Keperawatan Jiwa Halusinasi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang RI No. 36 tahun 2009 tentang
kesehatan, kesehatan jiwa merupakan upaya
yang ditujukan untuk
menjamin setiap orang dapat
menikmati kehidupan kejiwaan
yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu kesehatan jiwa. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006,
Kesehatan merupakan suatu kondisi yang bukan hanya bebas dari penyakit, cacat, kelemahan tapi benar –
benar merupakan kondisi yang positif dan kesejahteraan fisik, mental dan sosial
yang memungkinkan untuk hidup produktif.
Gangguan jiwa yaitu merupakan manifestasi dari bentuk penyimpangan prilaku akibat adanya kegagalan
dan distori emosi sehingga ditemukan ketidak wajaran dalam bertingkah laku. Hal
ini terjadi karena adanya penurunan fungsi tingkah laku yang menyimpang atau
menurunya fungsi kejiwaan. (Nasir, 2011). Salah satu bentuk
gangguan jiwa yaitu skizoprenia yang merupakan suatu bentuk psikosa yang
banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi
secara jelas ( Direja, 2011)
Skizoprenia dapat menimbulkan beberapa gangguan
seperti gangguan persepsi dan proses pikir, dari gangguan yang ditimbulkan oleh
pasien yang menderita skizoprenia salah satunya gangguaan persepsi sensori
halusinasi pendengaran (Maramis, 2009). Halusinasi pendengaran merupakan suatu
prilaku seseorang yang menunjukan tingkah laku seperti mendengar suara atau
kebisingan yang kurang jelas ataupun yang jelas, dimana terkadang suara-suara
tersebut seperti mengajak berbicara klien dan kadang memerintahkan untuk
melakukan sesuatu, adapun prilaku-prilaku yang ditampakkan seperti mengarahkan
telinga pada sumber suara, bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa
sebab, menutup telinga, mulut komat-kamit, dan adanya gerakan tangan(Azizah,
2011).
Menurut World Health
Organization (WHO) ,
melaporkan bahwa jumlah penderita gangguan jiwa didunia pada tahun 2007 paling
tidak 1 dari 4 orang dari 450 juta orang terganggu jiwanya disetiap negara diperkirakan
sebanyak 51 juta penduduk dunia menderita gangguan jiwa dengan skizoprenia atau
sekitar (0,076% ) dari 6,7 milyar penduduk diseluruh dunia (Videbeck,2008). Di
Indonesia diketahui jumlah gangguan jiwa di Indonesia sebanyak 17.616.000 jiwa
dari 130.000.000 jiwa
(13,55 %) ( Yosep, 2011).
Berdasarkan
statistik Medical Record Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bengkulu, pasien
yang menderita Skizoprenia yang menjalani rawat inap pada tahun 2009 sebesar 434
dari 635 (68,4%) pasien gangguan jiwa, tahun 2010 sebesar 437 dari 835 (52,3%) pasien
gangguan jiwa dan pada tahun 2011 menjadi 345 dari 1837 (18,7%) pasien gangguan
jiwa.
Survey awal yang penulis lakukan pada mei 2012 didapatkan
data pasien rawat inap di ruangan murai A sebagai berikut, pada bulan februari 2012
diketahui 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 67 pasien rawat inap di ruangan
diketahui bahwa semua pasien menderita
dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi pendengaran. bulan maret 2012 dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari
47 pasien rawat inap di ruangan diketahui
bahwa 4 dari 5 (80%) pasien menderita halusinasi pendengaran,
bulan april 2012 dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 62 pasien
rawat inap di ruangan diketahui bahwa
semua pasien menderita dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi, pada bulan
mei 2012 dari 5 pasien yang diambil sebagai sample dari 53 pasien rawat inap di
ruangan diketahui 3 dari 5 pasein (60%)
klien menderita dan menunjukan tanda dan gejala halusinasi, dalam penerapan di ruangan
perawat memberikan intervensi berupa
penanganan lewat obat‑obatan serta pendekatan komunikasi terapeutik kepada
pasien, dan melakukan tindakan pemutusan halusinasi klien secara berkelanjutan.
Pasien yang mengalami skizoprenia terutama pada pasien yang mengalami gangguan persepsi
sensori halusinasi, khususnya halusinasi pendengaran perlu ditangani secara
cermat, hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai keperawatan jiwa yang
merupakan bagian dari kesehatan jiwa menurut Peplau keperawatan adalah
terapeutik dalam seni penyembuhan, membantu individu yang sakit atau
membutuhkan perawatan kesehatan yang dinilai dalam proses interpersonal sebab
melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu yang mempunyai tujuan.
Setiap individu dianggap unik secara biologis, psikologis, sosial, dan
spritual, serta tidak akan bereaksi sama seperti yang lain. Setiap orang
mempunyai pengalaman belajar yang berbeda dari lingkungan, adat istiadat,
kebiasaan, dan keyakinan dari setiap kultur. Setiap orang datang dengan ide-ide
yang terbentuk sebelumnya yang mempengaruhi persepsi, dimana persepsi sangat
mempengaruhi proses interpersonal. Dalam proses ini perawat mempunyai peran
sebagai pendidik, narasumber, penasehat, dan pemimpin. (Direja, 2011)
Stimulus dari halusinasi khususnya dapat berdampak
menjadi depresi berat bahkan dapat merusak diri, bunuh diri bahkan menciderai
orang lain. Hal ini disebabkan karena klien akan menuruti keinginan dari suara‑suara
yang meminta atau menyuruh, klien melakukan sesuatu yang bersifat memaksa.
untuk meminimalkan komplikasi atau dampak dari halusinasi dibutuhkan peran
perawat yang optimal dan cermat untuk melakukan pendekatan dan membantu klien
dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. dengan memberikan penatalaksanaan
untuk mengatasi halusinasi adalah melakukan tujuan khusus (TUK), yaitu 1) Membina
hubungan saling percaya, dorong klien dan beri kesempatan untuk mengungkapkan
perasaannya, dan dengarkan ungkapan klien, 2) Klien dapat mengenali halusinasi,
3) Dapat mengendalikan halusinasi, 4) Menggunakan obat untuk mengontrol
halusinasi, dan 5) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengendalikan
halusinasinya dan melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK). Dengan melakukan
tindakan keperawatan sesuai dengan peran perawat, diharapkan dapat menurunkan
angka statistik pada pasien skizoprenia khususnya halusinasi pendengaran.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk membahas masalah gangguan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran dengan kasus skizofrenia di Rumah
Sakit Jiwa (RSJ) Soeprapto Bengkulu tahun 2012”
1.2. Ruang Lingkup
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis hanya membahas tentang asuhan keperawatan
pada satu orang pasien dengan gangguan persepsi sensori : Halusinasi
pendengaran diruangan Murai Rumah Sakit Jiwa(RSJ) Daerah Bengkulu selama 7 Hari
perawatan
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh informasi dan gambaran pelaksanaan asuhan
keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori:
halusinasi pendengaran dengan kasus skizofrenia
1.3.2 Tujuan Khusus
1.
Mampu
menjelaskan konsep dasar teori tentang asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi
pendengaran
2.
Mampu
melakukan pengkajian pada pasien dengan asuhan
keperawatan jiwa dengan masalah gangguan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran
3.
Mampu
menentukan diagnosa keperawatan pada pasien asuhan keperawatan asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi
pendengaran
4.
Mampu
membuat rencana tindakan asuhan keperawatan pada pasien asuhan keperawatan jiwa pada
dengan masalah gangguan persepsi
sensori: halusinasi pendengaran
5.
Mampu
menerapkan rencana yang telah disusun
pada pasien asuhan
keperawatan jiwa dengan masalah gangguan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran
6.
Mampu
menganalisa kesenjangan yang terjadi antara konsep teori dan aplikasi asuhan
keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan yang diangkat dalam kasus : asuhan
keperawatan jiwa dengan masalah gangguan
persepsi sensori: halusinasi pendengaran
7.
Mampu
menyimpulkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori: halusinasi
pendengaran
1.4. Metode
Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah
adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Konsep dasar teori
2.1.1. Pengertian
Skizoprenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan
timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan prilaku yang aneh dan terganggu(Videbeck,2008),
Skizoprenia adalah penyakit neurobiologis yang memengaruhi persepsi klien, cara
berfikir, bahasa, emosi, dan prilaku sosialnya (Yosep 2011)
Skizoprenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama
pada proses fikir serta disharmoni ( keretakan, perpecahan) antara proses
pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan,
terutama waham dan halusinasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Direja,2011)
2.1.2. Jenis Skizoprenia
Menurut Ade Herman,
2011 Skizofrenia terbagi beberapa jenis yaitu
a. Skizoprenia simplek : dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran
kemauan
b. Skizoprenia hebefrenik : gejala utama gangguan proses pikir kemauan
dan depersonalisasi
c. Skizoprenia paranoid dengan gejala utama kecurigaan yanng ekstrim
disertai waham kejar atau kebesaran
d. lir skizoprenia adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan
perubahan kesadaran mungkin berkabut
e. Skizoprenia psiko-afektif yaitu adanya gejala utama skizoprenia yang
menonjol dengan disertai gajala depresi atau mania
f. Skizoprenia residual adalah skizoprenia dengan gejala primernya dan
muncul setelah beberapa kali serangan skizoprenia
2.1.3. Faktor penyebab
Skizoprenia
Hingga sekarang belum ditemukan
penyebab ( Etiologi ) yang pasti mengapa seseorang menderita skizoprenia,
padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah
dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizoprenia menurut
penelitian muktahir antara lain (Yosep, 2011) :
a. Faktor
genetik
Penelitian yang paling penting
memusatkan pada penelitian
anak kembar yang menunjukan bahwa kembar identik
berisiko mengalami gangguan ini sebesar 50%, sedangkan kembar fraternal berisiko hanya 15%. Hal ini
mengindikasikan bahwa skizofrenia sedikit
diturunkan.
b. Virus
Para peneliti memfokuskan infeksi
pada ibu hamil sebagai kemungkinan penyebab awal skizofrenia. Epidemik flu kemudian diikuti dengan peningkatan
kejadian skizofrenia.
c. Auto
imun
Dimana sistem kekebalan tubuh menurun
sehingga mudah terserang virus dan
penyakit dan mengakibat fungsi otak menurun juga.
d. Malnutrisi
Dimana asupan nutrisi tidak terpenuhi
sehingga otak mengalami penurunan oksigen dan penurunan volume otak sehingga
otak mengalami atrofi otak dan
pembesaran ventrikel di otak. Penelitian lain menyebutkan bahwa
gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan
ini muncul, misalnya, karena kekurangan
gizi, infeksi, trauma, toksin, dan
kelainan hormonal.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin
juga mempunyai peran bagi tumbuhnya skizoprenia kelak dikemudian hari. Gangguan
ini muncul, misalnya, karena kekurangan
gizi, infeksi, trauma, toksi, dan kelainan hormonal.
2.1.4. Patopsikologi
Skizoprenia
Menurut Yosep, 2011 gejala
skizoprenia terbagi atas :
Gejala mulai timbul biasanya pada usia remaja atau dewasa awal sampai
dengan umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain:
A. Fase prodomal
1. Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
2. Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan
dalam pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikir dan persepsi.
B. Fase Aktif
1. Berlangsung kurang lebih satu bulan
2. Gangguan dapat
berupa gejala psikotik, halusinasi, delusi, disorganisasi proses pikir, gangguan bicara, gangguan
prilaku, disertai gangguan neuro kimiawi
C. Fase Residual
Klien minimal mengalami 2 gejala, gangguan afektif dan
gangguan peran, serangan biasanya berulang.
2.1.5.
Gejala skizoprenia
Menurut Yosep, (2011) gejala skizoprenia terbagi atas :
A. Gejala
Positif
Halusinasi
selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu
menginterprestasikan dan merespon pesan atau rangsangan yang datang. Klien
skizoprenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya
tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Gejala
yang biasa yang timbul, yaitu klien merasakan ada suara dari dalam dirinya.
Kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti
bunuh diri.
Penyesatan
pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterprestasikan
sesuatu yang kadang berlawanan dangan kenyataan. Misalnya, pada penderita
skizoprenia, lampu trafik di jalan raya yang berwarana merah-kuning-hijau,
dianggap sebagai isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizoprenia
berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang diamat-amati,
diintai, atau hendak diserang.
Semua
itu membuat penderita skizoprenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak
berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir, dimana
dia berada, dan sebagainya.
B. Gejala
Negatif
Klien
skizoprenia kehilangan motivasi dan apatis berat kehilangan enegi dan minat
dalam hidup yang membuat klien menjadi orang yang malas. Kerena klien
skizoprenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan
hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi
klien skizoprenia menjadi datar. Klien skizoprenia tidak memiliki ekspresi baik
dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi
apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain, tetapi
tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Depresi
yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian
dari hidup klien skizoprenia. Mereka tidak memrasa memiliki perilaku yang
menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak
mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan,
disamping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi.
Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien skizoprenia menarik diri dari
lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian. Dalam beberapa kasus,
skizoprenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun, tetapi
serangan banyak terjadi pada usia 40 ke atas. Skizoprenia bisa menyerang siapa
saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi.
Diperkirakan penderita skizoprenia sebanyak 1% dari jumlah manusia yang ada di
bumi.
2.2. Konsep Dasar Masalah Halusinasi
2.2.1. Pengertian
Halusinasi
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang
nyata, artinya klien menginterprestasikan yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan
dari luar (Direja,2011).
Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca
indra, dan terjadi dalam keadaan sadar (Maramis,2009 : 142), Sedangkan menurut
Yosep 2011 halusinasi adalah suatu persepsi tanpa adanya rangsang dari luar,
dapat terjadi karena dasar‑dasar organik fungsional psikotik maupun histerik.
Halusinasi adalah persepsi klien yang salah terhadap lingkungan yang
nyata memberi persepsi yang salah atau pendapat tentang suatu tanpa ada
objek/rangsangan yang nyata dan hilangnya kemampuan manusia untuk
membedakanrangsangan internalpikiran dan rangsangan ekternal. (Trimelia,2011)
Halusinasi adalah suatu gangguan persepsi pada seseorang dimana hilangnya
kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan
ekternal (dunia luar), tanpa adanya rangsangan pada panca indra dan terjadi
pada keadaan sadar
2.2.2. Rentang Respon Neurobiologis
Respon neurobiologis merupakan berbagai respon perilaku
klien yang terkait dengan fungsi otak, gangguan
respon biologis ditandai dengan gangguan sensori persepsi halusinasi. Gangguan
respon neurobiologis yang maladaptif terjadi karena adanya :
A.
Lesi pada area frontal,
temporal dan limbik sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada. otak dalam
memproses informasi
B.
Ketidak mampuan otak untuk menyeleksi stimulus
C.
Ketidak seimbangan antara. dopamin dan
neurotransmitter lainnya
Respon neurobiologis individu dapat
diidentifikasi sepanjang rentang respon adaptif sampai dengan respon maladaptif
|
Pikiran logis
Persepsi
akurat
Emosi
konsisten dengan pengalaman
Harmonis
Hubungan sosial
Perilaku
sesuai/cocok
|
|
Gangguan proses pikir
waham
Perubahan persepsi :
halusinasi
Kerusakan proses
emosi
Perilaku tidak
terorganisir
Isolasi sosial
|
|
Kadang-kadang
Proses pikir terganggu
Ilusi
Emosi
berlebihan/ kurang
Menarik diri
Perilaku
tidak sesuai
|
Gambar
: 1.1
(Sumber : Direja,2011)
Respon maladaptif :
1.
Perubahan proses fikir waham atau delusi adalah suatu bentuk
kelainan pikiran (adanya ide-ide atau keyakinan yang salah)
2.
Halusinasi adalah persepsi yang salah, meskipun
tidak ada stimulus tetapi klien merasakannya.
3.
Ketidakmampuan untuk mengalami emosi adalah
terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu, kalau
tidak hal ini akan menimbulkan kecemasan.
4.
Perilaku tidak terorganisir atau ketidak teraturan adalah respon neurobiologis yang mengakibatkan terganggunya
fungsi-fungsi utama dari system saraf pusat, sehingga tidak ada koordinasi
antara isi pikiran, perasaan dan tingkah laku.
5.
Isolasi sosial adalah ketidak mampuan untuk
menjalin hubungan, kerja sama dan saling tergantung dengan orang lain
2.2.3. Patopsikologi
Menurut Direja, 2011 sebagai
berikut :
Perubahan persepsi sensori diawali dengan seorang mengalami kehilangan
orang yang dicintai, harta benda atau masalah yang lainnya, dalam kondisi yang
berduka berkepanjangan dan putus asa, klien merasa tidak berarti atau harga
diri rendah yang membuat klien menarik diri, dalam kondisi menarik diri inilah
biasanya klien merasakan gangguan
persepsi sensori: halusinasi tahap-tahapan halusinasi sebagai berikut
A.
Tahap I
Fase awal individu sebelum muncul halusinasi disebut juga fase comporting
yaitu fase yang menyenangkan, pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristiknya :
Klien
mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian memuncak,
dan tidak dapat diselasaikan.
Perilaku klien
:Tersenyum dan tertawa sendiri yang tidak sesuai, mengerakkan bibir tanpa
suara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asik dengan
halusinasinya, dan suka menyendir
B.
Tahap II
Disebut sebagai fase condemming atau asietas berat yaitu halusinasi
menjadi menjijikkan, termaksud dalam psikotik ringan.
Karakteristik :
Pengalaman
sensori menjijikkan dan menakutkan, kecamasan meningkat, melamun, dan berfikir
sendiri menjadi dominan. Mulai dirasa ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak
ingin orang tahu. Dan ia tetap dapat mengontrolnya
Prilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung, dan tekanan darah, klien asyik dengan dengan
halusinasinya dan tidak dapat membedakan realita.
C. Tahap III
Disebut sebagai fase controling atau asietas berat yaitu pengalaman
sensori menjadi berkuasa. Termaksud dalam gangguan psikotik.
Karakteristik
: Bisikan, suara, isi halusinasi semakin mengontrol klien. Klien menjadi
terbiasa, dan tidak berdaya terhadap halusinasinya
Perilaku klien
:Kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatiannya hanya beberapa detik,
tanda fisik klien berupa berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah
D. Tahap IV
Adalah fase conqueing atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya termaksud
dalam psikotik berat
Karakreristik
:Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien, klien
menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan
secara nyata dengan orang lain dilingkungan.
Prilaku klien:
Halusinasi
berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien, klien menjadi takut,
tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan dengan dunia nyata.
2.2.4. Jenis Halusinasi
Menurut
Trimelia, 2011 jenis halusinasi dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
A. Halusinasi
Pendengaran
Halusinasi ini berbentuk seperti mendengarkan suara yang membicarakan.
Mengejek, mentertawakan, mengancam dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu kadang-kadang
hal yang berbahaya
B. Halusinasi
Penglihatan
Stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar, orang atau
panorama yang luas dan kompleks, bisa menyanangkan akau menakutkan
C. Halusinasi
Penciuman
Tercium bau yang busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti bau darah,
uring atau feces, bau harum seperti parfum
D. Halusunasi
Pegecapan
Merasa mengecap sesuatu yang busuk, menjijikan, amis seperti rasa darah,
urine perilaku yang muncul seperti mengecap, mulut seperti gerakan mengunyah
sesuatu, sering meludah, muntah
E. Halusinasi
Perabaan
Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat,
seperti merasakan sensasi listrik dari tanah, benda mati atau orang, merasa ada
yang menyerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil dan makluk halus
F. Halusinasi
sinestetik
Merasakan fungsi tubuh, seperti darah mengalir keluar vena dan arteri,
makanan dicerna atau pembentukan urine, perasaan tubuhnya melayang diatas
permukaan bumi.
2.2.5. Tanda dan Gejala
Menurut Trimelia, 2011 tanda dan gejala halusinasi adalah :
Menyerayangi atau tertawa tidak jelas,
menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara, gerakan mata cepat , respon verbal
lamban atau diam, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasikkan, terlihat
berbicara sendiri, menggerakkan bola mata dengan cepat, bergerak seperti
membuang atau mengambil sesuatu, duduk terpaku, memandang sesuatu, tiba-tiba
berlari keruangan lain, disorientasi, perubahan kemampuan dan memecahkan
masalah, gelisah, ketakutan, ansietas, peka ragsangan, melaporkan adanya
halusinasi.
2.2.6. Penatalaksanaan halusinasi
Penatalaksanaan halusinasi adalah
A. Farmakologis menurut Yosep,2011.
1. Chlorpromazine (CPZ)
Indikasinya untuk sindroma psikosis yaitu
berat dalam kemampuan memiliki realitas dan kesadaran diri terganggu. Hendaknya
berat dalam fungsi mental, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku
yang aneh atau tidak terkendali. Tidak mampu bekerja dalam kegiatan rutin.
a.
Mekanisme Kerja
Memblokade doparnine pada reseptur pasca sinap diotak
khususnya sistem ekstra piramidal.
b.
Efek samping
Sedasi dan gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik
atau parasimpatik mulut kering, kesulitan. dalam miksi dan diksi, hidung
tersumbat, mata kabur, tekanan darah okuler meninggi dan gangguan irama jantung
c. Kontraindikasi
Penyakit hati, eplepsi, kelainan jantung, ketergantungan
obat, penyakit sistem saraf dan gangguan kesadaran.
2. Halloperidol
(HDL)
a. Indikasi
Berdaya tarik dalam kemampuan menilai realita dalam
fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari ‑ hari.
b. Mekanisme
kerja
Obat antipsikosis dalam kemampuan memblokade dopamine
pada reseptor pasca sinoptik neuro di otak khususnya sistem limbik dalam sistem
eksternal piramidal.
c. Efek
samping
Terjadi gangguan otonomik (hipertensi, antikolinergik
parasimpatik, mulut kering , kesulitan dalam miksi dan diksi, hidung tersumbat,
mata rabun, tekanan intra okuler meninggi dan gangguan irama jantung.
3. Trihexyphemidil
(TBP)
a. Indikasi
Segala jenis penyakit Parkinson termasuk pada pasca
ensepalitis dan idiopatik, sindrom parkinson akibat obat misalnya reserppine
dan renotmnzine.
b.
Mekanisme
kerja
Sinergis dengan kendine obat depresan dan anti kolinergik lainnya.
c. Efek
samping
Mulut kering, penglihatan kabur,
mual muntah, bingung, konstipasi, agitasi, tachicardi, dilatasi ginjal dan
retensi urin
d. Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap tryhexsiperidyl, glukoma,
sudut sempit, psikkosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostat dan obstruksi
saluran pencemaan
B.
Keperawatan
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien
yang mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Yosep, 2011)
a.
Membina hubungan saling percaya
b.
Klien dapat mengenali halusinasi
c.
Klien dapat mengendalikan halusinasi
d.
Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol
halusinasinya
e.
Klien mendapat dukungan
keluarga. dalam mengendalikan halusinasi
f.
Melaksanakan Terapi
Aktivitas Kelompok (TAK)
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 .
Pengkajian Keperawatan Jiwa
A. Identitas
1.
Perawat yang merawat klien
melakukan perkenalan dan kontrak dengan Klien tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat,
panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2.
Usia dan No RM
3.
Mahasiswa menuliskan sumber data
yang didapat.
B. Alasan Masuk
Tanyakan kepada klien atau
keluarga:
1. Apa yang menyebabkan
klien atau keluarga datang ke Rumah Sakit saat ini
2. Apa yang sudah
dilakukan oleh keluarga mengatasi masalah ini
3. Bagaimana hasilnya
C. Faktor Predisposisi
1. Tanyakan kepada Klien atau keluarga apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa dimasa lalu
2. Apabila " ya "
maka tanyakan bagaimana hasil pengobatan sebelumnya apabila dia dapat
beradaptasi di masyarakat tanpa gejala - gejala gangguan jiwa
3. Tanyakan pada klien
apakah klien pernah melakukan dan atau mengalami dan atau menyaksikan
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan kriminal, apakah klien sebagai pelaku dan atau korban,
dan atau saksi, jika klien pernah sebagai pelaku dan korban dan saksi ( 2 atau
lebih ) tuliskan pada penjelasan.
4. Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada
anggota keluarga Iainnya yang mengalami gangguan jiwa, apabila ada anggota
keluarga lama yang mengalami gangguan jiwa maka tanyakan bagaimana hubungan
klien dengan anggota keluarga tersebut. Tanyakan apa gejala yang dialami serta
riwayat pengobatan dan perawatan yang pernah diberikan pada anggota keluarga
tersebut.
5. Tanyakan kepada klien/keluarga tentang pengalaman
yang tidak menyenangkan (kegagalan, kehilangan/ perpisahan/ kematian, trauma
selama tumbuh kembang) Yang pernah dialami klien pada masa lalu.
D. Fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan
fungsi organ, ukur dan observasi tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu,
pernapasan klien, Ukur tinggi badan dan
berat badan klien, tanyakan kepada klien atau keluarga apakah ada keluhan fisik
yang dirasakan oleh klien, kaji Iebih lanjut sistem dan fungsi organ dan
jelaskan sesuai dengan keluhan yang ada.
E. Psikososial
1. Genogram
a. Buatlah genogram
minimal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga. contoh
|
45
|
|
=
perempuan
= laki-laki
= cerai/putus hubungan
= meninggal
= orang yang tinggal serumah
= orang yang terdekat
= klien
= umur klien
|
|
47
|
b. Jelaskan masalah yang terkait dengan
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2. Konsep diri
a. Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap
tubuhnya, bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.
b. Identitas diri, tanyakan tentang
Status dan posisi klien sebelum
dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya (sekolah, tempat kerja,
keompok), kepuasan klien sebagai
laki-Iaki/perempuan.
c. Peran: Tanyakan,
Tugas/ peran yang diemban dalam
keluarga/kelompok/ masyarakat, kemampuan
klien dalam melaksanakan tugas/ peran tersebut
d. Ideal diri : Tanyakan,
Harapan terhadap tubuh,
posisi, status, tugas/peran, harapan klien terhadap lingkungan (keluarga,
sekolah, tempat kerja, masyarakat), harapan klien terhadap
penyakitnya
e.
Harga diri : Tanyakan,
Hubungan klien dengan orang lain
sesuai dengan kondisi no. 2 a, b, c, d, Penilaian/ penghargaan orang lain
terhadap diri dan kehidupannya.
3. Hubungan sosial
a. Tanyakan
pada klien siapa orang yang berarti dalam kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau
sokongan.
b. Tanyakan pada klien kelompok apa saja yang
diikuti dalarn masyarakat.
c. Tanyakan pada klien sejauh mana ia terlibat
dalam kelompok dimasyarakat.
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan : Tanyakan tentang:
1)
Pandangan dan
keyakinan, terhadap gangguan jiwa sesuai dengan norma budaya dan agama yang
dianut.
2)
Pandangan
masyarakat setempat tentang gangguan jiwa.
b. Kegiatan ibadah : Tanyakan:
1)
Kegiatan ibadah dirumah secara
individu dan kelompok.
2)
Pendapat klien/ keluarga tentang
kegiatan ibadah.
F. Status Mental
1. Penampilan.
a.
Penampilan tidak rapih jika dari ujung rambut sampai ujung
kaki ada yang tidak rapih. Misalnya : rambut acak-acakan, kancing baju tidak
tepat, resleting tidak dikunci, baju terbalik, baju tidak diganti-ganti.
b.
Penggunaan pakaian tidak sesuai
misalnya : pakaian dalam, dipakai diluar baju.
c.
Cara berpakaian tidak seperti
biasanya jika. penggunaan pakaian tidak tepat (waktu, tempat,
identitas, situasi/ kondisi).
d.
Jelaskan hal-hal yang ditampilkan
klien dan kondisi lain yang tidak tercantum.
2. Pembicaraan
a. Amati
pembicaraan yang ditemukan pada klien, apakah cepat, keras.
gagap, membisu, apatis dan atau lambat
b. Bila pembicaraan berpindah-pindah dari satu
kalimat ke kalimat lain yang tak ada kaitannya
c.
Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
3. Aktivitas motorik
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/ keluarga.
a.
Lesu,
tegang, gelisah sudah jelas.
b.
Agitasi
= gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan,
c.
Tik =
gerakan-gerakan kecil pada otot muka yang tidak terkontrol.
d. Grimasen =
gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak dapat dikontrol klien.
e. Tremor = jari- jari
yang tampak gemetar ketika klien
menjulurkan tangan dan merentangkan jari-jari.
f. Kompulsif =
kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan seperti berulang kali mencuci tangan, mencuci muka,
mandi, mengeringkan tangan dan sebagainya.
g. Jelaskan
aktivitas yang ditampilkan klien dan kondisi lain yang tidak tercantum.
4. Alam
perasaan.
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga.
a.
Sedih, putus asa, gembira yang
berlebihan sudah jelas
b.
Ketakutan = objek yang ditakuti
sudah jelas.
c.
Khawatir = objeknya belum jelas.
d.
Jelaskan kondisi klien yang tidak
tercantum.
5. Afek
Data
ini didapatkan melalui hasil observasi perawat/keluarga.
a. Datar = tidak ada perubahan roman muka pada
saat ada stimulus yang menyenangkan atau
menyedihkan.
b. Tumpul = hanya bereaksi bila ada stimulus
emosi yang kuat.
c.
Labil = emosi yang cepat berubah-ubah.
d. Tidak sesuai = emosi yang
tidak sesuai atau bertentangan dengan stimulus yang ada.
e.
Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
6. lnteraksi selama wawancara
Data ini didapatkan melalui hasil wawancara dan observasi perawat dan
keluarga
a
Bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung sudah jelas.
b. Kontak mata kurang - tidak mau menatap lawan
bicara.
c. Defensif
- selalu berusaha mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya.
d. Curiga
- menunjukan sikap/ perasaan tidak percaya pada orang lain
e. Jelaskan hal-hal yang tidak tercantum.
7. Persepsi.
a. Jenis-jenis halusinasi sudah jelas, kecuali
penghidu sama dengan penciuman.
b. Jelaskan isi halusinasi, frekuensi,
gejala yang tampak pada saat klien berhalusinasi.
8. Proses
pikir
Data diperoleh dari observasi dan saat wawancara
a. Sirkumstansial :
pembicaraan yang berbelit-belit tapi sampai pada tujuan pembicaraan.
b. Tangensial :
pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada tujuan.
c. Kehilangan asosiasi :
pembicaraan tak ada hubungan antara satu
kalimat dengan kalitnat lainnya, dan klien tidak menyadarinya.
d. Flight of ideas : pembicaraan.yang meloncat
dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak
sampai pada tujuan.
e. Bloking : pembicaraan terhenti tiba-tiba
tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali.
f.
Perseverasi : pembicaraan yang diulang berkali-kali.
g. Jelaskan apa yang dikatakan oleh klien pada
saat wawancara.
9. lsi pikir.
Data
didapatkan melalui wawancara.
a.
Obsesi : pikiran yang selalu muncul
walaupun klien berusaha menghilangkannya.
b.
Phobia : ketakutan yang phatologis/
tidak logis terhadap objek/ situasi tertentu.
c.
Hipokondria : keyakinan terhadap
adanya gangguan organ dalam tubuh yang sebenarnya tidak ada.
d.
Depersonalisasi : perasaan klien
yang asing terhadap diri sendiri, orang atau lingkungan.
e.
Ide yang terkait : keyakinan klien
terhadap kejadian yang terjadi lingkungan yang bermakna dan terkait pada
dirinya.
f.
Pikiran magis : keyakinan klien
tentang kemampuannya melakukan hal-hal yang mustahil/ diluar kemampuannya.
g.
Waham.
1)
Agama : keyakinan klien terhadap
suatu agama secara berlebihan dan diucapkan secara berulang tetapt tidak sesuai
dengan kenyataan.
2)
Somatik : klien mempunyai keyakinan
tentang tubuhnya dan dikatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan
kenyataan.
3)
Kebesaran : klien mempunyai
keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara
berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
4)
Curiga : klien mempunyai keyakinan
bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai
dirinya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
5)
Nihilistik : klien yakin bahwa
dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal yang dinyatakan secara berulang
yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Waham
yang bizar
1)
Sisip pikir : klien yakin ada ide
pikiran orang lain yang disisipkan didalam pikiran yang disampaikan secara
berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
2)
siar pikir : klien yakin bahwa
orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan
kepada orang tersebut yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan.
3)
Kontrol pikir : klien yakin
pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.
h.
Jelaskan apa
yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara.
10. Tingkat kesadaran
Data tentang bingung dan
sedasi diperoleh melalui wawancara dan observasi, stupor diperoleh melalui
observasi, orientasi klien (waktu, tempat, orang) diperoleh melalui wawancara
a.
Bingung . tampak bingung dan kacau.
b. Sedasi : mengatakan
merasa melayang-layang antara sadar/ tidak sadar.
c.
Stupor :
gangguan motorik seperti kekakuan, gcrakan-gerakan yang diulang, anggota tubuh
klien dapat dikatakan dalam sikap canggung dan dipertahankan klien, tapi klien
mengerti semua yang terjadi dilingkungan.
d.
Orientasi waktu, tempat, orang
jelas
e.
Jelaskan data objektif dan
subjektif yang terkait hal-hal diatas.
f.
Masalah keperawatan sesuai dengan
data.
g. Jelaskan apa
yang dikatakan oleh klien pada saat wawancara
11.
Memori.
Data diperoleh melalui wawancara
a. Gangguan daya ingat jangka panjang : tidak
dapat mengingat kejadian yang terjadi lebih dari satu bulan
b. Gangguan daya ingat jangka pendek : tidak
dapat mengingat kejadian yang terjadi dalam minggu terakhir.
c. Gangguan daya ingat saat ini : tidak dapat
mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
d. Konfabulasi :
pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memasukan cerita yang tidak
benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya.
e. Jelaskan sesuai dengan data terkait.
12. Tingkat
konsentrasi dan berhitung
Data diperoleh melalui wawancara
a.
Mudah dialihkan : perhatian klien
mudah berganti dari satu objek ke objek lain.
b.
Tidak mampu berkonsentrasi : klien
selalu minta agar pertanyaan diulang/ tidak dapat menjelaskan kembali
pembicaraan.
c. Tidak mampu berhitung : tidak dapat melakukan
penambahan/ pengurangan pada benda-benda nyata.
d.
Jelaskan sesuai dengan data terkait.
13. Kemampuan penilaian
a. Gangguan kemampuan penilaian ringan: dapat
mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain. Contoh : berikan
kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu
sebelum mandi. Jika diberi penjelasan, klien dapat
mengambil keputusan.
b. Gangguan kemampuan penilaian bermakna :
tidak mampu mengambil keputusan walaupun dibantu orang lain. Contoh : berikan
kesempatan pada klien untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu
sebelum mandi. Jika diberi penjelasan klien masih tidak mampu mengambil
keputusan.
c.
Jelaskan sesuai dengan data terkait.
14. Daya
tilik diri
Data diperoleh melalui wawancara
a. Mengingkari penyakit yang diderita : tidak
menyadari gejala penyakit (perubahan fisik, emosi) pada dirinya dan merasa
tidak perlu pertolongan
b.
Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : menyalahkan orang lain/ lingkungan yang
menyebabkan kondisi saat orang lain/ lingkungan yang menyebabkan kondisi saat
ini.
c. Jelaskan dengan data terkait.
G. Kebutuhan
Persiapan Pulang
1. Makan
a. Observasi dan tanyakan
tentang frekuensi, jumlah, variasi, macam (suka/ tidak suka/ pantang) dan cara
makan.
b. Observasi kemampuan klien dalam menyiapkan dan membersihkan alat
makan.
2.
BAB/BAK,
a. Observasi
kemampuan klien untuk BAB / BAK.
b. Pergi,
menggunakan dan membersihkan WC
c. Membersihkan
diri dan merapikan pakaian
3. Mandi
a.
Observasi dan tanyakan tentang
frekuensi, cara mandi, menyikat gigi, cuci rambut, gunting kuku, cukur (kumis,
jenggot dan rambut)
b.
Observasi kebersihan tubuh dan bau
badan.
4. Berpakaian
a.
Observasi kemampuan klien dalam
mengambil, memilih dan mengenakan pakaian dan alas kaki.
b.
Observasi penampilan dandanan
klien.
c.
Tanyakan dan observasi frekuensi
ganti pakaian.
d.
Nilai kemampuan yang harus dimiliki
klien: mengambil, memilih dan mengenakan pakaian.
5. lstirahat dan tidur
Observasi dan tanyakan tentang:
a. Lama dan waktu
tidur siang / tidur malam
b. Persiapan
sebelum tidur seperti: menyikat gigi, cuci kaki dan berdoa.
c. Kegiatan sesudah
tidur, seperti: merapikan tempat tidur, mandi/ cuci muka dan menyikat gigi.
6.
Penggunaan obat
Observasi dan tanyakan
kepada klien dan keluarga tentang:
a.
Penggunaan
obat: frekuensi, jenis, dosis, waktu dan cara.
b.
Reaksi obat.
7. Pemeliharaan kesehatan
Tanyakan kepada klien dan
keluarga tentang:
a.
Apa, bagaimana, kapan dan kemana, perawatan dan
pengobatan lanjut.
b.
Siapa saja sistem pendukung yang dimiliki (keluarga,
teman, institusi dan lembaga pelayanan kesehatan) dan cara penggunaannya.
8. Kegiatan di dalam rumah
Tanyakan kemampuan klien dalam:
a.
Merencanakan,
mengolah dan menyajikan makanan
b. Merapikan
rumah (kamar tidur, dapur, menyapu, mengepel).
c. Mencuci
pakaian sendiri
d. Mengatur
kebutuhan biaya sehari-hari
9. Kegiatan di luar rumah
Tanyakan kemampuan klien
a. Belanja untuk keperluan sehari-hari
b. Dalam melakukan perjalanan mandiri dengan
jalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum)
c. Kegiatan lain yang dilakukan klien di luar
rumah (bayar listrik/ telpon/ air, kantor pos dan bank).
H. Mekanisme
Koping
Data didapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya,
apa koping yang dimiliki klien, baik adaptif maupun maladaptif.
I. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Data didapatkan melalui wawancara pada kilen atau keluarganya. Pada tiap
masalah yang dimiliki klien beri uraian spesifik, singkat dan jelas.
J.
Pengetahun
Data didapatkan melalui wawancara pada klien. Pada tiap item yang
dimiliki oleh klien simpulkan dalam masalah.
K. Aspek
Medik
Tuliskan diagnosa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang
merawat. Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik, psikofarmaka dan
terapi lain.
2.3.2 Pengkajian Halusinasi
Sangat penting untuk mengkaji perintah
yang diberikan lewat isi halusinasi, karena mungkin saja klien mendengar
perintah menyakiti orang lain, atau membunuh maka tindakan pertama yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Faktor
Predisposisi
Faktor
predisposisi menurut yosep (2011) adalah sebagai berikut:
a. Faktor perkembangan
Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga manyebabkan kelian tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustrasi,
hilangnya percaya diri dan lebih rentang terhadap stress
b. Faktor sosiokultural
seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (Unwanted
Child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya
c. Faktor Biokimia
Mempunyai penggaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa, adanya stress yag
berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang
bersifat halusinogenik neurokimia
d.Faktor Psikoligis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adaktif. Hal ini berpengaruh terhadap kemampuan pasien dalam
mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya
e. Faktor genetik dan Pola asuh
Penelitan menunjukan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua
skizofrenia cendrung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukan bahwa faktor
keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini
2. Faktor Presipitasi
Menurut Nila Fitria, 2009 maka
faktor presipitasi yang terjadi pada klien halusinasi:
Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan enargi ekstra untuk
menghadapinya. Adanya rangsangan dari lingkungan, seperti partisipasi klien
dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek yang ada
dilingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi faktor
pencetusnya terjadi halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan stres dan
kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.
Adapun penyebab pasien kambuh sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Yosep,
2011 bahwa diantara penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor keluarga
dan pasien itu sendiri, keluarga adalah support sistem terdekat dan 24 jam
bersama dengan pasien, keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan
membuat pasien mandiri dan patuh mengikuti program pengobatan.
3. Prilaku
Menurut Nila Fitria, 2009
prilaku yang terjadi pada klien
halusinasi respon klien terhadap halusinasi dapat
berupa curiga, takut, tidak aman, gelisah dan bingung, berprilaku merusak diri,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan
keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock dalam Nila Fitria,
2009 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan
seseorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar
bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi
yaitu :
1) Dimensi
Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi
fisik, seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga
delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama
2) Dimensi
Emosional
Perasaan cemas yang
berlebihan atas dasar masalah yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab
halusinasi itu terjadi. Halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan
3) Dimensi intelektual
Dalam dimensi
intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan
adanya penurunan fungsi ego, pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego
sendiri untuk melawan impuls yanng menekan, namun merupakan suatu hal yang
menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang
akan mnegontrol semua prilaku klien.
4) Dimensi sosial
Klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal dan comforting. Klien
menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan, klien
asyik dengan halusinasinya, seolah-olahnya ia merupakan tempat memenuhi
kebutuhan akan interaksi sosial. Kontrol diri, dan harga diri yang tidak
didapatkan dalam dunia nyata.
5) Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas
tidak bermakna, hilangnya aktifitas ibadah dan jarang berupanya secara spiritual
untuk menyucikan diri
4. Mekanisme
Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan
pada klien halusinasi (Maramis,2009 : 101) :
1) Regresi, mundur ketingkat
perkembangan yang kurang matang, dan respon yang kurang matang dan biasanya
juga dengan aspirasi yang kurang.
2) Proyeksi, menyalahkan orang lain mengenai
kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.
5. Melakukan pengkajian data objektif
dan data subjektif
Hal pertama yang dilakukan kenali jenis dan
isi halusinasi, data obejktif dapat anda kaji denga cara mengobservasi prilaku
klien, sedangkan data subjektif dapat anda dapatkan saat anda melakukan
pengkajian dengan wawancara dengan pasien, melalui data ini perawat dapat
mengetahui isi halusinasi
Tipe halusinasi menurut dan data
penunjangnya menurut videback, 2008:
Jenis Halusinasi
|
Data Subjektif
|
Data Objektif
|
Halusinasi dengar (audio)
|
1) Mendengar suara menyuruh
2) Mendengar suara/ bunyi
3) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
4) Mendengar seorang yang sudah meninggal
5) Mendengar suara yang mengacam diri klien
|
1) Mengarahkan telinga pada sumber suara
2) Berbicara atau tertawa sendiri
3) Marah-marah tanpa sebab
4) Menutup telinga
5) Mulut komat kamit/ bibir bergerak sendiri
6) Ada gerakan tangan
|
Halusinasi Penglihatan
|
Melihat seorang yang sudah meninggal, melihat makhluk tertentu, melihat
bayangan, hantu atau sesuatu yang menakutkan
|
1) Tatapan mata pada tempat tertentu
2) Menunjuk kearah tertentu
3) Ketakutan pada objek yanng dilihat
|
Halusinasi penghidu
|
1) Mencium sesuatu seperti mayat, darah, faces, atau bau masakan
2) Klien sering mengatakan mencium bau sesuatu
3) Tipe halusinasi ini sering menyertai pasien dimensia, kejang atau
penyakit serebrivaskuler
|
1) Ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung,
mengarahkan hidung pada tempat tertentu
|
Halusinasi Perabaan
|
1) Klien mengatakan ada sesuatu yang menyerayangi tubuh seperti tangan,
binatang kecil, makhluk halus
2) Merasakan sesuatu dipermukaan kulit , merasakan sangat panas atau
dingin, marasakan sengatan listrik
|
Mengusap, mengaruk-garuk, meraba permukaan kulit, terlihat menggerakan
badan seperti merasakan sesuatu
|
Halusinasi Pengecapan
|
Klien seperti sedang merasakan makanan tertentu, rasa tertentu atau
menguyah sesuatu
|
Seperti mengecap sesuatu, gerakan menguyah meludah atau muntah
|
Halusinasi kinestetik & sinestetik
|
Klien mengatakan fungsi jaringan tubuhnya sedang tidak berfungsi
misalnya, tidak ada denyutan jantung, atau sensasi pembentukan uring,
perasaan tubuhnya melayang diatas permukan bumi
|
Klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan terlihat merasakan sesuatu
yang aneh tentang tubuhnya
|
6. Mengkaji
waktu, Frekuensi dan situasi munculnya halusinasi
Perawat juga perlu mengkaji waktu,
frekuesi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Kapan
halusinasi terjadi? Apakah siang, sore atau malam, jika mungkin pukul brapa?,
frekuensi terus menerus apakan sesekali, situasi terjadinya apakah dalam
keadaan sendirir atau setelah terjadi kejadian tertentu, hal ini dilakukan
untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi menghindari
situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi, sehingga pasien tidak larut
dengan halusinasinya, dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat
direncanakan frekuensi tindakan untuk mencagah terjadi halusinasi.
7. Mengkaji Respon terhadap Halusinasi
Untuk mengetahui dampak halusinasi pada
klien dan apa respon klien ketika halusinasi itu muncul, perawat dapat
menanyakan kepada klien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi
timbul. Perawat dapat juga menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat
dengan klien. Selain itu dapat juga dengan mengobservasi dampak halusinasi pada
pasien jika halusinasi timbul.
2.3.3 Pohon
Masalah
|
Gangguan Persepsi sensori: Halusinasi pendengaran
|
Harga diri rendah kronis
Gambar 2. ( sumber :
Nita Fitria, 2009 )
2.3.4 Diagnosa
Keperawatan
Menurut Yosep, 2011 :
A.
Resiko
Tinggi Perilaku Kekerasan
B.
Perubahan
persepsi sensori: Halusinasi pendengaran
C.
Isolasi
sosial : menarik diri
D.
Harga
diri rendah kronis
2.3.5. Intervensi
Keperawatan
A. Diagnosa I : Gangguan
Persepsi sensori: Halusinasi Pendengaran
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien
yang mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Trimelia, 2011)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
I) : Membina hubungan saling percaya
1)
Bina
hubungan saling percaya dengan prinsip terapeutik
2)
Sapa
klien dengan ramah
3)
Tanyakan
nama lengkap klien, dan nama panggilan yang disukai
4)
Jelaskan
tujuan pertemuan
5)
Tunjukan
sikap empati dan menerima klien apa adanya
6)
Beri
perhatian pada klien dan penuhi kebutuhan klien
b. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 2) : Klien dapat
mengenali halusinasi
1)
Adakan kontak mata
secara sering dan singkat secara bertahap
2)
Observasi perilaku
verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasinya
3)
Terima halusinasi
sebagai hal yang nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat
4)
Identifikasi bersama
klien tentang waktu munculnya halusinasi, isi halusinasi dan frekuensi
timbulnya halusinasi
5)
Dorong klien untuk
mengungkapkan perasaannya ketika halusinasi muncul
6)
Diskusikan dengan klien
mengenai perasaannya saat terjadi
halusinasi
7)
Berikan reinforcement
positif atau pujian terhadap kemampuan klien dengan mengungkapkan perasaannya.
c. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 3)
Klien dapat mengontrol halusinasi
1)
Identifikasi bersama klien tindakan yang
biasanya dilakukan jika halusinasi muncul:
a)
Menghardik halusinasi
b)
Temui perawat atau teman, atau anggota keluarga)
c)
Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
d) Membantu
klien untuk minum obat secara teratur
e)
Meminta keluarga atau teman atau perawat menyapa
klien jika tampak bicara sendiri
2)
Beri
pujian dan penguatan terhadap tindakan yang positif
3)
Bersama
klien merencanakan kegiatan untuk mencegah terjadinya halusinasi
4)
Diskusikan
cara mencegah timbulnya halusinasi dan mengontrol halusinasi
5)
Dorong
klien untuk memilih cara yang digunakan dalam menghadapi halusinasi
6)
Beri
pujian dan penguatan terhadap pilihan yang benar
7)
Diskusikan
bersama klien hasil upaya yang telah dilakukan.
d. Melaksanakan tujuan khusus (TUK 4)
Klien mendapat dukungan keluarga atau memanfatkan sistem
pendukung untuk mengendalikan halusinasi
1)
Membina hubungan saling
percaya dengan keluarga ( ucapkan salam, perkenalan diri, sampaikan tujuan,
buat kontrak dan eksplorasi perasaan)
2)
Diskusikan dengan
keluarga tentang :
a)
Perilaku
halusinasi
b)
Akibat
yang akan terjadi jika perilaku halusinasi tidak ditanggapi
c)
Cara
keluarga menghadapi klien halusinasi
d)
Cara
keluarga merawat klien halusinasi
e)
Dorong
anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk mengontrol
halusinasinya.
3)
Melaksanakan tujuan khusus (TUK 5)
Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya
1)
Mendiskusikan dengan
klien tentang dosis, frekuensi serta manfaat minum obat.
2)
Anjurkan klien minta
sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
3)
Anjurkan klien bicara
dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat
4)
Diskusikan akibat
berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
5)
Bantu klien menggunakan
obat dengan prinsip lima benar
6)
Berikan reinforcement
positif atau pujian
2. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang
mengalami gangguan halusinasi dapat dilakukan dengan cara: (Trimelia, 2011)
a. Melaksanakan tujuan khusus ( TUK 1)
1)
Mendiskusikan
masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat
2)
Menjelaskan
pengertian, tanda dan gejala, jenis halusinasi serta proses terjadinya
halusinasi
3)
Menjelaskan
cara merawat klien dengan halusinasi
b. Melaksanakan Tujuian khusus ( TUK II )
1) Melatih keluarga memperaktekan cara merawat klien
dengan halusinasi
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung
kepada klien halusinasi
c) Melaksanakan
Tujuan khusus ( TUK III)
1) Membantu keluarga membuat jadwal aktifitas
dirumah termaksud minum obat
2) Menjelaskan persiapan klien setelah pulang
B. Diagnosa III : Harga diri Rendah Kronik
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien
yang mengalami Harga diri Rendah Kronik dapat
dilakukan dengan cara: (Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
I) : Membina hubungan saling percaya dan mendiskusikan kemampuan
dan aspek positif yang dimiliki kllien
1) Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki pasien
2) Membantu pasien memilih atau menetapkan kemampuan yang
akan dilatih
3) Melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun
jadwal pelaksanaan kemampuan yang tealah dilatih dalam rencana harian
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) : Melatih
pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien.
1) Malatih pasein melakukan kegiatan yang lain
2) Latihan dapat dilajutkan utnuk kemampuan lain sampai
kemampuan lain dapat dilatih
3) Setiap kemampuan yang dimiliki dapat meningkatkan
harga diri klien
2. Tindakan
penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga
pasien yang mengalami harga diri rendah dapat dilakukan dengan cara:
(Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Mendiskusikan masalah yang
dihadapi keluraga dalam merawat pasien dirumah
2) Menjelaskan tentang pengertian,
tanda dan gejala harga dii rendah.
3) Menjelaskan cara merawat paseian
dengan harga diri rendah
4) Mendemostrasikan cara merawat
pasien dengan harga diri rendah
5) Memberi kesempatan kepada
keluarga untuk memperaktekkan cara perawat
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II ) Keluarga
Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan
harga diri rendah langsung dengan pasien.
c. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
III) : Mempersiapkan perencanaan pulang
C. Diagnosa III : Isolasi Sosial : menarik diri
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien
yang mengalami isolasi social : menarik diri dengan cara: (yosep, 2011)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina
hubungan saling percaya
1)
Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi
dengan pasien.
2)
Berkenalan dengan pasien : perkenalan nama
dan nama panggilan yang saudara sukai
3)
Menanyakan perasaan dan keluahan klien saat
ini
4)
Buat kontrak asuhan apa yang dilakukan
bersama klien, berapa lamaakan dikerjakan, dan tempatnya dimana
5)
Jelaskan perawat akan merahasiakan informasi
yang diperlukan untuk kepentingan informasi
6)
Setiap saat tunjukan sikap empati terhadap
klien
7)
Penuhi kebutuhan dasar klien saat
berinteraksi
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
II) : Membantu klien menyadari prilaku isolasi sosial
1) Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan
orang lain
2) Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin
berintekasi dengan orang lain
3) Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman
dan bergaul akrab dengan mereka
4) Diskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri
dan tidak bergaul dengan orang lain
5) Jelaskan pengaruh isolasi social terhadap kesehatan
fisik klien
c. Melaksanakan Tujuan
Khusus (TUK III) : Melatih klien cara-cara berinteraksi dengan
orang lain secara bertahap
1) Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang
lain
2) Berikan contoh berbicara dengan orang lain
3) Beri kesempatan klien untuk berbicara dengan orang
lain yang dilakukan dihadapan perawat
4) Mulailah membantu klien berinteraksi dengan satu orang
teman/ anggota keluarga
5) Bila klien sudah menunjukan tanda kemajuan, tingkatkan
jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya
6) Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah
dilakukan oleh klien
7) Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah
berinteraksi dengan seseorang.
2. Melaksanakan tujuan khusus pada
keluarga
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang
mengalami isolasi sosial dilakukan
dengan cara: (Direja, 2011; 131)
a. Melaksanakan Tujuan
Khusus (TUK I) keluarga :
1) Identifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien
2) Penjelasan isolasi sosial
3) cara merawat pasien isolasi sosial
4) latih (simulasi)
5) Rencana tindak lanjut keluarga/ jadwal keluarga untuk merawat anggota
pasien
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) keluarga :
1) Evaluai kemampuan keluarga
2) Latih langsung kepada pasien
3) Rencana tindak lanjut keluraga/ jadwal keluarga untuk
merawat klien
c. . Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK III)
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Evaluasi kemampuan pasien
3) Rencana tindak lanjut keluarga follow up dan rujukan.
D. Diagnosa IV : Resti prilaku kekerasan
1. Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada pasien
yang mengalami perilaku kekerasan dengan
cara: (Budi dkk, 2007)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) : Membina
hubungan saling percaya
1)
Memberikan salam terapeutik
2)
Mengidentifikasi penyabab marah
3)
Mengidentifikasi tanda dan gejala marah
4)
Perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat dan
cara mengendalikan kemarahan dengan cara latihan fisik pertana (latihan nafas
dalam)
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
II) : Mengendalikan kemarahanan dengan latihan fisik kedua
1)
Evaluasi laihan nfas dalam
2)
Latihan mengendalikan perilaku kekerasan
dengan cara fisik kedua pukul kasus dan bantal
3)
Menyusun kegiatan dalam jadwal hari kedua
c. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK
III) : Mengendalikan prilaku kekerasan secara sosial atau verbal
1)
Evaluasi Latihan fisik kedua memukul bantal
atau kasur
2)
Latihan mengungkapkan kemarahan secara verbal
a)
Menolak
dengan baik
b)
Meminta
dengan baik
c)
Mengungkapkan
perasaan dengan baik
3)
Susun
jadwal kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan verbal
b.
Melaksanakan
Tujuan Khusus (TUK IV) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 4
1)
Evaluasi
kegiatan mengungkapkan kemarahan dengan cara verbal
2)
Bantu
pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual ( Latihan beribadah dan berdo’a )
3)
Membuat
jadwal latihan beribadah atau berdo’a
e. Melaksanakan tujuan khusus
(TUK 5) : mengendalikan prilaku kekerasan dengan cara ke 5 minum obat
1) Mendiskusikan dengan klien tentang obat
untuk mengontrol halusinasinya,
2)
Mengobservasi tanda. dan
gejala. terkait efek samping
3)
Mendiskusikan dengan
dokter tentang efek samping obat
4)
Bantu klien menggnakan obat
dengan prinsip 5 benar
2. Melaksanakan
tujuan khusus pada keluarga
Tindakan penatalaksanaan keperawatan jiwa pada keluarga pasien yang
mengalami prilaku kekerasan dilakukan
dengan cara: (Direja, 2011; 131)
a. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK I) keluarga :
1) Memberikan pendidikan kesehatan pada keluraga tentang
cara merawat pasien prilaku kekerasan dirumah
2) Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian,
penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari prilaku
kekerasan
3) Diskusikan kondisi klien yang perlu disegera
dilaporkan kepada perawat
b. Melaksanakan Tujuan Khusus (TUK II) keluarga :
1) Melatih keluarga cara melatih
kemarahan
2) Anjurkan keluarga untuk
memotifasi anggota keluarga pasien untuk melakukan tindakan yang sudah
diajarkan oleh perawat
3) diskusikan kepada keluarga
tindakan yang harus dilakukan jika pasien menunjukan gejala perilaku kekerasan
c. Melaksanakan
Tujuan Khusus (TUK III)
1) Evaluasi kemampuan keluarga
2) Membuat rencana pulang bersama keluarga
3) Rencana tindak lanjt keluarga follow up dan rujukan
2.3.6 Strategi Pelaksanaan
A. Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami halusinasi menurut Budi
Ana Keliat, 2007 adalah :
1. SP Pasien dengan Halusinasi
a. SP 1 Pasien : Membantu pasien
mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi, mengajarkan
pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi
Tujuan :
1. Mengenal
isi halusinasi
2. Pasien
mengenal waktu terjadinya halusinasi
3. Pasien
mengenal frekuensi Halusinasi
4. Pasien
mengenal perasaan bisa mengalami halusinasi
5. Menontrol
halusinasi pertama : menghardik halusinasi
Orientasi:
”Selamat pagi. Saya perawat yang akan
merawat Anda. Nama Saya ...... senang dipanggil....... Nama anda siapa? Senang
dipanggil apa”
”Bagaimana perasaan....hari ini? Apa
keluhan........saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita
bercakap-cakap tentang suara yang selama ini ........dengar tetapi tak tampak
wujudnya? dimana kita duduk? Di ......? Berapa lama? Bagaimana kalau ......”
Kerja:
”Apakah......
mendengar suara tanpa ada wujudnya?Apa yang dikatakan suara itu?”
” Apakah
terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering......dengar
suara? Berapa kali sehari.......alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar?
Apakah pada waktu sendiri?”
” Apa yang.....rasakan
pada saat mendengar suara itu?”
”Apa yang......lakukan saat mendengar suara
itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita
belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?
” ........, ada empat
cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik suara
tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga,
melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan
teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
”Caranya sebagai berikut: saat
suara-suara itu muncul, langsung......bilang, pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu
diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba.....peragakan! Nah
begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus......sudah bisa”
Terminasi:
”Bagaimana perasaan........setelah
peragaan latihan tadi?” Kalau suara-suara itu muncul lagi, silakan coba cara
tersebut ! bagaimana kalu kita buat jadwal latihannya. Mau jam berapa saja
latihannya? (Anda masukkan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam jadwal
kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan
latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa......?Bagaimana
kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih?Dimana tempatnya”
”Baiklah, sampai jumpa.
a. SP 2 Pasien : Melatih
pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:bercakap-cakap dengan orang
lain
Tujuan :
1. Evaluasi latihan cara menghardik
2. Latihan cara kedua : menemui orang lain dan bercakap-cakap
3. Susun jadwal kegiatan harian
cara ke-2
Orientasi:
“Selamat pagi......Bagaimana
perasaan......hari ini? Apakah
suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai cara yang telah kita
latih?Berkurangkah suara-suaranya Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih
cara kedua untuk mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
Kita akan latihan selama ....... Mau di
mana? Di ......?
Kerja:
“Cara kedua untuk
mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan bercakap-cakap dengan
orang lain. Jadi kalau.....mulai mendengar suara-suara, langsung saja cari
teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan......Contohnya
begini; … tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau
kalau ada orang dirumah misalnya Kakak........katakan: Kak, ayo ngobrol dengan
......., ......sedang dengar suara-suara Begitu...... Coba.....lakukan seperti
saya tadi lakukan. Ya, begitu. Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus
ya .....!”disini..... dapat mengajak perawat atau pasien lain untuk
bercakap-cakap
Terminasi:
“Bagaimana perasaan......setelah
latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang .......pelajari untuk mencegah
suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini kalau.......mengalami halusinasi
lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian..... Mau jam
berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta
sewaktu-waktu suara itu muncul! Besok pagi saya akan ke mari lagi. Bagaimana
kalau kita latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam
berapa? Bagaimana kalau jam ......? Mau di mana ......? Sampai besok ya.
Selamat pagi”
b. SP 3 Pasien : Melatih
pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan aktivitas terjadwal
Tujuan :
1. Evaluasi jadwal harian untuk 2 cara yang sudah diajarkan : mengahardik
dan bercakap-cakap dengan orang lain
2. Latihan melaksanakan aktivitas terjadwal
Orientasi:
“Selamat pagi......Bagaimana perasaan......hari ini? Apakah suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah
dipakai dua cara yang telah kita latih ?
Bagaimana hasilnya ? Bagus ! Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara
yang ketiga untuk mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau
di mana kita bicara? Baik kita duduk di ....... Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau ......? Baiklah.”
Kerja:
“Apa saja yang biasa......lakukan? Pagi-pagi apa
kegiatannya, terus jam berikutnya (terus ajak sampai didapatkan
kegiatannya sampai malam). Wah banyak
sekali kegiatannya. Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih
kegiatan tersebut). Bagus sekali......bisa lakukan. Kegiatan ini dapat ......lakukan
untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan kita latih lagi
agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.
Terminasi:
“Bagaimana perasaan......setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga
untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah kita
latih untuk mencegah suara-suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal
kegiatan harian......Coba lakukan sesuai jadwal ya!(anda dapat melatih
aktivitas yang lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas
dari pagi sampai malam) Bagaimana
kalau menjelang makan siang nanti, kita membahas cara minum obat yang baik
serta guna obat. Mau jam
berapa? Bagaimana kalau jam ...... pagi?Di ......
ya! Sampai jumpa..
c.
SP 4 Pasien: Melatih
pasien menggunakan obat secara teratur
Tujuan :
1. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk mencegah/mengontrol halusinasi
yang sudah dilatih
2. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip 5 benar, disertai
penjelasan tentang guna obat
3. Susun jadwal minum obat secara teratur
Orientasi:
“Selamat siang......Bagaimana
perasaan......hari ini? Apakah
suara-suaranya masih muncul ? Apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih ? Apakah
jadwal kegiatannya sudah dilaksanakan ? Apakah
pagi ini sudah minum obat? Baik. Hari ini kita akan mendiskusikan tentang
obat-obatan yang......minum. Kita akan
diskusi selama ....... Di ......
saja ya......?”
Kerja:
“......adakah
bedanya setelah minum obat secara teratur. Apakah suara-suara berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting supaya
suara-suara yang...... dengar dan mengganggu selama ini tidak muncul
lagi. Berapa macam obat yang......minum ? (Perawat menyiapkan obat pasien) Ini yang warna orange (CPZ) 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam gunanya untuk
menghilangkan suara-suara. Ini yang putih (THP)3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku.
Sedangkan yang merah jambu (HP) 3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk
pikiran biar tenang. Kalau suara-suara sudah hilang obatnya tidak boleh
diberhentikan. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat......akan kambuh
dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kalau obat habis......bisa minta ke
dokter untuk mendapatkan obat lagi. ......juga harus
teliti saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya......harus
memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya...... Jangan keliru dengan obat
milik orang lain. Baca nama kemasannya.
Pastikan obat diminum pada waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu diminum
sesudah makan dan tepat jamnya. ......juga harus perhatikan berapa jumlah obat sekali
minum, dan harus cukup minum 10 gelas per hari”
Terminasi:
“Bagaimana perasaan ......setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Sudah
berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba sebutkan! Bagus! (jika
jawaban benar). Mari kita masukkan
jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan ....... Jangan lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau pada keluarga kalau di rumah. Nah makanan
sudah datang. Besok kita ketemu lagi untuk melihat manfaat 4 cara mencegah
suara yang telah kita bicarakan. Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam .......
sampai jumpa.!
B.
SP Keluarga
a.
SP 1 Keluarga
: Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi
yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien
halusinasi.
Orientasi:
“Selamat Pagi Bapak/Ibu!”“Saya ......, perawat
yang merawat anak Bapak/Ibu.”
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini? Apa
pendapat Bapak/Ibu tentang anak Bapak/Ibu?”
“Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa
masalah yang anak Bapak/Ibu alami dan bantuan apa yang Bapak/Ibu bisa berikan.”
“Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di
ruang wawancara? Berapa lama waktu
Bapak/Ibu? Bagaimana kalau ......”
Kerja:
“masalah apa yang Bpk/Ibu rasakan dalam merawat ....... Apa yang Bapak/Ibu
lakukan?”
“Ya, gejala yang dialami oleh anak Bapak/Ibu
itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar atau melihat sesuatu yang sebetulnya
tidak ada bendanya.
”Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri, atau marah-marah tanpa sebab”
“Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan
mendengar suara-suara, sebenarnya suara itu tidak ada.”
“Kalau anak Bapak/Ibu mengatakan melihat
bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu tidak ada.”
”Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya
dengan beberapa cara. Ada beberapa cara untuk membantu anak Bapak/Ibu agar bisa
mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain: Pertama, dihadapan
anak Bapak/Ibu, jangan membantah halusinasi atau menyokongnya. Katakan saja
Bapak/Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar suara atau melihat
bayangan, tetapi Bapak/Ibu sendiri tidak mendengar atau melihatnya”.
”Kedua, jangan biarkan anak Bapak/Ibu melamun
dan sendiri, karena kalau melamun halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada
orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga seperti makan
bersama, sholat bersama-sama. Tentang kegiatan, saya telah melatih anak
Bapak/Ibu untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Bapak/Ibu pantau
pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!”
”Ketiga, bantu anak Bapak/Ibu minum obat
secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa konsultasi. Terkait dengan obat
ini, saya juga sudah melatih anak Bapak/Ibu untuk minum obat secara teratur.
Jadi bapak/Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam, ini yang orange
namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau bayangan. Diminum 3 X
sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang putih namanya THP
gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP
gunanya menenangkan cara berpikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obat perlu
selalu diminum untuk mencegah kekambuhan”
”Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi
mulai muncul, putus halusinasi anak Bapak/Ibu dengan cara menepuk punggung anak
Bapak/Ibu. Kemudian suruhlah anak Bapak/Ibu menghardik suara tersebut. Anak
Bapak/Ibu sudah saya ajarkan cara
menghardik halusinasi”.
”Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi
anak Bapak/Ibu. Sambil menepuk punggung anak Bapak/Ibu, katakan: ......, sedang apa
kamu?Kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila suara-suara itu
datang? Ya..Usir suara itu, ....... Tutup
telinga kamu dan katakan pada suara itu ”saya tidak mau dengar”. Ucapkan
berulang-ulang, ......”
”Sekarang coba Bapak/Ibu praktekkan cara yang
barusan saya ajarkan”
”Bagus Pak/Bu”
Terminasi:
“Bagaimana
perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi
anak Bapak/Ibu?”
“Sekarang coba Bapak/Ibu sebutkan kembali tiga
cara merawat anak bapak/Ibu”
”Bagus sekali Pak/Bu. Bagaimana kalau ...... lagi kita
bertemu untuk mempraktekkan cara memutus
halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”
”Jam berapa kita bertemu?”
Baik, sampai Jumpa.
b. SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat
pasien langsung dihadapan
pasien, Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat
pasien dengan halusinasi langsung
dihadapan pasien.
Orientasi:
“Selamat .......!!”“Bagaimana perasaan Bapak
atau Ibu pagi ini?”
”Apakah Bapak atau Ibu masih ingat bagaimana cara
memutus halusinasi anak Bapak atau Ibu yang sedang mengalami halusinasi?Bagus!”
” Sesuai dengan perjanjian kita, selama ...... ini kita akan
mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”.
”mari kita datangi Anak bapak/Ibu”
Kerja:
”Selamat pagi ......” ” ......, Bapak//Ibu ......sangat ingin membantu ...... mengendalikan
suara-suara yang sering ......dengar. Untuk itu
pagi ini Bapak/Ibu ......datang untuk
mempraktekkan cara memutus suara-suara yang ......dengar. ......nanti kalau sedang
dengar suara-suara bicara atau tersenyum-senyum sendiri, maka Bapak/Ibu akan
mengingatkan seperti ini” ”Sekarang, coba Bapak/Ibu peragakan cara memutus
halusinasi yang sedang ......alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya.
Tepuk punggung ......lalu suruh ......mengusir suara dengan menutup
telinga dan menghardik suara tersebut” (saudara mengobservasi apa yang
dilakukan keluarga terhadap pasien)Bagus sekali!Bagaimana ......? Senang
dibantu Bapak/Ibu? Nah Bapak/Ibu ingin melihat jadwal harian ....... (Pasien
memperlihatkan dan dorong orang tua memberikan pujian) Baiklah, sekarang saya dan orang tua ......ke ruang
perawat dulu” (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan
terminasi dengan keluarga
Terminasi:
“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi
langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”
”Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/Bu.
Bapak/Ibu dapat melakukan cara itu bila anak Bapak/Ibu mengalami halusinasi”.
“bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi
untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan harian anak Bapak/Ibu untuk persiapan
di rumah. Jam berapa Bapak atau Ibu bisa datang?Tempatnya di ...... ya. Sampai jumpa.”
c. SP 3 Keluarga :
Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi
“ Selamat pagi Pak/Bu, karena besok......sudah boleh
pulang, maka sesuai janji kita sekarang ketemu untuk membicarakan jadwal ......selama
dirumah”
“Bagaimana pak/Bu selama Bapak/Ibu membesuk
apakah sudah terus dilatih cara merawat ......?”
“Nah sekarang kita bicarakan jadwal ......di rumah?
Mari kita duduk di ......!”
“Berapa lama Bapak/Ibu ada waktu? Bagaimana
kalau ......?”
Kerja
“Ini jadwal kegiatan.....di rumah sakit. Jadwal ini dapat dilanjutkan di rumah. Coba .........
lihat mungkinkah dilakukan di rumah. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan
mengingatkan?”....... jadwal yang telah dibuat
selama ......di rumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal
aktivitas maupun jadwal minum obatnya”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut
adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di
rumah.Misalnya ....terus menerus mendengar suara-suara yang mengganggu
dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain. Jika hal ini terjadi segera
hubungi ....... di Puskesmas terdekat dari rumah Bapak/Ibu, ini nomor telepon
puskesmasnya: ..............
Selanjutnya suster ......yang
akan membantu memantau perkembangan ......selama
di rumah
Terminasi
“Bagaimana Bapak/Ibu? Ada yang
ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat......di rumah!
Bagus (jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya untuk
dibawa pulang. Selanjutnya silakan ibu menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan.
Kami akan siapkan ......untuk pulang”
B. Strategi yang digunakan pada pasien yang mengalami Harga diri rendah
menurut Budi Ana Keliat, 2007 adalah
1. SP Pasien :
a. SP 1 Pasien: Mendiskusikan kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang
masih dapat digunakan, membantu pasien
memilih/menetapkan kemampuan yang akan
dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan
kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian
Orientasi :
“Selamat pagi, bagaimana keadaan ......hari ini
? ...... terlihat
segar“.
”Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang
pernah......lakukan?Setelah
itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat ...... dilakukna di rumah sakit.
Setelah kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih”
”Dimana kita duduk ? bagaimana kalau di ......? Berapa lama ? Bagaimana kalau
......?
Kerja :
” ......, apa saja kemampuan yang ...... dimiliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya!
Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa
......lakukan? Bagaimana dengan merapihkan kamar? Menyapu
? Mencuci piring..............dst.“ Wah, bagus sekali ada lima kemampuan dan
kegiatan yang ...... miliki “.
” ......, dari
lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang masih dapat dikerjakan di rumah
sakit ? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua.......sampai 5 (misalnya ada 3 yang masih bisa dilakukan).
Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini.
”Sekarang, coba......pilih
satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan
di rumah sakit ini”.” ......yang
nomor satu, merapihkan tempat tidur?Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita
latihan merapihkan tempat tidur ......”. Mari kita lihat tempat tidur ....... Coba lihat, sudah rapihkah tempat
tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapihkan tempat tidur, mari kita
pindahkan dulu bantal dan selimutnya. Bagus ! Sekarang kita angkat spreinya,
dan kasurnya kita balik. ”Nah, sekarang
kita pasang lagi spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus !. Sekarang
sebelah kaki, tarik dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil
bantal, rapihkan, dan letakkan di sebelah atas/kepala. Mari kita lipat selimut,
nah letakkan sebelah bawah/kaki. Bagus ” ...... sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali.
Coba perhatikan bedakah dengan sebelum dirapikan? Bagus ”
“ Coba ...... lakukan dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri)
kalau ...... lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) jika diingatkan bisa
melakukan, dan T (tidak) melakukan.
Terminasi :
“Bagaimana
perasaan ...... setelah kita bercakap-cakap dan
latihan merapihkan tempat tidur ? Yah, ......ternyata banyak memiliki
kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini. Salah satunya, merapihkan
tempat tidur, yang sudah ......praktekkan dengan baik
sekali. Nah kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah pulang.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadual
harian. ......mau berapa kali sehari merapihkan tempat tidur. Bagus, ...... yaitu ...... jam berapa ?
Lalu sehabis ......
, jam ......”
”Besok pagi kita latihan lagi
kemampuan yang kedua. ......masih ingat
kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapihkan tempat
tidur? Ya bagus, cuci piring.. kalu begitu kita akan latihan mencuci piring
besok jam ...... pagi
di ...... Sampai jumpa ya”
a. SP 2
Pasien: Melatih pasien melakukan
kegiatan lain yang sesuai dengan
kemampuan
pasien.
Orientasi
:
“Selamat pagi, bagaimana
perasaan ...... ini ? Wah, tampak cerah ”
”Bagaimana......, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore kemarin atau tadi
pag? Bagus (kalau sudah dilakukan, kalau belum bantu lagi, sekarang kita akan
latihan kemampuan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu......?”
”Ya benar, kita
akan latihan mencuci piring di dapur ruangan ini”
”Waktunya
sekitar ....... Mari
kita ke ......!”
Kerja :
“ ......, sebelum kita mencuci piring
kita perlu siapkan dulu perlengkapannya, yaitu sabut/tapes untuk membersihkan
piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan air untuk membilas., ......bisa
menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh ya jangan lupa sediakan tempat
sampah untuk membuang sisa-makanan.
“Sekarang saya perlihatkan
dulu ya caranya”
“Setelah semuanya perlengkapan tersedia, ......ambil satu piring kotor, lalu buang dulu sisa
kotoran yang ada di piring tersebut ke tempat sampah. Kemudian ......bersihkan
piring tersebut dengan menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun
pencuci piring. Setelah selesai
disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak ada busa sabun sedikitpun di
piring tersebut. Setelah itu ......bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di
rak yang sudah tersedia di dapur. Nah selesai…
“Sekarang coba
......yang melakukan…”
“Bagus sekali, ......dapat mempraktekkan cuci pring
dengan baik. Sekarang dilap tangannya
Terminasi :
”Bagaimana perasaan......setelah latihan cuci piring ?”
“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini
dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari
......Mau
berapa kali ......mencuci piring? Bagus sekali ......mencuci
piring tiga kali setelah makan.”
”Besok kita akan latihan untuk
kemampuan ketiga, setelah merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Masih ingat
kegiatan apakah itu? Ya benar kita akan latihan mengepel”
”Mau jam berapa ? ......? Sampai
jumpa ya ”
2. SP keluarga dengan Harga diri rendah
a.
SP 1
Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien di
rumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah,
menjelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, mendemonstrasikan
cara merawat pasien dengan harga diri rendah, dan memberi kesempatan kepada
keluarga untuk mempraktekkan cara merawat
Orientasi :
“Selamat ......... !”
“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”
“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap
tentang cara merawat......? Berapa lama waktu Bapak/Ibu? ......? Baik, mari duduk di ......!”
Kerja :
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah......”
“Ya memang benar sekali Pak/Bu, ......itu memang
terlihat tidak percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri.
Misalnya pada......, sering menyalahkan dirinya dan mengatakan dirinya
adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak Bapak/Ibu memiliki
masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya pikiran-pikiran yang
selalu negatif terhadap diri sendiri. Bila keadaan......ini terus menerus seperti itu, ......bisa mengalami masalah yang lebih berat lagi,
misalnya......jadi malu bertemu dengan orang lain dan memilih
mengurung diri”
“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang
dimaksud harga diri rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”
“Setelah kita mengerti bahwa masalah......dapat menjadi
masalah serius, maka kita perlu memberikan perawatan yang baik untuk ......”
”Bapak/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki......? Ya benar,
dia juga mengatakan hal yang sama(kalau sama dengan kemampuan yang dikatakan)
” ......itu telah
berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat tidur dan cuci piring. Serta
telah dibuat jadual untuk melakukannya. Untuk itu, Bapak/Ibu dapat mengingatkan......untuk
melakukan kegiatan tersebut sesuai jadual. Tolong bantu menyiapkan
alat-alatnya, ya Pak/Bu. Dan jangan lupa memberikan pujian agar harga dirinya
meningkat. Ajak pula memberi tanda cek list pada jadual yang kegiatannya”.
”Selain itu, bila......sudah tidak lagi dirawat di
Rumah sakit, bapak/Ibu tetap perlu
memantau perkembangan....... Jika masalah harga dirinya kembali muncul dan
tidak tertangani lagi, bapak/Ibu dapat membawa......ke puskesmas”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktekkan
cara memberikan pujian kepada......”
”Temui......dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu
berikan pujian yang yang mengatakan: Bagus sekali......, kamu sudah semakin terampil
mencuci piring”
”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”
Terminasi :
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan
kita ini?”
“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah
yang dihadapi ...... dan bagaimana cara merawatnya?”
“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan
baik. Nah setiap kali Bapak/Ibu kemari lakukan seperti
itu. Nanti di rumah juga demikian.”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari
mendatang untuk latihan cara memberi pujian langsung kepada ......”
“Jam berapa Bapak/Ibu datang? Baik saya
tunggu. Sampai jumpa.”
b. SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien
dengan masalah harga diri rendah
langsung kepada pasien
Orientasi:
“Selamat.........Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak/IBu masih ingat latihan merawat anak
Bapak Ibu seperti yang kita
pelajari dua hari yang lalu?”
“Baik, hari ini kita akan mampraktekkannya
langsung kepada .......”
”Waktunya ......”.
”Sekarang mari kita temui ......”
Kerja:
”Selamat....... Bagaimana perasaan ...... hari ini?”
”Hari ini saya datang bersama orang tua ....... Seperti
yang sudah saya katakan sebelumnya, orang tua......juga ingin merawat......agar ......cepat pulih.”
(kemudian saudara berbicara kepada keluarga
sebagai berikut)
”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa
mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu, yaitu memberikan
pujian terhadap perkembangan anak Bapak/Ibu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan
cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana
perasaan......setelah berbincang-bincang dengan Orang tua ......?”
”Baiklah,
sekarang saya dan orang tua......ke ruang perawat dulu”
(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk
melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita
latihan tadi?”
« «Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa
melakukan cara merawat tadi kepada ......»
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk
mendiskusikan pengalaman Bapak/Ibu melakukan cara merawat yang sudah kita
pelajari. Waktu dan tempatnya ...... Pak/Bu »
c. SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi:
“Selamt pagi Pak/Bu”
”Karena hari ini ...... sudah boleh pulang,
maka kita akan membicarakan jadwal
...... selama di ......”
”Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita
bicarakan di ......
Kerja:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan ......selama
di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di
rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama ...... dirawat dirumah sakit
tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut
adalah perilaku yang ditampilkan oleh ...... selama di rumah.
Misalnya kalau ...... terus menerus menyalahkan diri sendiri dan
berpikiran negatif terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan
perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat ...... di
puskemas ......., Puskesmas terdekat dari rumah ........., ini nomor telepon
puskesmasnya: ........
”Selanjutnya perawat ......
tersebut yang akan memantau perkembangan ...... selama di ......
Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini
jadwal kegiatan harian ......untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat
...... di PKM ........ Jangan lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada
gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”
C . Strategi yang
digunakan pada pasien yang mengalami isolasi sosial menurut Budi Ana Keliat,
2007 adalah
1.
SP Pasien
a.
SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal
1)
penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan
2)
berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain,
3)
mengajarkan pasien berkenalan
Orientasi
:
“Selamat...... ”
“Saya ……….., Saya senang dipanggil …………,
Saya perawat di Ruang Mawar ini… yang akan merawat Ibu.”
“Siapa nama ......? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan...... hari ini?” Bagaimana kalau
kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ......? Mau dimana kita
bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ......? Mau berapa lama, ......? Bagaimana kalau ......”
Kerja:(Jika pasien baru)
”Siapa saja yang
tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan......?
Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan......? Apa
yang membuat ...... jarang bercakap-cakap dengannya?”
(Jika pasien sudah
lama dirawat)
”Apa yang ...... rasakan selama ...... dirawat disini? ...... merasa sendirian? Siapa saja yang ...... kenal di ruangan ini”
“Apa saja
kegiatan yang biasa ...... lakukan
dengan teman yang...... kenal?”
“Apa yang
menghambat...... dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien
yang lain?” ”Menurut...... apa saja keuntungannya kalau kita
mempunyai teman ? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa)
Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya......? Ya, apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga
ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah...... belajar bergaul dengan orang
lain ?« Bagus. Bagaimana kalau
sekarang kita belajar berkenalan dengan
orang lain”
“Begini
ya pak......, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan
dulu nama kita dan nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh:
Nama Saya......, senang dipanggil Si. Asal saya dari Bireun, hobi
memasak”
“Selanjutnya...... menanyakan
nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak siapa? Senang
dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo......dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan......Coba
berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus
sekali”
“Setelah ...... berkenalan dengan orang
tersebut ...... bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang
menyenangkan ......bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi,
tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.
Terminasi:
”Bagaimana perasaan...... setelah kita latihan berkenalan?”
” ...... tadi sudah
mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali”
”Selanjutnya ......dapat mengingat-ingat apa yang
kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga ......lebih siap untuk berkenalan
dengan orang lain. ...... mau
praktekkan ke pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada
jadwal kegiatan hariannya.”
”Besok ...... saya akan datang kesini untuk mengajak...... berkenalan dengan teman saya,
perawat N. Bagaimana, ...... mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.
b.
SP 2
Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan
orang pertama -seorang perawat-)
Orientasi :
“Selamat......! ”
“Bagaimana perasaan...... hari ini?
« Sudah dingat-ingat lagi
pelajaran kita tetang berkenalan »Coba sebutkan lagi sambil bersalaman
dengan Suster ! »
« Bagus sekali, ...... masih ingat. Nah seperti janji saya, saya
akan mengajak ...... mencoba
berkenalan dengan teman saya perawat....... Tidak lama
kok, sekitar...... »
« Ayo kita temui perawat...... disana »
Kerja :
( Bersama-sama ...... saudara
mendekati perawat......)
« Selamat pagi perawat ......, ini ingin berkenalan dengan......»
« Baiklah ......, ...... bisa
berkenalan dengan perawat ...... seperti yang
kita praktekkan kemarin «
(pasien mendemontrasikan cara
berkenalan dengan perawat......: memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama
perawat, dan seterusnya)
« Ada lagi yang......ingin tanyakan
kepada perawat....... coba tanyakan tentang keluarga perawat......»
« Kalau tidak ada lagi
yang ingin dibicarakan, ...... bisa sudahi
perkenalan ini. Lalu...... bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat......,
misalnya ...... »
« Baiklah perawat ......, karena...... sudah selesai
berkenalan, saya dan ...... akan kembali ke ruangan ....... Selamat
pagi »
(Bersama-sama pasien saudara
meninggalkan perawat ...... untuk
melakukan terminasi dengan ...... di tempat
lain)
Terminasi:
“Bagaimana perasaan ...... setelah berkenalan dengan perawat ......”
” ...... tampak
bagus sekali saat berkenalan tadi”
”Pertahankan terus apa yang sudah ...... lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan
topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga,
hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita
masukkan pada jadwalnya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau ...... kali. Baik nanti ...... coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau
jam berapa? Jam ......? Sampai besok.”
c. SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap
(berkenalan dengan orang kedua-seorang pasien)
Orientasi:
“Selamat ......! Bagaimana perasaan hari ini?
”Apakah ...... bercakap-cakap dengan perawat ...... kemarin siang”
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan
komunikasi berikutnya orang lain
”Bagaimana perasaan...... setelah bercakap-cakap dengan
perawat...... kemarin
siang”
”Bagus sekali ...... menjadi senang karena punya
teman lagi”
”Kalau begitu ...... ingin punya banyak teman
lagi?”
”Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan
orang lain, yaitu pasien ......”
”seperti biasa kira-kira ......”
”Mari kita temui dia di ruang makan”
Kerja:
( Bersama-sama ...... saudara mendekati pasien )
« Selamat pagi , ini ada pasien saya yang
ingin berkenalan. »
« Baiklah ......, ...... sekarang bisa berkenalan
dengannya seperti yang telah ...... lakukan
sebelumnya. »
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi
salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi dan menanyakan hal yang
sama). »
« Ada lagi yang...... ingin tanyakan kepada ......»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin
dibicarakan, ...... bisa sudahi
perkenalan ini. Lalu ...... bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi ...... »
(...... membuat janji
untuk bertemu kembali dengan ......)
« Baiklah ......, karena ...... sudah selesai berkenalan, saya dan ...... akan kembali ke...... Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat
...... untuk melakukan terminasi dengan ...... di tempat lain)
Terminasi:
“Bagaimana perasaan ...... setelah berkenalan dengan ......”
”Dibandingkan kemarin pagi, ...... tampak lebih
baik saat berkenalan dengan ......”
”pertahankan apa yang sudah ......
lakukan
tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan ...... jam ......”
”Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang
lain kita tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari ...... dapat
berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam ......, jam ...... dan jam ......, ...... bisa bertemu dengan ......, dan tambah dengan pasien
yang baru dikenal. Selanjutnya ...... bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara
bertahap. Bagaimana ......, setuju
kan?”
”Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk
membicarakan pengalaman....... Pada jam ...... dan tempat ...... ya. Sampai
besok.
2.
SP
Keluarga
a.
SP 1 Keluarga :
Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang .masalah isolasi sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara
merawat pasien dengan isolasi
sosial
Orientasi:
“selamat......Pak”
”Perkenalkan saya perawat ...... saya yang
merawat, anak bapak, ......, di ruang ...... ini”
”Nama Bapak siapa?
” Bagaimana perasaan Bapak hari ini?
Bagaimana keadaan anak ...... sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang
tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya”
”Kita diskusi di sini saja ya? Berapa lama Bapak
punya waktu? Bagaimana kalau ......?
Kerja:
”Apa masalah yang Bapak/Ibu hadapi dalam merawat
......? Apa
yang sudah dilakukan?”
“Masalah yang dialami oleh anak ...... disebut
isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh
pasien-pasien gangguan jiwa yang lain”.
” Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul
dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara hanya sebentar dengan
wajah menunduk”
”Biasanya masalah ini muncul karena memiliki
pengalaman yang mengecewakan saat
berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau
berpisah dengan orang–orang terdekat”
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak
diatasi maka seseorang bisa mengalami
halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak
ada.”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak
dan anggota keluarga lainnya harus sabar menghadapi ....... Dan untuk merawat ...... keluarga
perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling
percaya dengan ...... yang caranya adalah bersikap peduli dengan ...... dan jangan
ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada...... untuk bisa
melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi pasien.”
« Selanjutnya jangan biarkan ...... sendiri. Buat
rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan ....... Misalnya sholat bersama,
makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama.”
”Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk
melakukan semua cara itu”
” Begini contoh komunikasinya, Pak: ......, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap dengan orang
lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat
perkembangan kamu, Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang lain.
Lalu bagaimana kalau mulai sekarang kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit
ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu sholat bersana-sama
keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana ......, kamu mau coba kan, nak ?”
”Nah coba sekarang Bapak peragakan cara
komunikasi seperti yang saya contohkan”
”Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan
baik sekali”
”Sampai sini ada yang ditanyakan Pak
Terminasi:
“Baiklah waktunya sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah
kita latihan tadi?”
“Coba Bapak
ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda
orang yang mengalami isolasi sosial »
« Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali
cara-cara merawat anak bapak yang mengalami masalah isolasi sosial »
« Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan
kembali cara-cara perawatan tersebut »
«Nanti kalau ketemu ...... coba Bp/Ibu lakukan. Dan
tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang
sama. »
« Bagaimana kalau kita betemu tiga
hari lagi untuk latihan langsung kepada ......? »
« Kita ketemu ...... ya Pak, pada jam ......»
b.
SP 2 Keluarga : Melatih
keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan masalah isolasi sosial langsung dihadapan
pasien
Orientasi:
“selamat ......Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”
”Bapak masih ingat latihan merawat anak
Bapak seperti yang kita pelajari
berberapa hari yang lalu?”
“Mari praktekkan langsung ke ......! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba .......”
”Sekarang mari kita temui ......”
Kerja:
”selamat pagi ....... Bagaimana perasaan ...... hari ini?”
”Bapak/Ibu ...... datang besuk. Beri salam!
Bagus. Tolong ...... tunjukkan jadwal kegiatannya!”
(kemudian
saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa
yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan
cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana
perasaan ...... setelah berbincang-bincang dengan Orang tua ......?”
”Baiklah,
sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu”
(Saudara
dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah
bagus.”
« «Mulai sekarang Bapak sudah bisa
melakukan cara merawat tadi kepada ...... »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk
mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari.
Waktu dan tempatnya ...... Pak »
« sampai jumpa »
c.
SP 3 Keluarga : Membuat
perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi:
“selamat.......Pak/Bu”
”Karena besok ...... sudah boleh pulang, maka perlu kita bicarakan
perawatan di rumah.”
”Bagaimana kalau kita membicarakan jadwal ......
tersebut di......”
”Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana
kalau ......?”
Kerja:
”Bapak/Ibu, ini jadwal ...... selama di rumah sakit. Coba dilihat,
mungkinkah dilanjutkan di rumah? Di rumah Bapak/Ibu yang menggantikan perawat.
Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut
adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama di rumah. Misalnya
kalau ...... terus menerus
tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan
perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat ..... di
puskemas ......, Puskesmas terdekat dari rumah Bapak, ini nomor
telepon puskesmasnya: ......
”Selanjutnya perawat ...... tersebut
yang akan memantau perkembangan ...... selama di rumah
Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini
jadwal kegiatan harian ...... untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat
...... di PKM ....... Jangan lupa kontrol
ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan
administrasinya!”
D. Strategi yang digunakan
pada pasien yang mengalami Perilaku kekerasan menurut Budi Ana Keliat, 2007
adalah
1. SP Pasien
a. SP 1 Pasien :
Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan marah, tanda
dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta
cara mengontrol secara fisik I
Orientasi:
“Selamat..... pak, perkenalkan nama saya ......, panggil saya ......, saya perawat yang
dinas di ruangan soka in. Hari ini saya dinas ..... dari pk. ....... Saya yang akan merawat ......
selama ...... di rumah sakit ini. Nama bapak siapa,
senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan ...... saat ini?, Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang
sekarang tentang perasaan marah bapak”
“Berapa lama bapak mau kita
berbincang-bincang?” Bagaimana kalau ......?
“Dimana enaknya kita duduk untuk
berbincang-bincang, ......? Bagaimana kalau di ......?”
Kerja:
“Apa yang menyebabkan ...... marah?,
Apakah sebelumnya ...... pernah marah? Terus,
penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. O..iya, jadi ada 2 penyebab
marah bapak”
“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti ...... pulang ke rumah dan istri belum menyediakan
makanan(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang bapak rasakan?” (tunggu respons pasien)
“Apakah ...... merasakan
kesal kemudian dada ......
berdebar-debar, mata melotot,
rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang bapak lakukan? O..iya,
jadi ...... memukul istri bapak dan memecahkan piring,
apakah dengan cara ini makanan terhidang? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara
yang...... k lakukan? Betul, istri
jadi sakit dan takut, piring-piring pecah. Menurut bapak adakah cara lain
yang lebih baik? Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan
baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Ada beberapa
cara untuk mengontrol kemarahan, pak. Salah satunya adalah dengan cara fisik.
Jadi melalui kegiatan fisik disalurkanrasa marah.”
”Ada beberapa cara, bagaimana
kalau kita belajar satu cara dulu?”
”Begini ......, kalau tanda-tanda marah tadi sudah ...... rasakan maka...... berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu
keluarkan/tiupu perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan.
Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut.
Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak
sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini ...... lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu
rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa melakukannya”
Terminasi
“Bagaimana perasaan ...... setelah berbincang-bincang tentang kemarahan
bapak?”
”Iya jadi ada 2 penyebab bapak marah
........ (sebutkan) dan yang bapak rasakan ........ (sebutkan) dan yang bapak lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya ......... (sebutkan)
”Coba selama saya tidak ada,
ingat-ingat lagi penyebab marah ...... yang lalu,
apa yang bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa
latihan napas dalamnya ya ....... ‘Sekarang kita buat jadual latihannya ya
pak, berapa kali sehari ...... mau latihan napas dalam?, jam berapa saja
pak?”
”Baik, bagaimana kalau 2 jam
lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk mencegah/mengontrol
marah. Tempatnya disini saja ya ......, sampai jumpa”
|
b. SP 2 Pasien:
Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2
a.
Evaluasi latihan nafas dalam
b.
Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan
bantal
c.
Susun jadwal kegiatan harian cara kedua
Orientasi
“selamat ..... sesuai
dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya datang lagi”
“Bagaimana perasaan
bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan bapak marah?”
|
“Baik, sekarang kita akan belajar cara
mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua”
“Mau berapa lama? Bagaimana kalau ......?”
Dimana kita bicara?Bagaimana kalau di ......?”
Kerja
“Kalau ada yang menyebabkan ...... marah dan
muncul perasaan kesal, berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam ......dapat
melakukan pukul kasur dan bantal”.
“Sekarang mari kita latihan memukul kasur
dan bantal. Mana kamar ......? Jadi kalau nanti ...... kesal dan ingin marah,
langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan
bantal. Nah,
coba ...... lakukan, pukul kasur dan bantal.
Ya, bagus sekali ......melakukannya”.
“Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.”
“Nah cara inipun dapat dilakukan secara
rutin jika ada perasaan marah. Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya
Terminasi
“Bagaimana perasaan ..... setelah latihan
cara menyalurkan marah tadi?”
“Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba
..... sebutkan lagi?Bagus!”
“Mari
kita masukkan kedalam jadual kegiatan
sehari-hari ...... Pukul kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap
bangun tidur? Baik, jadi jam ..... pagi.
dan jam jam ...... Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua
cara tadi ya pak. Sekarang kita buat jadwalnya ya ....., mau berapa kali
sehari ..... latihan memukul kasur dan
bantal serta tarik nafas dalam ini?”
“Besok pagi kita ketemu lagi kita akan
latihan cara mengontrol ..... dengan belajar bicara yang baik. Mau jam berapa
.....? Baik, jam ..... ya. Sampai jumpa”
|
c. SP 3 Pasien :
Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal:
1. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara
fisik
2. Latihan mengungkapkan rasa marah secara
verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan
baik.
3.
Susun
jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal
Orientasi
“Selamat.....,
sesuai dengan janji saya ..... sekarang kita
ketemu lagi”
“Bagaimana ....., sudah
dilakukan latihan tarik napas dalam dan pukul kasur bantal?, apa yang dirasakan
setelah melakukan latihan secara teratur?”
“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.”“Bagus. Nah kalau tarik nafas
dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya mandiri; kalau diingatkan
suster baru dilakukan tulis B, artinya
dibantu atau diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa
melakukan
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di .....?”
“Berapa lama ..... mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau .....?”
Kerja
“Sekarang kita latihan
cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Kalau marah sudah dusalurkan
melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka
kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya .....:
1. Meminta dengan baik tanpa
marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar.
Kemarin Bapak bilang penyebab marahnya larena minta uang sama ..... tidak
diberi. Coba ..... minta uang dengan baik:” ....., saya perlu uang untuk
membeli rokok.” Nanti bisa dicoba di sini untuk meminta baju, minta obat dan
lain-lain. Coba ..... praktekkan. Bagus ......”
2. Menolak dengan baik, jika
ada yang menyuruh dan ..... tidak ingin
melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada
kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus .....”
3. Mengungkapkan perasaan
kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal ..... dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah
karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan. Bagus”
Terminasi
“Bagaimana perasaan ..... setelah kita bercakap-cakap tentang cara
mengontrol marah dengan bicara yang baik?”
“Coba .....
sebutkan lagi cara bicara yang
baik yang telah kita pelajari”
“Bagus sekal, sekarang mari kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali sehari
bapak mau latihan bicara yang baik?, bisa kita buat jadwalnya?”
Coba
masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari, misalnya meminta obat, uang,
dll. Bagus nanti dicoba ya .....!”
“Bagaimana kalau dua jam lagi kita
ketemu lagi?”
“Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah ..... yaitu dengan cara ibadah, bapak setuju? Mau di
mana .....?
Di sini lagi? Baik sampai nanti ya
d. SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku
kekerasan secara spiritual
1)
Diskusikan
hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
2)
dan
sosial/verbal
3)
Latihan
sholat/berdoa
4)
Buat
jadual latihan sholat/berdoa
|
Orientasi
“selamat ....., sesuai dengan janji saya ..... sekarang
saya datang lagi” Baik, yang mana yang mau dicoba?”
“Bagaimana
.....,
latihan apa yang sudah dilakukan?Apa yang dirasakan setelah melakukan
latihan secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya”
“Bagaimana
kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu
dengan ibadah?”
“Dimana
enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?”
“Berapa lama ..... mau kita
berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?
Kerja
“Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa
...... lakukan! Bagus. Baik, yang mana mau dicoba?
“Nah, kalau .....
sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak
reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil
air wudhu kemudian sholat”.
|
“Coba ..... sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau coba
yang mana?Coba sebutkan caranya (untuk yang muslim)
Terminasi
Bagaimana
perasaan .....
setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?”
“Jadi sudah
berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”.
“Mari kita
masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan ...... Mau berapa kali ..... sholat. Baik kita masukkan sholat .......
dan ........ (sesuai kesepakatan
pasien)
“Coba bapak
sebutkan lagi cara ibadah yang dapat ..... lakukan bila bapak merasa marah”
“Setelah ini coba ..... lakukan jadwal sholat sesuai jadwal yang telah kita buat tadi”
“Besok kita
ketemu lagi ya ....., nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol rasa
marah, yaitu dengan patuh minum obat.. Mau jam berapa .....? Seperti sekarang saja, jam .....?”
“Nanti kita akan membicarakan cara
penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah .....,
setuju .....?”
|
e. SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku
kekerasan dengan obat
1)
Evaluasi
jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah dilatih.
2) Latih pasien minum obat
secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat,
benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai
penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.
3) Susun jadwal minum obat
secara teratur
Orientasi
“selamat .....,
sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi”
“Bagaimana ....., sudah
dilakukan latihan tarik napas dalam, pukul kasur bantal, bicara yang baik serta sholat?, apa yang
dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?. Coba kita lihat cek
kegiatannya”.
“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat
yang benar untuk mengontrol rasa marah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat
kemarin?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana .....”
Kerja (perawat membawa obat pasien)
“Bapak sudah dapat obat dari dokter?”
Berapa macam obat yang ..... minum? Warnanya apa saja? .....! Jam berapa ..... minum?
Bagus!
“Obatnya ada tiga macam ....., yang
warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar
pikiran tenang, yang putih ini namanya
THP agar rileks dan tegang, dan yang
merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah
berkurang. Semuanya ini harus bapak
minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 sian g, dan jam 7 malam”.
“Bila nanti setelah minum obat mulut ..... terasa kering,
untuk membantu mengatasinya ..... bisa mengisap-isap
es batu”.
“Bila terasa mata berkunang-kunang, ..... sebaiknya
istirahat dan jangan beraktivitas dulu”
“Nanti di rumah
sebelum minum obat ini .....
lihat dulu label di
kotak obat apakah benar nama ..... tertulis disitu, berapa dosis yang harus
diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah
benar? Di sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah benar
obatnya!”
“Jangan pernah menghentikan minum obat
sebelum berkonsultasi dengan dokter ya ....., karena dapat terjadi kekambuhan.”
“Sekarang kita
masukkan waktu minum obatnya kedalam jadwal ya ......”
Terminasi
“Bagaimana perasaan .....
setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar?”
“Coba bapak sebutkan
lagi jenis obat yang ..... minum!
Bagaimana cara minum obat yang benar?”
“Nah, sudah berapa
cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?. Sekarang kita tambahkan
jadual kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa laksanakan semua dengan
teratur ya”.
“Baik, Besok kita ketemu kembali untuk melihat
sejauh mana ….. melaksanakan kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah.
Sampai jumpa”
2. SP Keluarga
a. SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga
tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di rumah
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga
dalam merawat pasien
2) Diskusikan
bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda dan gejala,
perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)
3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi
pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat
Orientasi
“selamat ….., perkenalkan nama saya …..,saya perawat
dari ruang Soka ini, saya yang akan merawat bapak (pasien). Nama ibu siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita
berbincang-bincang sekarang tentang
masalah yang Ibu hadapi?”
“Berapa lama ibu kita
berbincang-bincang? Bagaimana kalau …..?”
“Dimana enaknya kita
berbincang-bincang, .......? Bagaimana kalau di .......?”
Kerja
“......., apa masalah yang .......hadapi/ dalam merawat .......? Apa yang .......
lakukan? Baik Bu, Saya akan coba jelaskan tentang marah ....... dan hal-hal
yang perlu diperhatikan.”“......., marah adalah suatu perasaan yang wajar tapi
bisa tidak disalurkan dengan benar akan membahayakan dirinya sendiri, orang
lain dan lingkungan. “Yang menyebabkan suami ....... marah dan ngamuk adalah
kalau dia merasa direndahkan, keinginan tidak terpenuhi. Kalau ....... apa
penyebabnya .......?” “Kalau nanti wajah .......tampak tegang dan merah, lalu
kelihatan gelisah, itu artinya .......sedang marah, dan biasanya setelah itu ia
akan melampiaskannya dengan membanting-banting perabot rumah tangga atau
memukul atau bicara kasar? Kalau apa perubahan terjadi? Lalu apa yang biasa dia
lakukan?””“Bila hal tersebut terjadi sebaiknya .......tetap tenang, bicara
lembut tapi tegas, jangan lupa jaga jarak dan jauhkan benda-benda tajam dari
sekitar bapak seperti gelas, pisau. Jauhkan juga anak-anak kecil dari ........”
“Bila ....... masih marah dan ngamuk segera bawa ke puskesmas atau RSJ
setelah sebelumnya diikat dulu (ajarkan
caranya pada keluarga). Jangan lupa minta bantuan orang lain saat mengikat
bapak ya bu, lakukan dengan tidak menyakiti ....... dan dijelaskan alasan
mengikat yaitu agar .......tidak mencedari diri sendiri, orang lain dan
lingkungan”
“Nah ......., ....... sudah lihat khan apa yang saya ajarkan kepada .......bila
tanda-tanda kemarahan itu muncul. ....... bisa bantu ....... dengan cara
mengingatkan jadual latihan cara mengontrol marah yang sudah dibuat yaitu
secara fisik, verbal, spiritual dan obat teratur”.
“Kalau .......bisa melakukan latihannya dengan baik jangan lupa dipujiya .......”.
Terminasi
“Bagaimana perasaan ....... setelah kita bercakap-cakap tentang cara
merawat .......?”“Coba ibu sebutkan lagi cara merawat .......”
“Setelah ini coba ibu ingatkan jadwal yang telah dibuat untuk .......”
“Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang
telah kita bicarakan tadi langsung kepada .......?”
“Tempatnya disini saja lagi ya.......?”
b. SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan
cara-cara mengontrol Kemarahan
1) Evaluasi pengetahuan keluarga tentang
marah
2) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien
melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat
3)
Ajarkan
keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan
kegiatan tersebut secara tepat
4)
Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan
bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan
Orientasi
“Assalamualaikum …… sesuai dengan janji kita 2 hari
yang lalu sekarang kita ketemu lagi untuk latihan cara-cara mengontrol rasa
marah …….”
“Bagaimana ……? Masih ingat diskusi kita yang lalu?
Ada yang mau Ibu tanyakan?”
“Berapa lama ibu mau
kita latihan?”
“Bagaimana kalau kita
latihan di……?, sebentar saya
panggilkan …… supaya bisa berlatih
bersama”
Kerja
”Nah ...., coba ceritakan kepada ...., latihan yang sudah .... lakukan.
Bagus sekali. Coba perlihatkan kepada .... jadwal harian ....! Bagus!”
”Nanti di rumah ibu bisa membantu ....k latihan mengontrol kemarahan .....”
”Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya ....?”
”Masih ingat ...., bu kalau
tanda-tanda marah sudah ....rasakan maka yang harus dilakukan ....
adalah.......?”
”Ya.. betul, ...... berdiri, lalu tarik napas dari
hidung, tahan sebentar
lalu keluarkan atau tiup
perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi,
tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali,
coba ibu temani dan bantu bapak menghitung latihan ini sampai 5 kali”.
“Bagus sekali, .......dan
...... sudah bisa melakukannya dengan baik”.
“Cara yang kedua masih
ingat ......?”
“ Ya..benar, kalau ada
yang menyebabkan ...... marah dan muncul
perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam ...... dapat melakukan pukul
kasur dan bantal”.
“Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan
bantal. Mana kamar
......? Jadi kalau
nanti ...... kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan
tersebut dengan memukul kasur dan bantal.
Nah, coba ...... lakukan
sambil didampingi ibu, berikan ...... semangat ya ....... Ya, bagus sekali
......melakukannya”.
“Cara yang ketiga
adalah bicara yang baik bila sedang marah. Ada tiga caranya ......, coba
praktekkan langsung kepada......cara bicara ini:
1. Meminta dengan baik tanpa
marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar,
misalnya: ‘......, Saya perlu uang untuk beli rokok! Coba ...... praktekkan.
Bagus ......”.
2. Menolak dengan baik, jika
ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak
bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus ......”
3. Mengungkapkan perasaan
kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal ...... dapat
mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan.
Bagus”
“Cara berikutnya
adalah kalau ...... sedang marah apa yang harus dilakukan?”
“Baik sekali, bapak
coba langsung duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak reda juga marahnya
rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu kemudian
sholat”.
“...... bisa melakukan
sholat secara teratur dengan didampingi ibu untuk meredakan kemarahan”.
“Cara terakhir adalah minum obat teratur ya pak, bu agar pikiran ...... jadi
tenang, tidurnya juga tenang, tidak ada
rasa marah”
“...... coba
jelaskan berapa macam obatnya! Bagus. Jam berapa minum obat? Bagus. Apa guna
obat? Bagus. Apakah boleh mengurangi atau menghentikan obat? Wah bagus sekali!”
“Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang ......dapatkan,
ibu tolong selama di rumah ingatkan ...... untuk meminumnya secara teratur dan jangan dihentikan
tanpa sepengetahuan dokter
Terminasi
“Baiklah......, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah
kita latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada ......?”
“Bisa...... sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah?”
“Selanjutnya tolong pantau dan motivasi ...... melaksanakan jadwal latihan yang
telah dibuat selama di rumah nanti. Jangan lupa berikan pujian untuk ...... bila
dapat melakukan dengan benar ya ......!”
“ Karena ......sebentar
lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi Ibu bertemu saya untuk
membicarakan jadwal aktivitas ......selama di rumah nanti.”
“Jam ......ya Bu.
Di .......”
SP 3 Keluarga: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Orientasi
“Assalamualaikum ......karena
besok ...... sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita sekarang ketemu
untuk membicaarakan jadwal ......selama dirumah”
|
“Bagaimana ......, selama ...... membesuk
apakah sudah terus dilatih cara merawat ......? Apakah sudah dipuji
keberhasilannya?”
“Nah sekarang
bagaimana kalau bicarakan jadwal di rumah, disini saja?”
“Berapa lama bapak
dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana ......?”
Kerja
“……., jadwal yang telah dibuat selama …….di rumah
sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadual aktivitas maupun jadwal minum
obatnya. Mari kita lihat jadwal …….!”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan
lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh bapak selama di rumah.
Kalau misalnya ....... menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku
membahayakan orang lain. Jika hal ini
terjadi segera hubungi Suster ...... di Puskesmas ......, puskesmas terdekat
dari rumah ......, ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx. “Jika tidak
teratasi ...... akan merujuknya ke .......”
“Selanjutnya suster ......
yang akan membantu memantau perkembangan ......selama di rumah
Terminasi
“ Bagaimana ......?
Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan apa saja yang perlu diperhatikan
(jadwal kegiatan, tanda atau gejala, follow up ke Puskesmas). Baiklah,
silakan menyelesaikan administrasi!”
“Saya akan
persiapkan pakaian dan obat.”
|
2.3.7 Evaluasi
Menurut Trimelia, 2011 evaluasi
dilakukan dengan berfokus pada perubahan perilaku klien setelah diberikan
tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi kerena merupakan sistem
pendukung yang penting.
A.
Apakah klien dapat mengenal halusinasinya, yaitu isi halusinasi, situasi,
waktu dan frekuensi munculnya halusinasi
B. Apakah
klien dapat mengungkapkan perasaannya
ketika halusinasi muncul
C. Apakah
klien dapat mengontrol halusinasinya
dengan menggunakan empat cara, yaitu menghardik, menemui orang lain dan bercakap-cakap,
melaksanakan aktifitas yang terjadwal dan patuh minum obat.
D. Apakah
klien dapat mengungkapkan perasaannya mempraktikkan
empat cara mengontrol halusinasi.
E.
Apakah klien dapat memberdayakan sistem pendukungnya atau keluarganya untuk mengontrol halusinasinnya.
F.
Apakah klien dapat mematuhi minum obat.

Salsa Habanero Blue Martini Golden Nugget - Shootercasino カジノ シークレット カジノ シークレット 제왕카지노 제왕카지노 10cric 10cric 636Red Rock Suite Prices | Casino in Las Vegas | Foursquare
BalasHapus