervensi berupa penanganan lewat obat‑obatan serta pendekatan komunikasi terapeutik kepada pasien, dan melakukan tindakan pemutusan halusinasi klien secara berkelanjutan.
Pasien yang mengalami skizoprenia terutama  pada pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi, khususnya halusinasi pendengaran perlu ditangani secara cermat, hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai keperawatan jiwa yang merupakan bagian dari kesehatan jiwa menurut Peplau keperawatan adalah terapeutik dalam seni penyembuhan, membantu individu yang sakit atau membutuhkan perawatan kesehatan yang dinilai dalam proses interpersonal sebab melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu yang mempunyai tujuan. Setiap individu dianggap unik secara biologis, psikologis, sosial, dan spritual, serta tidak akan bereaksi sama seperti yang lain. Setiap orang mempunyai pengalaman belajar yang berbeda dari lingkungan, adat istiadat, kebiasaan, dan keyakinan dari setiap kultur. Setiap orang datang dengan ide-ide yang terbentuk sebelumnya yang mempengaruhi persepsi, dimana persepsi sangat mempengaruhi proses interpersonal. Dalam proses ini perawat mempunyai peran sebagai pendidik, narasumber, penasehat, dan pemimpin. (Direja, 2011)
Stimulus dari halusinasi khususnya dapat berdampak menjadi depresi berat bahkan dapat merusak diri, bunuh diri bahkan menciderai orang lain. Hal ini disebabkan karena klien akan menuruti keinginan dari suara‑suara yang meminta atau menyuruh, klien melakukan sesuatu yang bersifat memaksa. untuk meminimalkan komplikasi atau dampak dari halusinasi dibutuhkan peran perawat yang optimal dan cermat untuk melakukan pendekatan dan membantu klien dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. dengan memberikan penatalaksanaan untuk mengatasi halusinasi adalah melakukan tujuan khusus (TUK), yaitu 1) Membina hubungan saling percaya, dorong klien dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, dan dengarkan ungkapan klien, 2) Klien dapat mengenali halusinasi, 3) Dapat mengendalikan halusinasi, 4) Menggunakan obat untuk mengontrol halusinasi, dan 5) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengendalikan halusinasinya dan melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK). Dengan melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan peran perawat, diharapkan dapat menurunkan angka statistik pada pasien skizoprenia khususnya halusinasi pendengaran.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis  tertarik untuk membahas masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dengan kasus skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeprapto Bengkulu tahun 2012”
1.2. Ruang Lingkup
Dalam Karya Tulis Ilmiah  ini penulis hanya membahas tentang asuhan keperawatan pada satu orang pasien dengan gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran diruangan Murai Rumah Sakit Jiwa(RSJ) Daerah Bengkulu selama 7 Hari perawatan
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh informasi dan gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran dengan kasus skizofrenia
1.3.2 Tujuan Khusus
1.         Mampu menjelaskan konsep dasar teori tentang asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
2.         Mampu melakukan pengkajian  pada pasien dengan asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
3.         Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada pasien asuhan keperawatan asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
4.         Mampu membuat rencana tindakan asuhan keperawatan pada pasien asuhan keperawatan jiwa pada dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
5.         Mampu menerapkan  rencana yang telah disusun pada pasien asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
6.         Mampu menganalisa kesenjangan yang terjadi antara konsep teori dan aplikasi asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan yang diangkat dalam kasus : asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
7.         Mampu menyimpulkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran
1.4.            Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1. Konsep dasar teori
2.1.1. Pengertian
Skizoprenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan prilaku yang aneh dan terganggu(Videbeck,2008), Skizoprenia adalah penyakit neurobiologis yang memengaruhi persepsi klien, cara berfikir, bahasa, emosi, dan prilaku sosialnya (Yosep 2011)
Skizoprenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni ( keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama waham dan halusinasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Direja,2011)
2.1.2. Jenis Skizoprenia
Menurut Ade Herman, 2011 Skizofrenia terbagi beberapa jenis yaitu
a. Skizoprenia simplek : dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan
b. Skizoprenia hebefrenik : gejala utama gangguan proses pikir kemauan dan depersonalisasi
c. Skizoprenia paranoid dengan gejala utama kecurigaan yanng ekstrim disertai waham kejar atau kebesaran
d. lir skizoprenia adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan perubahan kesadaran mungkin berkabut
e. Skizoprenia psiko-afektif yaitu adanya gejala utama skizoprenia yang menonjol dengan disertai gajala depresi atau mania
f. Skizoprenia residual adalah skizoprenia dengan gejala primernya dan muncul setelah beberapa kali serangan skizoprenia
2.1.3. Faktor penyebab Skizoprenia
 Hingga sekarang belum ditemukan penyebab ( Etiologi ) yang pasti mengapa seseorang menderita skizoprenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizoprenia menurut penelitian muktahir antara lain (Yosep, 2011) :
a.    Faktor genetik
Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang menunjukan bahwa kembar identik berisiko mengalami gangguan ini sebesar 50%, sedangkan kembar fraternal berisiko hanya 15%. Hal ini mengindikasikan bahwa skizofrenia sedikit diturunkan.


b.    Virus
Para peneliti memfokuskan infeksi pada ibu hamil sebagai kemungkinan penyebab awal skizofrenia. Epidemik flu kemudian diikuti dengan peningkatan kejadian skizofrenia.
c.    Auto imun
Dimana sistem kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terserang  virus dan penyakit dan mengakibat fungsi otak menurun juga.
d.   Malnutrisi
Dimana asupan nutrisi tidak terpenuhi sehingga otak mengalami penurunan oksigen dan penurunan volume otak sehingga otak mengalami atrofi otak dan pembesaran ventrikel di otak. Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena  kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin, dan kelainan hormonal.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizoprenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena  kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksi, dan kelainan hormonal.



2.1.4. Patopsikologi Skizoprenia
                 Menurut Yosep, 2011 gejala skizoprenia terbagi atas :
Gejala mulai timbul biasanya pada usia remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain:
A.  Fase prodomal
1. Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
2. Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikir dan persepsi.
B.    Fase Aktif
1. Berlangsung kurang lebih satu bulan         
2.  Gangguan dapat berupa gejala psikotik, halusinasi, delusi,  disorganisasi proses pikir, gangguan bicara, gangguan prilaku, disertai gangguan neuro kimiawi
C.   Fase Residual
Klien minimal mengalami 2 gejala, gangguan afektif dan gangguan peran, serangan biasanya berulang.





2.1.5. Gejala skizoprenia
Menurut Yosep, (2011) gejala skizoprenia terbagi atas :
A.    Gejala Positif
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterprestasikan dan merespon pesan atau rangsangan yang datang. Klien skizoprenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Gejala yang biasa yang timbul, yaitu klien merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti bunuh diri.
Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterprestasikan sesuatu yang kadang berlawanan dangan kenyataan. Misalnya, pada penderita skizoprenia, lampu trafik di jalan raya yang berwarana merah-kuning-hijau, dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizoprenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamat-amati, diintai, atau hendak diserang.
Semua itu membuat penderita skizoprenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebagainya.
B.     Gejala Negatif

   Klien skizoprenia kehilangan motivasi dan apatis berat kehilangan enegi dan minat dalam hidup yang membuat klien menjadi orang yang malas. Kerena klien skizoprenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi klien skizoprenia menjadi datar. Klien skizoprenia tidak memiliki ekspresi baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
   Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian dari hidup klien skizoprenia. Mereka tidak memrasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, disamping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien skizoprenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian. Dalam beberapa kasus, skizoprenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun, tetapi serangan banyak terjadi pada usia 40 ke atas. Skizoprenia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi. Diperkirakan penderita skizoprenia sebanyak 1% dari jumlah manusia yang ada di bumi.
2.2.  Konsep Dasar Masalah Halusinasi
2.2.1. Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan dari luar (Direja,2011).
Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indra, dan terjadi dalam keadaan sadar (Maramis,2009 : 142), Sedangkan menurut Yosep 2011 halusinasi adalah suatu persepsi tanpa adanya rangsang dari luar, dapat terjadi karena dasar‑dasar organik fungsional psikotik maupun histerik.
Halusinasi adalah persepsi klien yang salah terhadap lingkungan yang nyata memberi persepsi yang salah atau pendapat tentang suatu tanpa ada objek/rangsangan yang nyata dan hilangnya kemampuan manusia untuk membedakanrangsangan internalpikiran dan rangsangan ekternal. (Trimelia,2011)
Halusinasi adalah suatu gangguan persepsi pada seseorang dimana hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan ekternal (dunia luar), tanpa adanya rangsangan pada panca indra dan terjadi pada keadaan sadar
2.2.2. Rentang Respon Neurobiologis
Respon neurobiologis merupakan berbagai respon perilaku klien yang terkait dengan fungsi otak,  gangguan respon biologis ditandai dengan gangguan sensori persepsi halusinasi. Gangguan respon neurobiologis yang maladaptif terjadi karena adanya :
A.       Lesi pada area frontal, temporal dan limbik sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada. otak dalam memproses informasi
B.       Ketidak mampuan otak untuk menyeleksi stimulus
C.       Ketidak seimbangan antara. dopamin dan neurotransmitter lainnya
Respon neurobiologis individu dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon adaptif sampai dengan respon maladaptif
Respon adaptif                                                                      Respon maladaptif

Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten dengan pengalaman
Harmonis
Hubungan sosial
Perilaku sesuai/cocok


Gangguan proses pikir waham
Perubahan persepsi : halusinasi
Kerusakan proses emosi
Perilaku tidak terorganisir
Isolasi sosial


Kadang-kadang Proses pikir terganggu
Ilusi
Emosi berlebihan/ kurang
Menarik diri
Perilaku tidak sesuai

 








                                                            Gambar : 1.1  
(Sumber : Direja,2011)

Respon maladaptif :
1.         Perubahan proses fikir waham atau delusi adalah suatu bentuk kelainan pikiran (adanya ide-ide atau  keyakinan yang salah)
2.         Halusinasi adalah persepsi yang salah, meskipun tidak ada stimulus tetapi klien merasakannya.
3.         Ketidakmampuan untuk mengalami emosi adalah terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu, kalau tidak hal ini akan menimbulkan kecemasan.
4.         Perilaku tidak terorganisir atau ketidak teraturan adalah respon neurobiologis yang mengakibatkan terganggunya fungsi-fungsi utama dari system saraf pusat, sehingga tidak ada koordinasi antara isi pikiran, perasaan dan tingkah laku.
5.         Isolasi sosial adalah ketidak mampuan untuk menjalin hubungan, kerja sama dan saling tergantung dengan orang lain

2.2.3. Patopsikologi
Menurut Direja, 2011  sebagai berikut :
Perubahan persepsi sensori diawali dengan seorang mengalami kehilangan orang yang dicintai, harta benda atau masalah yang lainnya, dalam kondisi yang berduka berkepanjangan dan putus asa, klien merasa tidak berarti atau harga diri rendah yang membuat klien menarik diri, dalam kondisi menarik diri inilah biasanya klien merasakan gangguan persepsi sensori: halusinasi tahap-tahapan halusinasi sebagai berikut
A.     Tahap I
Fase awal individu sebelum muncul halusinasi disebut juga fase comporting yaitu fase yang menyenangkan, pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
                        Karakteristiknya :
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian memuncak, dan tidak dapat diselasaikan.
Perilaku klien :Tersenyum dan tertawa sendiri yang tidak sesuai, mengerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asik dengan halusinasinya, dan suka menyendir
                 B. Tahap II
Disebut sebagai fase condemming atau asietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikkan, termaksud dalam psikotik ringan.
Karakteristik :
Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan, kecamasan meningkat, melamun, dan berfikir sendiri menjadi dominan. Mulai dirasa ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang tahu. Dan ia tetap dapat mengontrolnya
Prilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom seperti peningkatan denyut jantung, dan tekanan darah, klien asyik dengan dengan halusinasinya dan tidak dapat membedakan realita.
C. Tahap III
Disebut sebagai fase controling atau asietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa. Termaksud dalam gangguan psikotik.
Karakteristik : Bisikan, suara, isi halusinasi semakin mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa, dan tidak berdaya terhadap halusinasinya
Perilaku klien :Kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatiannya hanya beberapa detik, tanda fisik klien berupa berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah
D. Tahap IV
Adalah fase conqueing atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya termaksud dalam psikotik berat
Karakreristik :Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dilingkungan.



Prilaku klien:
Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan dengan dunia nyata.

2.2.4. Jenis Halusinasi
Menurut Trimelia, 2011 jenis halusinasi dibagi menjadi beberapa bagian  sebagai berikut :
A. Halusinasi Pendengaran
Halusinasi ini berbentuk seperti mendengarkan suara yang membicarakan. Mengejek, mentertawakan, mengancam dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu kadang-kadang hal yang berbahaya
B. Halusinasi Penglihatan
Stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar, orang atau panorama yang luas dan kompleks, bisa menyanangkan akau menakutkan
C. Halusinasi Penciuman
Tercium bau yang busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti bau darah, uring atau feces, bau harum seperti parfum



D. Halusunasi Pegecapan
Merasa mengecap sesuatu yang busuk, menjijikan, amis seperti rasa darah, urine perilaku yang muncul seperti mengecap, mulut seperti gerakan mengunyah sesuatu, sering meludah, muntah
E. Halusinasi Perabaan
Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, seperti merasakan sensasi listrik dari tanah, benda mati atau orang, merasa ada yang menyerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil dan makluk halus
F. Halusinasi sinestetik
Merasakan fungsi tubuh, seperti darah mengalir keluar vena dan arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine, perasaan tubuhnya melayang diatas permukaan bumi.

2.2.5. Tanda dan Gejala
Menurut Trimelia, 2011 tanda dan  gejala halusinasi adalah :
           Menyerayangi atau tertawa tidak jelas, menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara, gerakan mata cepat , respon verbal lamban atau diam, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasikkan, terlihat berbicara sendiri, menggerakkan bola mata dengan cepat, bergerak seperti membuang atau mengambil sesuatu, duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba berlari keruangan lain, disorientasi, perubahan kemampuan dan memecahkan masalah, gelisah, ketakutan, ansietas, peka ragsangan, melaporkan adanya halusinasi.

2.2.6. Penatalaksanaan halusinasi
        Penatalaksanaan halusinasi adalah
A. Farmakologis  menurut Yosep,2011.
1.   Chlorpromazine (CPZ)
Indikasinya untuk sindroma psikosis yaitu berat dalam kemampuan memiliki realitas dan kesadaran diri terganggu. Hendaknya berat dalam fungsi mental, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali. Tidak mampu bekerja dalam kegiatan rutin. 
a.          Mekanisme Kerja
Memblokade doparnine pada reseptur pasca sinap diotak khususnya sistem ekstra piramidal.
b.         Efek samping
Sedasi dan gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik mulut kering, kesulitan. dalam miksi dan diksi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan darah okuler meninggi dan gangguan irama jantung

c.     Kontraindikasi
Penyakit hati, eplepsi, kelainan jantung, ketergantungan obat, penyakit sistem saraf dan gangguan kesadaran.
2.   Halloperidol (HDL)
a.    Indikasi
Berdaya tarik dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari ‑ hari.
b.    Mekanisme kerja
Obat antipsikosis dalam kemampuan memblokade dopamine pada reseptor pasca sinoptik neuro di otak khususnya sistem limbik dalam sistem eksternal piramidal.
c.    Efek samping
Terjadi gangguan otonomik (hipertensi, antikolinergik parasimpatik, mulut kering , kesulitan dalam miksi dan diksi, hidung tersumbat, mata rabun, tekanan intra okuler meninggi dan gangguan irama jantung.
3.   Trihexyphemidil (TBP)
a.    Indikasi
Segala jenis penyakit Parkinson termasuk pada pasca ensepalitis dan idiopatik, sindrom parkinson akibat obat misalnya reserppine dan renotmnzine.

b.    Mekanisme kerja
Sinergis dengan kendine obat depresan dan anti kolinergik lainnya.
c.    Efek samping
Mulut kering, penglihatan kabur, mual muntah, bingung, konstipasi, agitasi, tachicardi, dilatasi ginjal dan retensi urin
d.   Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap tryhexsiperidyl, glukoma, sudut sempit, psikkosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostat dan obstruksi saluran pencemaan

B.       Keperawatan
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Yosep, 2011)
a.          Membina hubungan saling percaya
b.         Klien dapat mengenali halusinasi
c.          Klien dapat mengendalikan halusinasi
d.         Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya
e.          Klien mendapat dukungan keluarga. dalam mengendalikan halusinasi
f.          Melaksanakan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
2.3  Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 . Pengkajian Keperawatan Jiwa
A. Identitas
1.      Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan Klien tentang : nama  perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2.      Usia dan No RM
3.      Mahasiswa menuliskan sumber data yang didapat.
B. Alasan Masuk
Tanyakan kepada klien atau keluarga:
1. Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini
2. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini  
3. Bagaimana hasilnya
C. Faktor Predisposisi
1.   Tanyakan kepada Klien atau keluarga apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu
2. Apabila " ya " maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya apabila dia dapat beradaptasi di masyarakat tanpa gejala - gejala gangguan jiwa
3. Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal, apakah klien sebagai pelaku dan atau korban, dan atau saksi, jika klien pernah sebagai pelaku dan korban dan saksi ( 2 atau lebih ) tuliskan pada penjelasan.
4. Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga Iainnya yang mengalami gangguan jiwa, apabila ada anggota keluarga lama yang mengalami gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga tersebut. Tanyakan apa gejala yang dialami serta riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggota keluarga tersebut.
5. Tanyakan kepada klien/keluarga tentang pengalaman yang tidak menyenangkan (kegagalan, kehilangan/ perpisahan/ kematian, trauma selama tumbuh kembang) Yang pernah dialami klien pada masa lalu.
D. Fisik
     Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ, ukur dan observasi tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan klien, Ukur tinggi badan dan berat badan klien, tanyakan kepada klien atau keluarga apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien, kaji Iebih lanjut sistem dan fungsi organ dan jelaskan sesuai dengan  keluhan yang ada.
E. Psikososial
1. Genogram
a. Buatlah genogram minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan   klien dan keluarga. contoh

45

 = perempuan

= laki-laki

= cerai/putus hubungan

= meninggal

= orang yang tinggal serumah

= orang yang terdekat

= klien

= umur klien



 










47
 

b.  Jelaskan masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.



2. Konsep diri
a. Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.
b. Identitas diri, tanyakan tentang
Status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah, tempat kerja, keompok), kepuasan klien sebagai laki-Iaki/perempuan.
c. Peran: Tanyakan,
Tugas/ peran yang diemban dalam keluarga/kelompok/ masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan tugas/ peran tersebut
d. Ideal diri : Tanyakan,
Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/peran, harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat), harapan klien terhadap penyakitnya
e. Harga diri : Tanyakan,
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi no. 2 a, b, c, d, Penilaian/ penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupannya.


3. Hubungan sosial
a.   Tanyakan pada klien siapa orang yang berarti dalam kehidupannya, tempat  mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau sokongan.
b. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang diikuti dalarn masyarakat.
c. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat dalam kelompok dimasyarakat.
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Tanyakan tentang:
1)   Pandangan dan keyakinan, terhadap gangguan jiwa sesuai dengan norma budaya dan agama yang dianut.
2)   Pandangan masyarakat setempat tentang gangguan jiwa.
b. Kegiatan ibadah : Tanyakan:
1)      Kegiatan ibadah dirumah secara individu dan kelompok.
2)      Pendapat klien/ keluarga tentang kegiatan ibadah.
F.  Status Mental
1.  Penampilan.
         Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga :
a.       Penampilan tidak rapih jika dari ujung rambut sampai ujung kaki ada yang tidak rapih. Misalnya : rambut acak-acakan, kancing baju tidak tepat, resleting tidak dikunci, baju terbalik, baju tidak diganti-ganti.
b.      Penggunaan pakaian tidak sesuai misalnya : pakaian dalam, dipakai diluar baju.
c.       Cara berpakaian tidak seperti biasanya jika. penggunaan pakaian tidak tepat (waktu, tempat, identitas, situasi/ kondisi).
d.      Jelaskan hal-hal yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum.
2.   Pembicaraan
a.  Amati pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah cepat, keras.
     gagap, membisu, apatis dan atau lambat
b. Bila pembicaraan berpindah-pindah dari satu kalimat ke kalimat lain yang tak ada kaitannya
c.  Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
3.   Aktivitas motorik
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/ keluarga.
a.       Lesu, tegang, gelisah sudah jelas.
b.      Agitasi = gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan,
c.       Tik = gerakan-gerakan kecil pada otot muka yang tidak terkontrol.
d.      Grimasen = gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol klien.
e.       Tremor = jari- jari yang tampak gemetar ketika klien menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari.
f.       Kompulsif = kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan seperti berulang kali mencuci tangan, mencuci muka, mandi, mengeringkan tangan dan sebagainya.
g.      Jelaskan aktivitas yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum.
4.  Alam perasaan.
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga.
a.    Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan sudah jelas
b.   Ketakutan = objek yang ditakuti sudah jelas.
c.    Khawatir = objeknya belum jelas.
d.   Jelaskan kondisi klien yang tidak tercantum.
5.  Afek
                             Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
a.  Datar = tidak ada perubahan roman muka pada saat ada stimulus yang  menyenangkan atau menyedihkan.
b.  Tumpul = hanya bereaksi bila ada stimulus emosi yang kuat.
c.   Labil = emosi yang cepat berubah-ubah.
d. Tidak sesuai = emosi yang tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada.
e.  Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
6.  lnteraksi selama wawancara
Data ini didapatkan melalui hasil wawancara dan observasi perawat dan keluarga
a  Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas.
b. Kontak mata kurang - tidak mau menatap lawan bicara.
c.  Defensif - selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya.
d. Curiga - menunjukan sikap/ perasaan tidak percaya pada orang lain
e. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
7.  Persepsi.
a. Jenis-jenis halusinasi sudah jelas, kecuali penghidu sama dengan penciuman.
b.  Jelaskan isi halusinasi, frekuensi, gejala yang tampak pada saat klien berhalusinasi.
8.  Proses pikir
Data diperoleh dari observasi dan saat wawancara
a. Sirkumstansial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada tujuan pembicaraan.
b. Tangensial : pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada tujuan.
c. Kehilangan asosiasi : pembicaraan tak ada hubungan antara satu   kalimat dengan kalitnat lainnya, dan klien tidak menyadarinya.
d.  Flight of ideas : pembicaraan.yang meloncat dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan.
e. Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali.
f.    Perseverasi : pembicaraan yang diulang berkali-kali.
g.  Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara.
9.  lsi pikir.
Data didapatkan melalui wawancara.
a.       Obsesi : pikiran yang selalu muncul walaupun klien berusaha menghilangkannya.
b.      Phobia : ketakutan yang phatologis/ tidak logis terhadap objek/ situasi tertentu.
c.       Hipokondria : keyakinan terhadap adanya gangguan organ dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada.
d.      Depersonalisasi : perasaan klien yang asing terhadap diri sendiri, orang atau lingkungan.
e.       Ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian yang terjadi lingkungan yang bermakna dan terkait pada dirinya.
f.       Pikiran magis : keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan hal-hal yang mustahil/ diluar kemampuannya.
g.      Waham.
1)      Agama : keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan secara berulang tetapt tidak sesuai dengan kenyataan.
2)      Somatik : klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya dan dikatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
3)      Kebesaran : klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
4)      Curiga : klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
5)      Nihilistik : klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Waham yang bizar
1)      Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disisipkan didalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
2)      siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
3)      Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.
h.      Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara.
10. Tingkat kesadaran
Data tentang bingung dan sedasi diperoleh melalui wawancara dan observasi, stupor diperoleh melalui observasi, orientasi klien (waktu, tempat, orang) diperoleh melalui wawancara
a.   Bingung . tampak bingung dan kacau.
b. Sedasi : mengatakan merasa melayang-layang antara sadar/ tidak sadar.
c.       Stupor : gangguan motorik seperti kekakuan, gcrakan-gerakan yang diulang, anggota tubuh klien dapat dikatakan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien, tapi klien mengerti semua yang terjadi dilingkungan.
d.      Orientasi waktu, tempat, orang jelas
e.       Jelaskan data objektif dan subjektif yang terkait hal-hal diatas.
f.       Masalah keperawatan sesuai dengan data.
g.      Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara
11.   Memori.
Data diperoleh melalui wawancara
a.  Gangguan daya ingat jangka panjang : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan
b.  Gangguan daya ingat jangka pendek : tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir.
c.  Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
d. Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya.
e.  Jelaskan sesuai dengan data terkait.
12.  Tingkat konsentrasi dan berhitung
Data diperoleh melalui wawancara
a.       Mudah dialihkan : perhatian klien mudah berganti dari satu objek ke objek lain.
b.      Tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar pertanyaan diulang/ tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.
c. Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan penambahan/ pengurangan pada benda-benda nyata.
d.   Jelaskan sesuai dengan data terkait.
13.   Kemampuan penilaian
a. Gangguan kemampuan penilaian ringan: dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan, klien dapat mengambil keputusan.
b. Gangguan kemampuan penilaian bermakna : tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain. Contoh : berikan kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu sebelum mandi. Jika diberi penjelasan klien masih tidak mampu mengambil keputusan.
c.  Jelaskan sesuai dengan data terkait.




14.   Daya tilik diri
Data diperoleh melalui wawancara
a.  Mengingkari penyakit yang diderita : tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik, emosi) pada dirinya dan merasa tidak perlu pertolongan
b. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat ini.
c.  Jelaskan dengan data terkait.
G.  Kebutuhan Persiapan Pulang
1.  Makan
a. Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka/ tidak suka/ pantang) dan cara makan.
b.   Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat makan.
2.   BAB/BAK,
a.       Observasi kemampuan klien untuk BAB / BAK.
b.      Pergi, menggunakan dan membersihkan WC
c.       Membersihkan diri dan merapikan pakaian



3.  Mandi
a.       Observasi dan tanyakan tentang frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis, jenggot dan rambut)
b.      Observasi kebersihan tubuh dan bau badan.
4.  Berpakaian
a.    Observasi kemampuan klien dalam mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki.
b.   Observasi penampilan dandanan klien.
c.    Tanyakan dan observasi frekuensi ganti pakaian.
d.   Nilai kemampuan yang harus dimiliki klien: mengambil, memilih dan mengenakan pakaian.
5.   lstirahat dan tidur
 Observasi dan tanyakan tentang:
a.       Lama dan waktu tidur siang / tidur malam
b.      Persiapan sebelum tidur seperti: menyikat gigi, cuci kaki dan berdoa.
c.       Kegiatan sesudah tidur, seperti: merapikan tempat tidur, mandi/ cuci muka dan menyikat gigi.



6.   Penggunaan obat
Observasi dan tanyakan kepada klien dan keluarga tentang:
a.       Penggunaan obat: frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara.
b.      Reaksi obat.
7.   Pemeliharaan kesehatan
Tanyakan kepada klien dan keluarga tentang:
a.          Apa, bagaimana, kapan dan kemana, perawatan dan pengobatan lanjut.
b.         Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga, teman, institusi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya.
8.   Kegiatan di dalam rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam:
a.       Merencanakan, mengolah dan menyajikan makanan
b.      Merapikan rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel).
c.       Mencuci pakaian sendiri
d.      Mengatur kebutuhan biaya sehari-hari
9.   Kegiatan di luar rumah
Tanyakan kemampuan klien
a.    Belanja untuk keperluan sehari-hari
b.   Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan jalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum)
c.    Kegiatan lain yang dilakukan klien di luar rumah (bayar listrik/ telpon/ air, kantor pos dan bank).
H.    Mekanisme Koping
        Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya, apa koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.
I.        Masalah Psikososial dan Lingkungan
Data didapatkan melalui wawancara pada kilen atau keluarganya. Pada tiap masalah yang dimiliki klien beri uraian spesifik, singkat dan jelas.
J.     Pengetahun
Data didapatkan melalui wawancara pada klien. Pada tiap item yang dimiliki oleh klien simpulkan dalam masalah.
K.    Aspek Medik
Tuliskan diagnosa medik  klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang merawat. Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik, psikofarmaka dan terapi lain.






2.3.2 Pengkajian Halusinasi
Sangat penting untuk mengkaji perintah yang diberikan lewat isi halusinasi, karena mungkin saja klien mendengar perintah menyakiti orang lain, atau membunuh maka tindakan pertama yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1.  Faktor Predisposisi
 Faktor predisposisi menurut yosep (2011) adalah sebagai berikut:
 a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga manyebabkan kelian tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustrasi, hilangnya percaya diri dan lebih rentang terhadap stress
 b. Faktor sosiokultural
seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (Unwanted Child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya
 c. Faktor Biokimia
Mempunyai penggaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa, adanya stress yag berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang bersifat halusinogenik neurokimia


 d.Faktor Psikoligis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adaktif. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya
 e. Faktor genetik dan Pola asuh
Penelitan menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua skizofrenia cendrung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukan bahwa faktor keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini
2. Faktor Presipitasi
Menurut Nila Fitria, 2009  maka faktor presipitasi yang terjadi pada klien halusinasi:
Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan enargi ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan, seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada dilingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi faktor pencetusnya terjadi halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
Adapun penyebab pasien kambuh sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Yosep, 2011 bahwa diantara penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor keluarga dan pasien itu sendiri, keluarga adalah support sistem terdekat dan 24 jam bersama dengan pasien, keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mandiri dan patuh mengikuti program pengobatan.
3. Prilaku
Menurut Nila Fitria, 2009  prilaku  yang terjadi pada klien halusinasi respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, takut, tidak aman, gelisah dan bingung, berprilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock dalam Nila Fitria, 2009 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seseorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu :
1) Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik, seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama

2) Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar masalah yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan
3)   Dimensi intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego, pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yanng menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mnegontrol semua prilaku klien.
4) Dimensi sosial
Klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal dan comforting. Klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan, klien asyik dengan halusinasinya, seolah-olahnya ia merupakan tempat memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial. Kontrol diri, dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata.
5) Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktifitas ibadah dan jarang berupanya secara spiritual untuk menyucikan diri
4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan pada klien halusinasi (Maramis,2009 : 101) :
1) Regresi, mundur ketingkat perkembangan yang kurang matang, dan respon yang kurang matang dan biasanya juga dengan aspirasi yang kurang.
2) Proyeksi, menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.

5. Melakukan pengkajian data objektif dan data subjektif
 Hal pertama yang dilakukan kenali jenis dan isi halusinasi, data obejktif dapat anda kaji denga cara mengobservasi prilaku klien, sedangkan data subjektif dapat anda dapatkan saat anda melakukan pengkajian dengan wawancara dengan pasien, melalui data ini perawat dapat mengetahui isi halusinasi







Tipe halusinasi menurut dan data penunjangnya menurut videback, 2008:
Jenis Halusinasi
Data Subjektif
Data Objektif
Halusinasi dengar (audio)
1) Mendengar suara menyuruh
2) Mendengar suara/ bunyi
3) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
4) Mendengar seorang yang sudah meninggal
5) Mendengar suara yang mengacam diri klien
1) Mengarahkan telinga pada sumber suara
2) Berbicara atau tertawa sendiri
3) Marah-marah tanpa sebab
4) Menutup telinga
5) Mulut komat kamit/ bibir bergerak sendiri
6) Ada gerakan tangan
Halusinasi Penglihatan
Melihat seorang yang sudah meninggal, melihat makhluk tertentu, melihat bayangan, hantu atau sesuatu yang menakutkan
1) Tatapan mata pada tempat tertentu
2) Menunjuk kearah tertentu
3) Ketakutan pada objek yanng dilihat
Halusinasi penghidu
1) Mencium sesuatu seperti mayat, darah, faces, atau bau masakan
2) Klien sering mengatakan mencium bau sesuatu
3) Tipe halusinasi ini sering menyertai pasien dimensia, kejang atau penyakit serebrivaskuler
1) Ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada tempat tertentu

Halusinasi Perabaan
1) Klien mengatakan ada sesuatu yang menyerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil, makhluk halus
2) Merasakan sesuatu dipermukaan kulit , merasakan sangat panas atau dingin, marasakan sengatan listrik
Mengusap, mengaruk-garuk, meraba permukaan kulit, terlihat menggerakan badan seperti merasakan sesuatu
Halusinasi Pengecapan
Klien seperti sedang merasakan makanan tertentu, rasa tertentu atau menguyah sesuatu
Seperti mengecap sesuatu, gerakan menguyah meludah atau muntah
Halusinasi kinestetik & sinestetik
Klien mengatakan fungsi jaringan tubuhnya sedang tidak berfungsi misalnya, tidak ada denyutan jantung, atau sensasi pembentukan uring, perasaan tubuhnya melayang diatas permukan bumi
Klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya


6. Mengkaji waktu, Frekuensi dan situasi munculnya halusinasi
Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuesi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Kapan halusinasi terjadi? Apakah siang, sore atau malam, jika mungkin pukul brapa?, frekuensi terus menerus apakan sesekali, situasi terjadinya apakah dalam keadaan sendirir atau setelah terjadi kejadian tertentu, hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi, sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya, dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk mencagah terjadi halusinasi.
7. Mengkaji Respon terhadap Halusinasi
Untuk mengetahui dampak halusinasi pada klien dan apa respon klien ketika halusinasi itu muncul, perawat dapat menanyakan kepada klien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul. Perawat dapat juga menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat dengan klien. Selain itu dapat juga dengan mengobservasi dampak halusinasi pada pasien jika halusinasi timbul.




2.3.3 Pohon Masalah
                             Resiko tinggi perilaku kekerasan

Gangguan Persepsi sensori: Halusinasi pendengaran

 


                                                                                                          
 



     Isolasi sosial                                   

Harga diri rendah kronis
                            
Gambar 2.  ( sumber : Nita Fitria, 2009 )
           
2.3.4 Diagnosa Keperawatan
            Menurut Yosep, 2011 :
A.    Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan
B.     Perubahan persepsi sensori: Halusinasi pendengaran 
C.     Isolasi sosial : menarik diri
D.    Harga diri rendah kronis




2.3.5. Intervensi Keperawatan
            A. Diagnosa I : Gangguan Persepsi sensori: Halusinasi Pendengaran
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Trimelia, 2011)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina hubungan saling percaya
1)      Bina hubungan saling percaya dengan prinsip terapeutik
2)      Sapa klien dengan ramah
3)      Tanyakan nama lengkap klien, dan nama panggilan yang disukai
4)      Jelaskan tujuan pertemuan
5)      Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
6)      Beri perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien
b. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 2) : Klien dapat mengenali halusinasi
1)   Adakan kontak mata secara sering dan singkat secara bertahap
2)   Observasi perilaku verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasinya
3)   Terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat
4)   Identifikasi bersama klien tentang waktu munculnya halusinasi, isi halusinasi dan frekuensi timbulnya halusinasi
5)   Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul
6)   Diskusikan dengan klien mengenai perasaannya saat  terjadi halusinasi
7)   Berikan reinforcement positif atau pujian terhadap kemampuan klien dengan mengungkapkan perasaannya.

c. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 3)
Klien dapat mengontrol halusinasi
1)        Identifikasi bersama klien tindakan yang biasanya dilakukan jika halusinasi muncul:
a)        Menghardik halusinasi
b)        Temui perawat atau teman, atau anggota keluarga)
c)        Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
d)       Membantu klien untuk minum obat secara teratur
e)        Meminta keluarga atau teman atau perawat menyapa klien jika tampak bicara sendiri
2)      Beri pujian dan penguatan terhadap tindakan yang positif
3)      Bersama klien merencanakan kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi
4)      Diskusikan cara mencegah timbulnya halusinasi dan mengontrol halusinasi
5)      Dorong klien untuk memilih cara yang digunakan dalam menghadapi halusinasi
6)      Beri pujian dan penguatan terhadap pilihan yang benar
7)      Diskusikan bersama klien hasil upaya yang telah dilakukan.

d. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 4)
Klien mendapat dukungan keluarga atau memanfatkan sistem pendukung untuk mengendalikan halusinasi
1)      Membina hubungan saling percaya dengan keluarga ( ucapkan salam, perkenalan diri, sampaikan tujuan, buat kontrak dan eksplorasi perasaan)
2)      Diskusikan dengan keluarga tentang :
a)      Perilaku halusinasi
b)      Akibat yang akan terjadi jika perilaku halusinasi tidak ditanggapi
c)      Cara keluarga menghadapi klien halusinasi
d)     Cara keluarga merawat klien halusinasi
e)      Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk mengontrol halusinasinya.

3)      Melaksanakan tujuan khusus (TUK 5)
Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya
1)      Mendiskusikan dengan klien tentang dosis, frekuensi serta manfaat minum obat.
2)      Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
3)      Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat
4)      Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
5)      Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip lima benar
6)      Berikan reinforcement positif atau pujian

2. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Trimelia, 2011)
a.  Melaksanakan tujuan khusus  ( TUK 1)
1)   Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
2)   Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, jenis halusinasi serta proses terjadinya halusinasi
3)   Menjelaskan cara merawat klien dengan halusinasi

b. Melaksanakan Tujuian khusus ( TUK II )
1) Melatih keluarga memperaktekan cara merawat klien dengan halusinasi
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien halusinasi
c) Melaksanakan Tujuan khusus ( TUK III)
1) Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas dirumah termaksud minum obat
2) Menjelaskan persiapan klien setelah pulang

B. Diagnosa III : Harga diri Rendah Kronik
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami Harga diri Rendah Kronik dapat dilakukan dengan cara: (Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina hubungan saling percaya dan mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki kllien
1) Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien
2) Membantu pasien memilih atau menetapkan kemampuan yang akan dilatih
3) Melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang tealah dilatih dalam rencana harian

 b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) : Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien.
1) Malatih pasein melakukan kegiatan yang lain
2) Latihan dapat dilajutkan utnuk kemampuan lain sampai kemampuan lain dapat dilatih
3) Setiap kemampuan yang dimiliki dapat meningkatkan harga diri klien 

2.    Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga  pasien yang mengalami harga diri rendah dapat dilakukan dengan cara: (Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluraga dalam merawat pasien dirumah
2) Menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga dii rendah.
3) Menjelaskan cara merawat paseian dengan harga diri rendah
4) Mendemostrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah
5) Memberi kesempatan kepada keluarga untuk memperaktekkan cara perawat
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II ) Keluarga
Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan harga diri rendah langsung dengan pasien.
c. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III) : Mempersiapkan perencanaan pulang

C. Diagnosa III : Isolasi Sosial : menarik diri
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami isolasi social : menarik diri dengan cara: (yosep, 2011)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina hubungan saling percaya
1)      Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
2)      Berkenalan dengan pasien : perkenalan nama dan nama panggilan yang saudara sukai
3)      Menanyakan perasaan dan keluahan klien saat ini
4)      Buat kontrak asuhan apa yang dilakukan bersama klien, berapa lamaakan dikerjakan, dan tempatnya dimana
5)      Jelaskan perawat akan merahasiakan informasi yang diperlukan untuk kepentingan informasi
6)      Setiap saat tunjukan sikap empati terhadap klien
7)      Penuhi kebutuhan dasar klien saat berinteraksi

b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) : Membantu klien menyadari prilaku isolasi sosial
1) Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
2) Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berintekasi dengan orang lain
3) Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka
4) Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain
5) Jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan fisik klien

c. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III) : Melatih klien cara-cara berinteraksi dengan orang lain secara bertahap
1) Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain
2) Berikan contoh berbicara dengan orang lain
3) Beri kesempatan klien untuk berbicara dengan orang lain yang dilakukan dihadapan perawat
4) Mulailah membantu klien berinteraksi dengan satu orang teman/ anggota keluarga
5) Bila klien sudah menunjukan tanda kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya
6) Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien
7) Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan seseorang.


2.  Melaksanakan tujuan khusus pada keluarga
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang mengalami isolasi sosial  dilakukan dengan cara: (Direja, 2011; 131)
a.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Identifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien
2) Penjelasan isolasi sosial
3) cara merawat pasien isolasi sosial
4) latih (simulasi)
5) Rencana tindak lanjut keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat anggota pasien
b.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) keluarga :
1) Evaluai kemampuan keluarga
2) Latih langsung kepada pasien
3) Rencana tindak lanjut keluraga/ jadwal keluarga untuk merawat klien
c. . Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III)
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Evaluasi kemampuan pasien
3) Rencana tindak lanjut keluarga follow up dan rujukan.




D. Diagnosa IV : Resti prilaku kekerasan
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami perilaku kekerasan  dengan cara: (Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina hubungan saling percaya
1)   Memberikan salam terapeutik
2)   Mengidentifikasi penyabab marah
3)   Mengidentifikasi tanda dan gejala marah
4)   Perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat dan cara mengendalikan kemarahan dengan cara latihan fisik pertana (latihan nafas dalam)
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) : Mengendalikan kemarahanan dengan latihan fisik kedua
1)        Evaluasi laihan nfas dalam
2)        Latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik kedua pukul kasus dan bantal
3)        Menyusun kegiatan dalam jadwal hari kedua

c. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III) : Mengendalikan prilaku kekerasan secara sosial atau verbal
1)   Evaluasi Latihan fisik kedua memukul bantal atau kasur
2)   Latihan mengungkapkan kemarahan secara verbal
a)      Menolak dengan baik
b)     Meminta dengan baik
c)      Mengungkapkan perasaan dengan baik
3)   Susun jadwal kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan verbal

b.         Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK IV) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 4
1)        Evaluasi kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan cara verbal
2)        Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual  ( Latihan beribadah dan berdo’a  )
3)        Membuat jadwal latihan beribadah atau berdo’a
e.     Melaksanakan tujuan khusus (TUK 5) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 5 minum obat
1)   Mendiskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya,
2)   Mengobservasi tanda. dan gejala. terkait efek samping
3)   Mendiskusikan dengan dokter tentang efek samping obat
4)   Bantu klien menggnakan obat dengan prinsip 5 benar

2.  Melaksanakan tujuan khusus pada keluarga
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang mengalami prilaku kekerasan  dilakukan dengan cara: (Direja, 2011; 131)


a.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Memberikan pendidikan kesehatan pada keluraga tentang cara merawat pasien prilaku kekerasan dirumah
2) Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari prilaku kekerasan
3) Diskusikan kondisi klien yang perlu disegera dilaporkan kepada perawat
b.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) keluarga :
1) Melatih keluarga cara melatih kemarahan
2) Anjurkan keluarga untuk memotifasi anggota keluarga pasien untuk melakukan tindakan yang sudah diajarkan oleh perawat
3) diskusikan kepada keluarga tindakan yang harus dilakukan jika pasien menunjukan gejala perilaku kekerasan
c.  Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III)
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Membuat rencana pulang bersama keluarga
3) Rencana tindak lanjt keluarga follow up dan rujukan






2.3.6 Strategi Pelaksanaan  
A. Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami halusinasi menurut Budi Ana Keliat, 2007 adalah :
            1. SP Pasien dengan Halusinasi
a. SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi

Tujuan :
1. Mengenal isi halusinasi
2. Pasien mengenal waktu terjadinya halusinasi
3. Pasien mengenal frekuensi Halusinasi
4. Pasien mengenal perasaan bisa mengalami halusinasi
5. Menontrol halusinasi pertama : menghardik halusinasi

Orientasi:
”Selamat pagi. Saya perawat yang akan merawat Anda. Nama Saya ...... senang dipanggil....... Nama anda siapa? Senang dipanggil apa”
”Bagaimana perasaan....hari ini? Apa keluhan........saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini ........dengar tetapi tak tampak wujudnya? dimana kita duduk? Di ......? Berapa lama? Bagaimana kalau ......”
Kerja:
”Apakah...... mendengar suara tanpa ada wujudnya?Apa yang dikatakan suara itu?”
” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering......dengar suara? Berapa kali sehari.......alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri?”
” Apa yang.....rasakan pada saat mendengar suara itu?”
 ”Apa yang......lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?
” ........, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung......bilang, pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba.....peragakan! Nah begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus......sudah bisa”



Terminasi:
Bagaimana perasaan........setelah peragaan latihan tadi?” Kalau suara-suara itu muncul lagi, silakan coba cara tersebut ! bagaimana kalu kita buat jadwal latihannya. Mau jam berapa saja latihannya? (Anda masukkan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa......?Bagaimana kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih?Dimana tempatnya”
”Baiklah, sampai jumpa.

a.       SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:bercakap-cakap dengan orang lain 

Tujuan :
1. Evaluasi latihan cara menghardik
2. Latihan cara kedua : menemui orang lain dan bercakap-cakap
3. Susun jadwal kegiatan  harian cara ke-2

Orientasi:
“Selamat pagi......Bagaimana perasaan......hari ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai cara yang telah kita latih?Berkurangkah suara-suaranya Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Kita akan latihan selama ....... Mau di mana? Di ......?

Kerja:
“Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau.....mulai mendengar suara-suara, langsung saja cari teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan......Contohnya begini; … tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau kalau ada orang dirumah misalnya Kakak........katakan: Kak, ayo ngobrol dengan ......., ......sedang dengar suara-suara Begitu...... Coba.....lakukan seperti saya tadi lakukan. Ya, begitu. Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus ya .....!”disini..... dapat mengajak perawat atau pasien lain untuk bercakap-cakap

Terminasi:
“Bagaimana perasaan......setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang .......pelajari untuk mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini kalau.......mengalami halusinasi lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian..... Mau jam berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta sewaktu-waktu suara itu muncul! Besok pagi saya akan ke mari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam ......? Mau di mana ......? Sampai besok ya. Selamat pagi”

b.      SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:  melaksanakan aktivitas terjadwal 

Tujuan :

1. Evaluasi jadwal harian untuk 2 cara yang sudah diajarkan : mengahardik dan bercakap-cakap dengan orang lain
2. Latihan melaksanakan aktivitas terjadwal

Orientasi:
“Selamat pagi......Bagaimana perasaan......hari ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai  dua cara yang telah kita latih ? Bagaimana hasilnya ? Bagus ! Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana kita bicara? Baik kita duduk di ....... Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau ......? Baiklah.”

Kerja:
“Apa saja yang biasa......lakukan? Pagi-pagi apa kegiatannya, terus jam berikutnya (terus ajak sampai didapatkan kegiatannya sampai malam). Wah banyak sekali kegiatannya. Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut). Bagus sekali......bisa lakukan. Kegiatan ini dapat ......lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan kita latih lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.

Terminasi:
 “Bagaimana perasaan......setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah suara-suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian......Coba lakukan sesuai jadwal ya!(anda dapat melatih aktivitas yang lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam) Bagaimana kalau menjelang makan siang nanti, kita membahas cara minum obat yang baik serta guna obat. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam ...... pagi?Di ...... ya! Sampai jumpa..


c.       SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur

Tujuan :
1. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang sudah dilatih
2. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip 5 benar, disertai penjelasan tentang guna obat
3. Susun jadwal minum obat secara teratur
Orientasi:
“Selamat siang......Bagaimana perasaan......hari ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai  tiga cara yang telah kita latih ? Apakah jadwal kegiatannya sudah dilaksanakan ? Apakah pagi ini sudah minum obat? Baik. Hari ini kita akan mendiskusikan tentang obat-obatan yang......minum. Kita akan diskusi selama ....... Di ......  saja ya......?”

Kerja:
......adakah bedanya setelah minum obat secara teratur. Apakah suara-suara berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang...... dengar dan mengganggu selama ini tidak muncul lagi. Berapa macam obat yang......minum ? (Perawat menyiapkan obat pasien) Ini yang warna orange (CPZ) 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam gunanya untuk menghilangkan suara-suara. Ini yang putih (THP)3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku. Sedangkan yang merah jambu (HP)  3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk pikiran biar tenang. Kalau suara-suara sudah hilang obatnya tidak boleh diberhentikan. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat......akan kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kalau obat habis......bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi. ......juga harus teliti saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya......harus memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya...... Jangan keliru dengan obat milik orang lain. Baca nama  kemasannya. Pastikan obat diminum pada waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu diminum sesudah makan dan tepat jamnya. ......juga harus perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, dan harus cukup minum 10 gelas per hari”

Terminasi:
“Bagaimana perasaan ......setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Sudah berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba sebutkan! Bagus! (jika jawaban benar). Mari kita masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan ....... Jangan lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau  pada keluarga kalau di rumah. Nah makanan sudah datang. Besok kita ketemu lagi untuk melihat manfaat 4 cara mencegah suara yang telah kita bicarakan. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam ....... sampai jumpa.!

B.     SP Keluarga
a.    SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien halusinasi.




Orientasi:
“Selamat Pagi Bapak/Ibu!”“Saya ......, perawat yang merawat anak Bapak/Ibu.”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini? Apa pendapat Bapak/Ibu tentang anak Bapak/Ibu?”
“Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang anak Bapak/Ibu alami dan bantuan apa yang Bapak/Ibu bisa berikan.”
“Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang wawancara? Berapa lama waktu Bapak/Ibu? Bagaimana kalau ......

 Kerja:
“masalah apa yang Bpk/Ibu rasakan  dalam merawat ....... Apa yang Bapak/Ibu lakukan?”
“Ya, gejala yang dialami oleh anak Bapak/Ibu itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.
”Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri, atau  marah-marah tanpa sebab”
“Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara itu tidak ada.”
“Kalau anak Bapak/Ibu mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu tidak ada.”
”Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara. Ada beberapa cara untuk membantu anak Bapak/Ibu agar bisa mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain: Pertama, dihadapan anak Bapak/Ibu, jangan membantah halusinasi atau menyokongnya. Katakan saja Bapak/Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar suara atau melihat bayangan, tetapi Bapak/Ibu sendiri tidak mendengar atau melihatnya”. 
”Kedua, jangan biarkan anak Bapak/Ibu melamun dan sendiri, karena kalau melamun halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat bersama-sama. Tentang kegiatan, saya telah melatih anak Bapak/Ibu untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Bapak/Ibu pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!”
”Ketiga, bantu anak Bapak/Ibu minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa konsultasi. Terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih anak Bapak/Ibu untuk minum obat secara teratur. Jadi bapak/Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam, ini yang orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau bayangan. Diminum 3 X sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara berpikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obat perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhan”
”Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi anak Bapak/Ibu dengan cara menepuk punggung anak Bapak/Ibu. Kemudian suruhlah anak Bapak/Ibu menghardik suara tersebut. Anak Bapak/Ibu  sudah saya ajarkan cara menghardik halusinasi”.
”Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi anak Bapak/Ibu. Sambil menepuk punggung anak Bapak/Ibu, katakan: ......, sedang apa kamu?Kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila suara-suara itu datang?  Ya..Usir suara itu, ....... Tutup telinga kamu dan katakan pada suara itu ”saya tidak mau dengar”. Ucapkan berulang-ulang, ......
”Sekarang coba Bapak/Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan”
”Bagus Pak/Bu”

Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi anak Bapak/Ibu?”
“Sekarang coba Bapak/Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat anak bapak/Ibu”
”Bagus sekali Pak/Bu. Bagaimana kalau ...... lagi kita bertemu untuk  mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu” 
”Jam berapa kita bertemu?”
Baik, sampai Jumpa.
  
b.      SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung          dihadapan pasien, Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi  langsung dihadapan pasien.

Orientasi:
“Selamat .......!!”“Bagaimana perasaan Bapak atau Ibu pagi ini?”
”Apakah Bapak atau Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi anak Bapak atau Ibu yang sedang  mengalami halusinasi?Bagus!”
” Sesuai dengan perjanjian kita, selama ...... ini kita akan mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”.   
”mari kita datangi Anak bapak/Ibu”

Kerja:
”Selamat pagi ......” ” ......, Bapak//Ibu ......sangat ingin membantu ...... mengendalikan suara-suara yang sering ......dengar. Untuk itu  pagi  ini Bapak/Ibu ......datang untuk mempraktekkan cara memutus suara-suara yang ......dengar. ......nanti kalau sedang dengar suara-suara bicara atau tersenyum-senyum sendiri, maka Bapak/Ibu akan mengingatkan seperti ini” ”Sekarang, coba Bapak/Ibu peragakan cara memutus halusinasi yang sedang ......alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk punggung ......lalu suruh ......mengusir suara dengan menutup telinga dan menghardik suara tersebut” (saudara mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhadap pasien)Bagus sekali!Bagaimana ......? Senang dibantu Bapak/Ibu? Nah Bapak/Ibu ingin melihat jadwal harian ....... (Pasien memperlihatkan dan dorong orang tua memberikan pujian) Baiklah,  sekarang saya dan orang tua ......ke ruang perawat dulu” (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga

Terminasi:
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu  setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan  anak Bapak/Ibu”
 ”Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/Bu. Bapak/Ibu dapat melakukan cara itu bila anak Bapak/Ibu mengalami halusinasi”.
“bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan harian anak Bapak/Ibu untuk persiapan di rumah. Jam berapa Bapak atau Ibu bisa datang?Tempatnya di ......  ya. Sampai jumpa.”



c.       SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

Orientasi

“ Selamat pagi Pak/Bu, karena besok......sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita sekarang ketemu untuk membicarakan jadwal ......selama dirumah”
“Bagaimana pak/Bu selama Bapak/Ibu membesuk apakah sudah terus dilatih cara merawat ......?”
“Nah sekarang kita bicarakan jadwal ......di rumah? Mari kita duduk di ......!”
“Berapa lama Bapak/Ibu ada waktu? Bagaimana kalau ......?”
Kerja
“Ini jadwal kegiatan.....di rumah sakit. Jadwal ini dapat dilanjutkan di rumah. Coba ......... lihat mungkinkah dilakukan di rumah. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan mengingatkan?”....... jadwal yang telah dibuat selama ......di rumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah.Misalnya ....terus menerus mendengar suara-suara yang mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika  hal ini terjadi segera hubungi ....... di Puskesmas terdekat dari rumah Bapak/Ibu, ini nomor telepon puskesmasnya: ..............
Selanjutnya suster ......yang akan membantu memantau perkembangan ......selama di rumah

Terminasi

“Bagaimana Bapak/Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat......di rumah! Bagus (jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya untuk dibawa pulang. Selanjutnya silakan ibu menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan. Kami akan siapkan ......untuk pulang”


B. Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami Harga diri rendah menurut Budi Ana Keliat, 2007 adalah
1. SP Pasien :
a. SP 1 Pasien: Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu pasien memilih/menetapkan  kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian

Orientasi :
“Selamat pagi, bagaimana keadaan  ......hari ini ?  ...... terlihat segar“.
”Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang pernah......lakukan?Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat ...... dilakukna di rumah sakit. Setelah kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih”
”Dimana kita duduk ? bagaimana kalau di ......? Berapa lama ? Bagaimana kalau ......?
Kerja :
”  ......, apa saja kemampuan yang   ...... dimiliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya! Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa  ......lakukan? Bagaimana dengan merapihkan kamar? Menyapu ? Mencuci piring..............dst.“ Wah, bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatan yang  ...... miliki “.
......, dari lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang masih dapat dikerjakan di rumah sakit ? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua.......sampai 5 (misalnya ada 3 yang masih bisa dilakukan). Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini. 
”Sekarang, coba......pilih satu kegiatan  yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini”.” ......yang nomor satu, merapihkan tempat tidur?Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita latihan merapihkan tempat tidur   ......”. Mari kita lihat tempat tidur ....... Coba lihat, sudah rapihkah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapihkan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan selimutnya. Bagus ! Sekarang kita angkat spreinya, dan kasurnya kita balik.  ”Nah, sekarang kita pasang lagi spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus !. Sekarang sebelah kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil bantal, rapihkan, dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita lipat selimut, nah letakkan sebelah bawah/kaki. Bagus ...... sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan bedakah dengan sebelum dirapikan? Bagus ”
“ Coba ...... lakukan dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri) kalau ...... lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) jika diingatkan bisa melakukan, dan T (tidak) melakukan.
Terminasi :
“Bagaimana perasaan   ...... setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapihkan tempat tidur ? Yah,   ......ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini. Salah satunya, merapihkan tempat tidur, yang sudah  ......praktekkan dengan baik sekali.  Nah kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah pulang.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadual harian. ......mau berapa kali sehari merapihkan tempat tidur. Bagus, ...... yaitu ......  jam berapa ? Lalu sehabis ...... , jam ......
”Besok pagi  kita latihan lagi kemampuan yang kedua. ......masih ingat kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapihkan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring.. kalu begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam ...... pagi di ......  Sampai jumpa ya”

a.       SP 2  Pasien: Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan
kemampuan  pasien.    
Orientasi :
“Selamat pagi, bagaimana perasaan  ...... ini ? Wah, tampak cerah ”
 ”Bagaimana......, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore kemarin atau tadi pag? Bagus (kalau sudah dilakukan, kalau belum bantu lagi, sekarang kita akan latihan kemampuan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu......?”
”Ya benar, kita akan latihan mencuci piring di dapur ruangan ini”
”Waktunya sekitar ....... Mari kita ke ......!”
Kerja :
......, sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan dulu perlengkapannya, yaitu sabut/tapes untuk membersihkan piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan air untuk membilas., ......bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh ya jangan lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa-makanan.
“Sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”
“Setelah semuanya perlengkapan tersedia, ......ambil satu piring kotor, lalu buang dulu sisa kotoran yang ada di piring tersebut ke tempat sampah. Kemudian ......bersihkan piring tersebut dengan menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun pencuci piring.  Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak ada busa sabun sedikitpun di piring tersebut. Setelah itu ......bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak yang sudah tersedia di dapur. Nah selesai…
“Sekarang coba  ......yang melakukan…”
“Bagus sekali, ......dapat mempraktekkan cuci pring dengan baik. Sekarang dilap tangannya

Terminasi :
”Bagaimana perasaan......setelah latihan cuci piring ?”
“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari
......Mau berapa kali  ......mencuci piring? Bagus sekali ......mencuci piring tiga kali setelah makan.”
”Besok kita akan latihan  untuk kemampuan ketiga, setelah merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Masih ingat kegiatan apakah itu? Ya benar kita akan latihan mengepel”
”Mau jam berapa ? ......? Sampai jumpa ya ”

2. SP keluarga dengan Harga diri rendah
a.    SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien di rumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah, menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, mendemonstrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, dan memberi kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan cara merawat 
Orientasi :
“Selamat ......... !”
 “Bagaimana keadaan  Bapak/Ibu pagi ini ?”
“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat......? Berapa lama waktu Bapak/Ibu? ......? Baik, mari duduk di ......!”
Kerja :
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah......
“Ya memang benar sekali Pak/Bu, ......itu memang  terlihat tidak percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Misalnya pada......, sering menyalahkan dirinya dan mengatakan dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak Bapak/Ibu memiliki masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya pikiran-pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Bila keadaan......ini terus menerus seperti itu, ......bisa mengalami masalah yang lebih berat lagi, misalnya......jadi malu bertemu dengan orang lain dan memilih mengurung diri”
“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”
“Setelah kita mengerti bahwa masalah......dapat menjadi masalah serius, maka kita perlu memberikan perawatan yang baik untuk ......
”Bapak/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki......? Ya benar, dia juga mengatakan hal yang sama(kalau sama dengan kemampuan yang dikatakan)
......itu telah berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Serta telah dibuat jadual untuk melakukannya. Untuk itu, Bapak/Ibu dapat mengingatkan......untuk melakukan kegiatan tersebut sesuai jadual. Tolong bantu menyiapkan alat-alatnya, ya Pak/Bu. Dan jangan lupa memberikan pujian agar harga dirinya meningkat. Ajak pula memberi tanda cek list pada jadual yang kegiatannya”.
”Selain itu, bila......sudah tidak lagi dirawat di Rumah sakit, bapak/Ibu tetap  perlu memantau perkembangan....... Jika masalah harga dirinya kembali muncul dan tidak tertangani lagi, bapak/Ibu dapat membawa......ke puskesmas”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktekkan cara memberikan pujian kepada......
”Temui......dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu berikan pujian yang yang mengatakan: Bagus sekali......, kamu sudah semakin terampil mencuci piring”
”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”
Terminasi :
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan kita ini?”
“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah yang dihadapi ...... dan bagaimana cara merawatnya?”
“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah setiap kali Bapak/Ibu kemari lakukan seperti itu. Nanti di rumah juga demikian.”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk latihan cara memberi pujian langsung kepada ......
“Jam berapa Bapak/Ibu datang? Baik saya tunggu. Sampai jumpa.”

b.      SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan  masalah harga diri rendah langsung kepada pasien

Orientasi:
“Selamat.........Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak/IBu masih ingat latihan merawat anak Bapak Ibu  seperti yang kita pelajari  dua  hari yang lalu?”
“Baik, hari ini kita akan mampraktekkannya langsung kepada .......”
”Waktunya ......”. 
”Sekarang mari kita temui ......” 
Kerja:
”Selamat....... Bagaimana perasaan ...... hari ini?”
”Hari ini saya datang bersama orang tua ....... Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, orang tua......juga ingin merawat......agar ......cepat pulih.”
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu, yaitu memberikan pujian terhadap perkembangan anak Bapak/Ibu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana  perasaan......setelah berbincang-bincang dengan Orang tua ......?”
”Baiklah,  sekarang saya dan orang tua......ke ruang perawat dulu”
 (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi?”
« «Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada ......»
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak/Ibu melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya ......   Pak/Bu »

c.       SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

Orientasi:
“Selamt pagi Pak/Bu”
”Karena hari ini ...... sudah boleh pulang, maka  kita akan membicarakan jadwal ...... selama di ......”
”Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di ......
Kerja:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan ......selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama ...... dirawat dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan  maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh ...... selama di rumah. Misalnya kalau ...... terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat ...... di puskemas ......., Puskesmas terdekat dari rumah ........., ini nomor telepon puskesmasnya: ........
”Selanjutnya perawat ...... tersebut yang akan memantau perkembangan ...... selama di ......
Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian ......untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat ...... di PKM ........ Jangan lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”

C . Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami isolasi sosial menurut Budi Ana Keliat, 2007 adalah
1.      SP Pasien

a.       SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal

1)      penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan

2)      berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain,

3)      mengajarkan pasien berkenalan  

Orientasi :
“Selamat...... ”
“Saya ……….., Saya senang dipanggil   …………, Saya perawat di Ruang Mawar ini… yang akan merawat Ibu.”
“Siapa nama ......? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan...... hari ini?” Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ......? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ......? Mau berapa lama, ......? Bagaimana kalau ......
Kerja:(Jika pasien baru)
”Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan......? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan......? Apa yang membuat ......  jarang bercakap-cakap dengannya?”
(Jika pasien sudah lama dirawat)
”Apa yang ......  rasakan selama ......  dirawat disini? ......  merasa sendirian? Siapa saja yang ......  kenal di ruangan ini”
 “Apa saja kegiatan yang biasa ......  lakukan dengan teman yang......  kenal?”
 “Apa yang menghambat...... dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang  lain?”  Menurut...... apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya......? Ya, apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah...... belajar bergaul dengan orang lain ?«  Bagus. Bagaimana kalau sekarang  kita belajar berkenalan dengan orang lain”
 “Begini ya pak......, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya......, senang dipanggil Si. Asal saya dari Bireun, hobi memasak”
“Selanjutnya...... menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo......dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan......Coba berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“Setelah ...... berkenalan dengan orang tersebut ...... bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan ......bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.
Terminasi:
”Bagaimana perasaan...... setelah kita  latihan berkenalan?”
...... tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali”
”Selanjutnya ......dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga ......lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. ...... mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.”
”Besok ...... saya akan datang kesini  untuk mengajak...... berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, ...... mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.

b.      SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama -seorang perawat-)
Orientasi :
“Selamat......! ”
“Bagaimana perasaan...... hari ini?
« Sudah dingat-ingat lagi pelajaran kita tetang berkenalan »Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan Suster ! »
« Bagus sekali, ...... masih ingat. Nah  seperti janji saya, saya akan mengajak ......  mencoba berkenalan  dengan teman saya perawat....... Tidak lama kok, sekitar...... »
« Ayo kita temui perawat......  disana »
Kerja :
( Bersama-sama ...... saudara mendekati perawat......)
« Selamat pagi perawat ......, ini  ingin berkenalan dengan......»
« Baiklah ......, ......  bisa berkenalan dengan perawat ......  seperti yang kita praktekkan kemarin « 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan perawat......: memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
« Ada lagi yang......ingin tanyakan kepada perawat....... coba tanyakan tentang keluarga perawat......»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ...... bisa sudahi perkenalan ini. Lalu...... bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat......, misalnya  ...... »
« Baiklah perawat ......, karena...... sudah selesai berkenalan, saya  dan ......  akan kembali ke ruangan ....... Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat ......  untuk melakukan terminasi dengan ......  di tempat lain)
Terminasi:
 “Bagaimana perasaan ......  setelah berkenalan dengan perawat ......
......  tampak bagus  sekali saat berkenalan tadi” 
”Pertahankan terus  apa yang sudah ......  lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita masukkan pada jadwalnya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau ......  kali. Baik nanti ......  coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam ......? Sampai besok.”



c.     SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang kedua-seorang pasien)

Orientasi:
“Selamat ......! Bagaimana perasaan hari ini?
”Apakah ......  bercakap-cakap dengan perawat ......  kemarin siang”
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan komunikasi berikutnya orang lain
 ”Bagaimana perasaan...... setelah bercakap-cakap dengan perawat......  kemarin siang”
”Bagus sekali ...... menjadi senang karena punya teman lagi”
”Kalau begitu ...... ingin punya banyak teman lagi?”
”Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu pasien ......
”seperti biasa kira-kira ......
”Mari kita temui dia di ruang makan”
Kerja:
( Bersama-sama ......  saudara mendekati pasien )
« Selamat pagi , ini ada pasien saya yang ingin berkenalan. »
« Baiklah ......, ...... sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah ......  lakukan sebelumnya. » 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi dan menanyakan hal yang sama). »
« Ada lagi yang...... ingin tanyakan kepada ......»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ......  bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ...... bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi ...... »
(......  membuat janji untuk bertemu kembali dengan ......)
« Baiklah ......, karena ......  sudah selesai berkenalan, saya  dan ......  akan kembali ke...... Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat ......  untuk melakukan terminasi dengan ......  di tempat lain)
Terminasi:
 “Bagaimana perasaan ......  setelah berkenalan dengan ......
”Dibandingkan kemarin pagi, ...... tampak lebih baik saat berkenalan dengan ......”  ”pertahankan apa yang sudah ......  lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan ......   jam ......
”Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan  berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari ...... dapat berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam ......, jam ...... dan jam ......, ......  bisa bertemu dengan ......, dan tambah dengan pasien yang baru dikenal. Selanjutnya ...... bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara bertahap.    Bagaimana ......, setuju kan?”
”Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman....... Pada jam ...... dan tempat ...... ya. Sampai besok.

2.         SP Keluarga
a.       SP 1 Keluarga :   Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang .masalah isolasi   sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan  isolasi sosial    
Orientasi:
“selamat......Pak”
”Perkenalkan saya perawat ...... saya yang merawat, anak bapak, ......, di ruang ......  ini”
”Nama Bapak siapa?
” Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak ...... sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya”
 ”Kita diskusi di sini saja ya? Berapa lama Bapak punya waktu? Bagaimana kalau ......?


Kerja:
”Apa masalah yang Bapak/Ibu hadapi dalam merawat ......? Apa yang sudah dilakukan?”
“Masalah yang dialami oleh anak ...... disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain”.
” Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk”
”Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan   saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan orang–orang terdekat”
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka seseorang  bisa mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada.”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota keluarga lainnya harus sabar menghadapi ....... Dan untuk merawat ...... keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan ...... yang caranya adalah bersikap peduli dengan ...... dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada...... untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi pasien.”
« Selanjutnya jangan biarkan ...... sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan ....... Misalnya sholat bersama, makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama. 
”Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu”
” Begini contoh komunikasinya, Pak:  ......, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa  bercakap-cakap dengan orang lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang lain. Lalu bagaimana kalau mulai sekarang kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu sholat bersana-sama keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana ......, kamu mau coba kan, nak ?”
”Nah coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi seperti yang saya contohkan”
”Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
”Sampai sini ada yang ditanyakan Pak
Terminasi:
“Baiklah waktunya  sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi?”
“Coba Bapak  ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang mengalami isolasi sosial »
« Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak yang mengalami masalah isolasi sosial »  
« Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan kembali cara-cara perawatan tersebut »
«Nanti kalau ketemu ...... coba Bp/Ibu lakukan. Dan tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama. »
«  Bagaimana kalau kita betemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada ......? »
« Kita ketemu ...... ya Pak, pada jam ......»

b.            SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan  masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien

Orientasi:
“selamat ......Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari  berberapa hari yang lalu?”
“Mari praktekkan langsung ke ......! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba .......” 
”Sekarang mari kita temui ......” 
Kerja:
”selamat pagi ....... Bagaimana perasaan ...... hari ini?”
”Bapak/Ibu ...... datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong ...... tunjukkan jadwal kegiatannya!”
 (kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana  perasaan ...... setelah berbincang-bincang dengan Orang tua ......?”
”Baiklah,  sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu”
 (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu  setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah bagus.”
« «Mulai sekarang Bapak sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada ...... »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya ...... Pak »
« sampai jumpa »

c.       SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

Orientasi:
“selamat.......Pak/Bu”
”Karena besok ......  sudah boleh pulang, maka perlu kita bicarakan perawatan di rumah.”
”Bagaimana kalau kita membicarakan jadwal ......  tersebut di......”
”Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau ......?”
Kerja:
”Bapak/Ibu, ini jadwal ......  selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan di rumah? Di rumah Bapak/Ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan  maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama di rumah. Misalnya kalau ......  terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat ..... di puskemas ......, Puskesmas terdekat dari rumah Bapak, ini nomor telepon puskesmasnya: ......
”Selanjutnya perawat ...... tersebut yang akan memantau perkembangan ...... selama di rumah
Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian ...... untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat ......  di PKM ....... Jangan lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”

D.  Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami Perilaku kekerasan menurut Budi Ana Keliat, 2007 adalah
1. SP Pasien
a.       SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan marah, tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta cara mengontrol secara fisik I
Orientasi:
“Selamat..... pak, perkenalkan nama saya ......, panggil saya ......, saya perawat yang dinas di ruangan soka in. Hari ini saya dinas ..... dari pk. ....... Saya yang akan merawat ......  selama ......  di rumah sakit ini. Nama bapak siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan ......  saat  ini?, Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang  tentang perasaan marah bapak”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau ......?
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, ......? Bagaimana kalau di ......?”
Kerja:
“Apa yang menyebabkan ......  marah?, Apakah sebelumnya ...... pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. O..iya, jadi ada 2 penyebab marah bapak”
“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti ...... pulang ke rumah dan istri belum menyediakan makanan(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang bapak rasakan?” (tunggu respons pasien)
“Apakah ......  merasakan kesal kemudian dada ...... berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang bapak lakukan? O..iya, jadi ......  memukul istri bapak dan memecahkan piring, apakah dengan cara ini makanan terhidang? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang...... k lakukan? Betul, istri jadi sakit dan takut, piring-piring pecah. Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik? Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”

”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, pak. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkanrasa marah.”

”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?”
”Begini ......, kalau tanda-tanda marah tadi sudah ......  rasakan maka...... berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiupu perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak  sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini ...... lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa melakukannya”

Terminasi

“Bagaimana perasaan ...... setelah berbincang-bincang tentang kemarahan bapak?”
”Iya jadi ada 2 penyebab bapak marah ........ (sebutkan) dan yang bapak rasakan ........ (sebutkan) dan yang bapak lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya ......... (sebutkan)
”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat  lagi penyebab marah ......  yang lalu, apa yang bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan napas dalamnya ya ....... ‘Sekarang kita buat jadual latihannya ya pak, berapa kali sehari ......  mau latihan napas dalam?, jam berapa saja pak?”
”Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya ......, sampai jumpa” 

b.      SP 2  Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2

a.          Evaluasi latihan nafas dalam
b.         Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c.          Susun jadwal kegiatan harian cara kedua

Orientasi

“selamat ..... sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya datang lagi”
“Bagaimana perasaan bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan bapak marah?”



“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua”
“Mau berapa lama? Bagaimana kalau ......?”
Dimana kita bicara?Bagaimana kalau di ......?”
Kerja
“Kalau ada yang menyebabkan ...... marah dan muncul perasaan kesal, berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam ......dapat melakukan pukul kasur dan bantal”.
 “Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar ......? Jadi kalau nanti ...... kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah,
coba ...... lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya, bagus sekali ......melakukannya”.
“Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.”
“Nah cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya

Terminasi

“Bagaimana perasaan ..... setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?”
“Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba .....  sebutkan lagi?Bagus!”
 “Mari kita masukkan  kedalam jadual kegiatan sehari-hari ...... Pukul kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur?  Baik, jadi jam ..... pagi. dan jam jam ...... Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya pak. Sekarang kita buat jadwalnya ya ....., mau berapa kali sehari .....  latihan memukul kasur dan bantal serta tarik nafas dalam ini?”
 “Besok pagi kita ketemu lagi kita akan latihan cara mengontrol ..... dengan belajar bicara yang baik. Mau jam berapa .....? Baik, jam ..... ya. Sampai jumpa”




c.       SP 3 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal:
1.      Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik
2.      Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
3.      Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal

Orientasi

Selamat....., sesuai dengan janji saya .....  sekarang kita ketemu lagi”
Bagaimana ....., sudah dilakukan latihan tarik napas dalam dan pukul kasur bantal?, apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?”
“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.”“Bagus. Nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya mandiri; kalau diingatkan suster  baru dilakukan tulis B, artinya dibantu atau diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa melakukan
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di .....?”
“Berapa lama ..... mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau .....?”

Kerja

“Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Kalau marah sudah dusalurkan melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya .....:
1.      Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin Bapak bilang penyebab marahnya larena minta uang sama ..... tidak diberi. Coba ..... minta uang dengan baik:” ....., saya perlu uang untuk membeli rokok.” Nanti bisa dicoba di sini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba ..... praktekkan. Bagus ......”
2.      Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan .....  tidak ingin melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus .....”
3.      Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal .....  dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan. Bagus”





Terminasi
 “Bagaimana perasaan .....  setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik?”
“Coba .....  sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari”
“Bagus sekal, sekarang mari kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali sehari bapak mau latihan bicara yang baik?, bisa kita buat jadwalnya?”
Coba  masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari, misalnya meminta obat, uang, dll. Bagus nanti dicoba ya .....!”
 “Bagaimana kalau dua jam lagi kita ketemu lagi?”
“Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah .....  yaitu dengan cara ibadah, bapak setuju? Mau di mana .....? Di sini lagi? Baik sampai nanti ya



d. SP 4  Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual  
1)   Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
2)   dan sosial/verbal
3)   Latihan sholat/berdoa
4)   Buat jadual latihan sholat/berdoa



Orientasi
 “selamat ....., sesuai dengan janji saya ..... sekarang saya datang lagi” Baik, yang mana yang mau dicoba?”
“Bagaimana ....., latihan apa yang sudah dilakukan?Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya”
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?”

“Berapa lama ..... mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?

Kerja

 “Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa ...... lakukan! Bagus. Baik, yang mana mau dicoba?

“Nah, kalau ..... sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu kemudian sholat”.


 

 


“Coba .....  sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau coba yang mana?Coba sebutkan caranya (untuk yang muslim)
Terminasi
Bagaimana perasaan ..... setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?”
“Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”.
“Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan ...... Mau berapa kali .....  sholat. Baik kita masukkan sholat ....... dan ........ (sesuai kesepakatan pasien)
“Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat .....  lakukan bila bapak merasa marah”
 “Setelah ini coba .....  lakukan jadwal sholat  sesuai jadwal yang telah kita buat tadi”
“Besok kita ketemu lagi ya ....., nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol rasa marah, yaitu dengan patuh minum obat.. Mau jam berapa .....? Seperti sekarang saja, jam .....?”
 “Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah ....., setuju .....?”


e.   SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat 
1)      Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah dilatih.
2)      Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.
3)      Susun jadwal minum obat secara teratur

Orientasi

“selamat ....., sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi”
Bagaimana ....., sudah dilakukan latihan tarik napas dalam, pukul kasur bantal,  bicara yang baik serta sholat?, apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?. Coba kita lihat cek kegiatannya”.
“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat yang benar untuk mengontrol rasa marah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat kemarin?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana .....”

Kerja (perawat membawa obat pasien)

“Bapak sudah dapat obat dari dokter?”
Berapa macam obat yang ..... minum? Warnanya apa saja? .....! Jam berapa ..... minum? Bagus!
 “Obatnya ada tiga macam ....., yang warnanya oranye  namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang,  yang putih ini namanya THP agar rileks dan tegang, dan yang  merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang. Semuanya ini harus bapak   minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 sian g, dan jam 7  malam”.
“Bila nanti setelah minum obat mulut .....  terasa kering,  untuk membantu mengatasinya .....  bisa mengisap-isap es  batu”.
“Bila terasa mata berkunang-kunang, .....  sebaiknya
istirahat dan jangan beraktivitas dulu”
“Nanti di rumah sebelum minum obat ini ..... lihat dulu label di kotak obat  apakah benar nama .....  tertulis disitu, berapa dosis yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Di sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah benar obatnya!”
“Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya ....., karena dapat terjadi kekambuhan.”
“Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya kedalam jadwal ya ......”

 Terminasi

“Bagaimana perasaan ..... setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar?”
“Coba bapak sebutkan lagi jenis obat yang .....  minum! Bagaimana cara minum obat yang benar?”
“Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?. Sekarang kita tambahkan jadual kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa laksanakan semua dengan teratur ya”.
“Baik, Besok kita ketemu kembali untuk melihat sejauh mana ….. melaksanakan kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah. Sampai jumpa”

2. SP Keluarga
a. SP 1 Keluarga:   Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di rumah   
1)   Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2)   Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)
3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat

Orientasi

“selamat ….., perkenalkan nama saya …..,saya perawat dari ruang Soka ini, saya yang akan merawat bapak (pasien). Nama ibu siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita berbincang-bincang sekarang  tentang masalah yang Ibu hadapi?”
“Berapa lama ibu kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau …..?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang, .......? Bagaimana kalau di .......?”
Kerja
“......., apa masalah yang .......hadapi/ dalam merawat .......? Apa yang ....... lakukan? Baik Bu, Saya akan coba jelaskan tentang marah ....... dan hal-hal yang perlu diperhatikan.”“......., marah adalah suatu perasaan yang wajar tapi bisa tidak disalurkan dengan benar akan membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. “Yang menyebabkan suami ....... marah dan ngamuk adalah kalau dia merasa direndahkan, keinginan tidak terpenuhi. Kalau ....... apa penyebabnya .......?” “Kalau nanti wajah .......tampak tegang dan merah, lalu kelihatan gelisah, itu artinya .......sedang marah, dan biasanya setelah itu ia akan melampiaskannya dengan membanting-banting perabot rumah tangga atau memukul atau bicara kasar? Kalau apa perubahan terjadi? Lalu apa yang biasa dia lakukan?””“Bila hal tersebut terjadi sebaiknya .......tetap tenang, bicara lembut tapi tegas, jangan lupa jaga jarak dan jauhkan benda-benda tajam dari sekitar bapak seperti gelas, pisau. Jauhkan juga anak-anak kecil dari ........”
“Bila ....... masih marah dan ngamuk segera bawa ke puskesmas atau RSJ setelah sebelumnya diikat  dulu (ajarkan caranya pada keluarga). Jangan lupa minta bantuan orang lain saat mengikat bapak ya bu, lakukan dengan tidak menyakiti ....... dan dijelaskan alasan mengikat yaitu agar .......tidak mencedari diri sendiri, orang lain dan lingkungan”
“Nah ......., ....... sudah lihat khan apa yang saya ajarkan kepada .......bila tanda-tanda kemarahan itu muncul. ....... bisa bantu ....... dengan cara mengingatkan jadual latihan cara mengontrol marah yang sudah dibuat yaitu secara fisik, verbal, spiritual dan obat teratur”.
“Kalau .......bisa melakukan latihannya dengan baik  jangan lupa dipujiya .......”.
Terminasi
“Bagaimana perasaan ....... setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat .......?”“Coba ibu sebutkan lagi cara merawat .......”

“Setelah ini coba ibu ingatkan jadwal yang telah dibuat untuk .......”

“Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang telah kita bicarakan tadi langsung kepada .......?”

“Tempatnya disini saja lagi ya.......?”

b. SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan cara-cara mengontrol Kemarahan
1)      Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah
2)      Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat
3)      Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat
4)      Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan

Orientasi

“Assalamualaikum …… sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita ketemu lagi untuk latihan cara-cara mengontrol rasa marah …….”
“Bagaimana ……? Masih ingat diskusi kita yang lalu? Ada yang mau Ibu tanyakan?”
“Berapa lama ibu mau kita latihan?”
“Bagaimana kalau kita latihan di……?, sebentar saya panggilkan …… supaya bisa berlatih bersama”


Kerja
”Nah ...., coba ceritakan kepada ...., latihan yang sudah .... lakukan. Bagus sekali. Coba perlihatkan kepada .... jadwal harian ....! Bagus!”
”Nanti di rumah ibu bisa membantu ....k latihan mengontrol kemarahan .....”
”Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya ....?”
”Masih ingat ...., bu  kalau tanda-tanda marah sudah ....rasakan maka yang harus dilakukan .... adalah.......?”
”Ya.. betul, ...... berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar
lalu keluarkan atau tiup perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali, coba ibu temani dan bantu bapak menghitung latihan ini sampai 5 kali”.
“Bagus sekali, .......dan ...... sudah bisa melakukannya dengan baik”.
“Cara yang kedua masih ingat ......?”
“ Ya..benar, kalau ada yang menyebabkan ...... marah dan muncul
perasaan kesal, berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam ...... dapat melakukan pukul kasur dan bantal”.
 “Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar
......? Jadi kalau nanti ...... kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal.
Nah, coba ...... lakukan sambil didampingi ibu, berikan ...... semangat ya ....... Ya, bagus sekali ......melakukannya”.
“Cara yang ketiga adalah bicara yang baik bila sedang marah. Ada tiga caranya ......, coba praktekkan langsung kepada......cara bicara ini:
1.   Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar, misalnya: ‘......, Saya perlu uang untuk beli rokok! Coba ...... praktekkan. Bagus ......”.
2.   Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus ......”
3.   Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal ...... dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan. Bagus”
“Cara berikutnya adalah kalau ...... sedang marah apa yang harus dilakukan?”
“Baik sekali, bapak coba langsung duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu kemudian sholat”.
“...... bisa melakukan sholat secara teratur dengan didampingi ibu untuk meredakan kemarahan”.
“Cara terakhir adalah minum obat teratur ya pak, bu agar pikiran ...... jadi tenang,  tidurnya juga tenang, tidak ada rasa marah”
...... coba jelaskan berapa macam obatnya! Bagus. Jam berapa minum obat? Bagus. Apa guna obat? Bagus. Apakah boleh mengurangi atau menghentikan obat? Wah bagus sekali!”
“Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang ......dapatkan, ibu tolong selama di rumah ingatkan ...... untuk meminumnya secara teratur dan jangan dihentikan tanpa sepengetahuan dokter

Terminasi

“Baiklah......, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada ......?”
“Bisa...... sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah?”
“Selanjutnya tolong pantau dan motivasi ...... melaksanakan jadwal latihan yang telah dibuat selama di rumah nanti. Jangan lupa berikan pujian untuk ...... bila dapat melakukan dengan benar ya ......!”
“ Karena ......sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi Ibu bertemu saya untuk membicarakan jadwal aktivitas ......selama di rumah nanti.”
“Jam ......ya Bu. Di .......”
 




SP 3 Keluarga: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

Orientasi

“Assalamualaikum ......karena besok ...... sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita sekarang ketemu untuk membicaarakan jadwal ......selama dirumah”
 






 “Bagaimana ......, selama ...... membesuk apakah sudah terus dilatih cara merawat ......? Apakah sudah dipuji keberhasilannya?”
“Nah sekarang bagaimana kalau bicarakan jadwal di rumah, disini saja?”
“Berapa lama bapak dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana ......?”
Kerja
“……., jadwal yang telah dibuat selama …….di rumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadual aktivitas maupun jadwal minum obatnya. Mari kita lihat jadwal …….!”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh bapak selama di rumah. Kalau misalnya ....... menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika  hal ini terjadi segera hubungi Suster ...... di Puskesmas ......, puskesmas terdekat dari rumah ......, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx. “Jika tidak teratasi ...... akan merujuknya ke .......”
“Selanjutnya suster ...... yang akan membantu memantau perkembangan ......selama di rumah
Terminasi
“ Bagaimana ......? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan apa saja yang perlu diperhatikan (jadwal kegiatan, tanda atau gejala, follow up ke Puskesmas). Baiklah, silakan menyelesaikan administrasi!”
“Saya akan persiapkan pakaian dan obat.”
2.3.7 Evaluasi
Menurut Trimelia, 2011 evaluasi dilakukan dengan berfokus pada perubahan perilaku klien setelah diberikan tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi kerena merupakan sistem pendukung yang penting.
A.       Apakah klien dapat mengenal halusinasinya, yaitu isi halusinasi, situasi, waktu dan frekuensi munculnya halusinasi
B.       Apakah klien dapat mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul
C.       Apakah klien dapat mengontrol halusinasinya dengan menggunakan empat cara, yaitu menghardik, menemui orang lain dan bercakap-cakap, melaksanakan aktifitas yang terjadwal dan patuh minum obat.
D.       Apakah klien dapat mengungkapkan perasaannya mempraktikkan empat cara mengontrol halusinasi.
E.        Apakah klien dapat memberdayakan sistem pendukungnya atau keluarganya untuk mengontrol halusinasinnya.
F.        Apakah klien dapat mematuhi minum obat.
                                                                                        

















































Komentar

  1. Salsa Habanero Blue Martini Golden Nugget - Shootercasino カジノ シークレット カジノ シークレット 제왕카지노 제왕카지노 10cric 10cric 636Red Rock Suite Prices | Casino in Las Vegas | Foursquare

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer